Sebagai bangsa ras terdepan yang sudah berpemikiran maju, kita sebagai generasi Tionghoa tidak seharusnya mempercayai hal-hal berbau tahayul yang fiktif dalam mencapai kesusksesan. Dari sebelum berdirinya rejim republik, di Tiongkok sudah terkenal prinsip “Shí Shì Qiú Shì (实事求是)” sebagai ideologi berpikir bangsa Tiongoha yang mengedepankan logika dan usaha nyata kerja keras, bukan percaya hal berbau tahayul fiktif. Prinsip inilah yang kemudian menjadi dasar gerakan Revolusi Budaya Tiongkok (大文化革命), dimana segala produk gagal bangsa Tionghoa yang berbau kepercayaan mitos tahayul diberantas total, digantikan ideology modern. Revolusi Budaya Tiongkok juga pada dasarnya mengandung nilai-nilai patriotik Tionghoa dalam menetang asimilasi kawin campur Amoi dengan lelaki ras lain.
Namun sangat disayangkan, banyak Tionghoa di Indonesia yang justru tidak mengenal prinsip Revolusi Budaya Tiongkok, sehingga seringkali mereka memakai cara primitif untuk mencapai keberhasilan. Salah satunya seperti saya temukan pada kasus kriminal asimilasi yang tragis ini, dimana seorang wanita Amoi pengusaha yang justru memakai jasa seorang dukun guru spiritual, terlebih dukun tersebut adalah seorang Fankui tua. Bukan kesuksesan yang ia dapatkan, malah terpaksa meregang nyawa akibat ritual gila yang dilakukan dukun Fankui tersebut. Ritual ini dilakukan secara privat dalam hotel, jadi kemungkinan besar Amoi tersebut sudah disetubuhi dukun Fankui tersebut dalam proses ritual. Adapun inilah kronologis berita yang saya temukan di internet.
KEBON JERUK (Pos Kota) – Wanita pengusaha konveksi dibunuh. Wanita keturuan ini terkapar di ranjang Hotel Transit Tomang, Jalan Ajuna Utara, Jakarta Barat. Tubuhnya dibalut selimut merah putih. Lehernya digorok. Sedangkan kedua tangannya diikat tali rafia, Jumat (14/10) siang.
Kematian Martini, 37, diketahui sekitar Pk. 13:00 ketika petugas hotel memeriksa kamar E 412, ruang deluxe bertarif Rp350.000 semalam. Petugas Polsek Kebun Jeruk dan Polres Jakarta Barat memburu seorang lelaki, teman dekat korban.
“Identitas pria yang terakhir bersama korban ini sudah kami ketahui. Petugas sudah disebar untuk memburunya,” tegas Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat, AKBP Hengky Haryadi MH.
Budi, pegawai hotel mengatakan, siang itu ia mengetuk pintu kamar yang ditempati korban. Tapi ketukan berulang-ulang tak juga mendapat sahutan dari dalam. Pemuda 21 tahun itu mengajak teman sekerjanya, Suhaimi, 23, untuk membuka pintu kamar dengan kunci duplikat.
Setelah pintu terbuka, mereka mendapati ruangan gelap. Lampu pun dihidupkan. Mereka kaget melihat seorang wanita berkulit putih tertelungkup. Tubuhnya tertutup berselimut merah putih. Wanita yang mengenakan baju krem dan celana krem sebatas lutut itu tak lagi bernafas.
Budi bergegas melaporkan peristiwa ini ke managemen hotel. Kemudian diteruskan ke Polsek Kebon Jeruk dan Polres Jakarta Selatan. Mayat amoy itu dibiarkan terkapar di ranjang, karena pegawai hotel menunggu petugas memeriksa.
Polisi datang ke hotel. Mereka mendapati janda satu anak itu sudah tak bernyawa. Dalam tas korban ditemukan KTP atas nama Martini yang tinggal di Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat.
Bukan Selimut Hotel
Di garasi depan pintu kamar, petugas menemukan mobil Daihatsu Xenia merah B 1359 BOK. Mobil diduga milik Martini. Dalam kendaraan itu terdapat bantal bangku bermotif kotak-kotak merah putih. Di pinggir kamar hotel, petugas mendapati sepatu olahraga yang diperkirakan milik pelaku.
“Kain merah putih yang digunakan menyelimuti korban bukan milik hotel. Diperkirakan sudah dibawa pelaku,” kata Kasat AKBP Hengky Haryadi. Selepas pemeriksaan, jenazah dikirim ke RSCM untuk diotopsi.
Diketahui, korban janda satu anak lelaki 7 berusia tahun. Martini pengusaha konveksi di Tambora, Jakarta Barat. Untuk melengkapi bahan penyelidikan, Yanti, 24, pembantu korban, dibawa ke kantor polisi.
Andre, resepsionis hotel mengatakan, Martini chek in ke Hotel Transit Tomang pada Kamis (13/9) sekitar Pk. 19.30. Wanita itu datang bersama pria yang umurnya sekitar 50 tahun. “Mereka naik mobil, diparkir di samping hotel,” katanya.
Guru Spiritual Korban, Pembunuh Amoy Ditangkap di Bogor
KEBON JERUK (Pos Kota) – Pembunuh Amoy berhasil ditangkap petugas Polres Jakarta Barat, Sabtu (15/9/2012) dinihari di tempat persembunyiannya di kawasan Semplak, Bogor, Jawa Barat. Guru spritual korban asal Aceh, yang akrab dipanggil Datuk, 60, kini meringkuk dalam pemeriksaan lebih mendalam di mapolres.
Korban Martini, 37, pengusaha konveksi disebut-sebut sudah lama kenal dengan tersangka. Diduga Motif perampokan karena ada sejumlah uang milik korban yang diambil pelaku, namun data lebih rici belum diperoleh, sebab tersangka masih dalam pemeriksaan petugas.
Sebagai mana diberitakan, Amoy ini ditemukan Jumat (14/9/2012) dalam posisi terkapar di ranjang Hotel Transit Tomang, Jalan Ajuna Utara, Jakarta Barat. Tubuhnya dibalut selimut merah putih. Leher korban luka akibat digorok, sementara kedua tangannya diikat tali rafia.
Kematian Martini, 37, diketahui sekitar Pk. 13:00 ketika petugas hotel mendapatinya tak bernyawa di kamar E-312 (Bukan E 412), ruang deluxe bertarif Rp 350.000 semalam.
Budi, pegawai hotel yang dimintai keterangan oleh petugas, mengatakan siang itu ia mengetuk pintu kamar yang ditempati korban. Tapi ketukan berulang-ulang tak juga mendapat sahutan dari dalam. Pemuda 21 tahun itu mengajak teman sekerjanya, Suhaimi, 23, untuk membuka pintu kamar dengan kunci duplikat.
Setelah pintu terbuka, mereka mendapati ruangan gelap. Lampu pun dihidupkan. Mereka kaget melihat seorang wanita berkulit putih tertelungkup. Tubuhnya tertutup berselimut merah putih. Wanita yang mengenakan baju krem dan celana krem sebatas lutut itu tak lagi bernafas.
Budi bergegas melaporkan peristiwa ini ke managemen hotel. Kemudian diteruskan ke Polsek Kebon Jeruk dan Polres Jakarta Selatan. Mayat amoy itu dibiarkan terkapar di ranjang, karena pegawai hotel menunggu petugas memeriksa. Polisi datang ke hotel. Mereka mendapati janda satu anak itu sudah tak bernyawa. Dalam tas korban ditemukan KTP atas nama Martini yang tinggal di Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat.
Bukan Selimut Hotel
Di garasi depan pintu kamar, petugas menemukan mobil Daihatsu Xenia merah B 1359 BOK. Mobil diduga milik Martini. Dalam kendaraan itu terdapat bantal bangku bermotif kotak-kotak merah putih. Di pinggir kamar hotel, petugas mendapati sepatu olahraga yang diperkirakan milik pelaku.
“Kain merah putih yang digunakan menyelimuti korban bukan milik hotel. Diperkirakan sudah dibawa pelaku,” kata Kasat Reskrim Jakarta Barat, AKBP Hengky Haryadi S.Ik, MH
Selepas pemeriksaan, jenazah dikirim ke RSCM untuk diotopsi. Diketahui, korban janda satu anak lelaki 7 berusia tahun. Martini pengusaha konveksi di Tambora, Jakarta Barat.
Andre, resepsionis hotel mengatakan, Martini chek in ke Hotel Transit Tomang pada Kamis (13/9) sekitar Pk. 19.30. Wanita itu datang bersama pria yang umurnya sekitar 50 tahun. “Mereka naik mobil, diparkir di samping hotel,” katanya.
Kapolres Jakarta Barat, Kombes Polisi Suntana, didampingi Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat, AKBP Hengki Haryadi, membenarkan penangkapan tersangka pelaku pembunuhan pengusaha konveksi. Sekarang dalam tahap pemeriksaan lebih intensif.

