Bangsa ras Fankui pada umumnya berwatak pemalas, itu sudah menjadi sifat dasar mereka. Biasanya mereka akan sangat mengharapkan pemberian uang secara gratis dari bangsa Tionghoa yang dianggap menumpang di negerinya. Bilamana menjelang Imlek dimana banyak Tionghoa yang mendapat kangtau dari pekerjaan mereka, para Fankui umumnya berharap bisa mendapatkan sebagain dari rejeki yang didapat orang Tionghoa itu, baik dari tindakan hina minta-minta pada majikan Tionghoa, mengemis di depan kelenteng dan vihara, hingga melakukan aksi nekad menjarah uang dan harta milik Tionghoa. Bagi para Fankui, kalau perut lapar, persetan dengan harga diri dan rasa malu. Pikirannya pun jadi pendek. Yang penting bisa jarah beberapa karung beras dan melampiaskan kemarahan dengan membakar rumah orang Tionghoa. Mereka tak memikirkan lagi dampak jangka panjang dan citra diri bangsa mereka.
Berikut ini saya temukan sebuah berita penjarahan yang dilakukan Fankui terhadap seorang gadis Amoi Tionghoa menjelang Imlek. Banyak Amoi muda awam yang beranggapan kalau lelaki Fankui biasanya tidak akan melakukan kekerasan (kriminal) pada wanita, mengingat sikap mereka yang seringkali ramah pada wanita Amoi, yang pada akhirnya justru berupa flirting cabul. Padahal ini semua hanyalah akal-akalan mereka ingin mendapat perhatian dari para Amoi. Secara realitas justru bangsa bermental pengecut seperti Fankui ini akan mencari korban yang lemah, yaitu wanita. Jadi, bagi para Amoi sebaiknya jangan pernah berangapan “tidak semua Fankui jahat” dan lengah pada situasi yang membahayakan, sampai sebegitu murahan mau menerima pertemanan dengan lelaki Fankui.
Medan Barat, Jam 22.00 WIB – Niat merayakan hari raya Imlek bersama keluarga terpaksa batal. Thing Thing alias Tini (27) sekarat dilarikan ke rumah sakit. Thing Thing menderita luka serius dikepalanya akibat terjungkal dari atas betor. Itu terjadi saat Thing-Thing berusaha mempertahankan tas sandang miliknya ketika dirampok dua pria mengendarai kereta.
Aksi perampokan itu terjadi Jumat (8/2) sekira jam 10.00 wib di ruas Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat. Ceritanya, pagi itu Thing Thing bersama ayahnya, Long San hendak pulang kampung ke Rantau Prapat. Dengan menumpang betor, ayah dan anak ini menuju ke Stasiun Besar Kereta Api di Jalan Stasiun Kereta Api. Naas, saat betor yang ditumpangi mereka melintas di TKP, dua pria mengendarai kereta memepet dan langsung merampas tas sandang yang dipegang Thing Thing.
Tak ingin tasnya dibawa kabur, wanita yang ngekos di Jalan Brigjen Katamso, Gang Tangsi, Kecamatan Medan Maimun inipun berusaha melawan. Aksi tarik-tarikan pun sempat terjadi. Namun, karena kalah kuat, Thing Thing terpental dari atas betor dan terhempas ke badan jalan. Kepalanya membetur aspal, darah segar pun mengucur deras. Sementara kedua pelaku langsung kabur melarikan diri.
Karena berdarah, Thing Thing langsung dilarikan ke RSU Materna untuk mendapat perawatan medis. “Tadinya Thing Thing dan ayahnya hendak ke Rantau Prapat. Ibunya baru setahun meninggal dan dikubur di sana, jadi mereka mau pulang ke sana untuk sembayang,” jelas Rena, teman korban saat di ruang ICU RSU Materna, Sabtu (9/2) sekira jam 13.00 wib.
Belakangan, informasi yang diperoleh, tas sandang milik Thing Thing yang berisi hape dan kartu ATM berhsil ditemukan warga dan diserahkan ke temannya di rumah sakit. Namun, belum tau barang apa saja yang hilang dari dalam tas itu. “Dia baru dapat THR, dia cuti Imlek mulai hari Sabtu sampai tanggal 14 nanti,” jelas Rena lagi.
Di tempat terpisah, Kapolsek Medan Barat, Kompol Nasrun Pasaribu Sik saat dikonfirmasi mengaku jika pihaknya telah turun ke TKP dan melakukan penyelidikan. “Anggota sudah turun ke TKP dan mengambil keterangan sejumlah warga, tapi sampai saat ini pihak korban belum ada yang membuat pengaduan,” jelas Nasrun Pasaribu.
Medan - Seorang perempuan korban perampokan di Medan, akhirnya meninggal dunia. Dia sempat dirawat di rumah sakit, namun tim dokter tak berhasil menyelamatkan nyawanya karena luka yang cukup parah.
Korban Thing Thing alias Tini (27) meninggal dunia di Rumah Sakit Umum (RSU) Materna, Jalan Teuku Umar, Medan, Selasa (12/2/2013). Pihak keluarga dan kerabat yang berduka dengan kemalangan ini menyatakan, rencananya jenazah korban akan disemayamkan di balai Angsa Pura, Medan.
“Kita berharap polisi segera menangkap pelaku perampokan,” kata Hasan (30), salah seorang rekan korban di RS Materna.
Kasus perampokan yang dialami Tini terjadi pada Sabtu (9/2/2013) sekitar pukul 22.00 WIB di Jalan Ahmad Yani, Medan. Saat itu korban bersama ayahnya Long San (70) sedang naik becak dari Jalan Brigjen Katamso menuju Stasiun Besar Kereta Api Medan. Rencananya mereka akan pulang merayakan Imlek ke Rantau Prapat, Kabupaten Labuhan Batu.
Saat melintas di lokasi kejadian, datang dua pria yang naik sepeda motor dan merampas tas yang dipegang Tini. Korban yang berusaha mempertahankan tasnya terjatuh dari becak dan terhempas ke aspal. Pelaku perampokan kemudian melarikan diri.
Warga membawa korban beserta ayahnya yang cukup renta ke rumah sakit. Tetapi luka di bagian kepala Tini ternyata cukup parah, hingga akhirnya meninggal dunia. Polsekta Medan Barat yang menangani kasus ini masih melakukan penyelidikan dan belum berhasil menangkap pelaku perampokan tersebut.
.jpg)
.jpg)