Maoisme dan Revolusi Budaya Mencegah Kawin Campur Amoi dan Lelaki Non-Tionghoa






Pada dasarnya ada tiga faktor utama penyebab asimilasi wanita Amoi dengan lelaki Fankui (non-Tionghoa), yaitu :
1. Pengaruh NASIONALISME BANGSA RAS LAIN, misal cekokan ideologi Sumpah Pemuda, dimana Tionghoa dikategorikan satu bangsa dengan Fankui.
2. Pengaruh AGAMA SAMAWI, prinsip menikah asal seiman tak masalah beda ras, lalu pembodohan  “semua manusia sama di mata (si fiktif) Tuhan”. Inilah yang menutupi fakta kecabulan para Fankui.
3. Pengaruh KAPITALISME, dimana ajaran mendewakan uang ini membuat Amoi mau kawin dengan lelaki ras mana saja asal punya banyak uang.

Bila kita hendak mengajak saudari-saudari Amoi kita menghindari asimilasi kawin campur dengan lelaki Fankui secara maksimal, setidaknya para Amoi di Indonesia harus diberi pengarahan untuk melawan dan menolak tiga poin berbahaya tersebut. Caranya itu dengan pendidikan moral pemikiran  “great revolution” ketua Mao Zedong, terutama nilai-nilai moral dari Revolusi Budaya Tiongkok  (大文化革命) yang membuat para Amoi bisa berpikir logis tentang bahaya pembodohan lewat cekokan agama (terutama doktrin Samawi “saudara seiman”) dan pembodohan ideologi demokrasi oleh antek-antek kapitalis Qiaosheng yang pro-asimilasi dengan Fankui. Memang bisa kita lihat moral para Amoi di Indonesia sangat jatuh, mudah terjebak asimilasi dengan lelaki Fankui (atau non-Tionghoa lain). Ini memang pengaruh saat era Orde Baru si rasis-fasis Suharto membendung ajaran komunisme Tionghoa (Maoisme) menyebar ke kalangan Tionghoa di Indonesia. Padahal apa yang dipikirkan ketua Mao itu untuk kebaikan orang Tionghoa juga dimanapun itu, bukan sekedar Tionghoa di daratan Tiongkok, namun termasuk kita para Tionghoa overseas.

Berbicara soal Tionghoa yang fanatik brutal pada mitos deity agama tertentu, bisa kita analisa lagi sebenarnya agama itu sendiri hanya sejenis ilmu ajaran moral, bukan sesuatu yang harus dipercaya mitosnya. Makanya saya selalu katakan, saya bisa sejalan dengan Tionghoa agama manapun, kecuali dengan Tionghoa Muallaf (yang rata-rata sudah memuja negeri Arab) dan Tionghoa yang anti Revolusi Budaya Tiongkok, juga anti Partai Komunis Tiongkok (共产党). Biasanya Tionghoa yang anti Revolusi Budaya adalah mereka yang bermental pesakitan mirip Fankui, selalu berharap ingin dapat rejeki pemberian mahluk gaib tanpa mau bekerja keras. Biasanya juga Tionghoa bodoh yang anti Revolusi Budaya adalah mereka yang tak bisa diatur, liar, dan brutal. Menginginkan demokrasi liar untuk melakukan tindakan memalukan negeri leluhur Tiongkok dan martabat bangsa Tionghoa, misal seperti asimilasi kawin campur Amoi dengan lelaki non-Tionghoa. Jelas sekali, dari percobaan statistik saya, mayoritas dari Tionghoa bodoh yang anti Revolusi Budaya adalah mereka yang pro asimilasi kawin campur, terutama demi menyebarkan ajaran agama asing yang baru mereka adopsi.

Bukan Kristen atau Katolik saja, saya katakan Tionghoa penganut Falun Gong, Yi Guan Dao, Theravada, maupun Konghucu versi Indonesia (yang sudah tercampur Khua Mia mistik), dan lainnya, mereka semua sama brengseknya dengan Qiaosheng Kristen, bila sudah membenci pemerintahan resmi Republik Rakyat Tiongkok. Kita fair saja, kalau Jesus dibilang fiktif, produk Tiongkok purba yang memunculkan banyak dewa pun harus dikategorikan fiktif semua. Tinggal bagaimana kita memandang, mau dianggap kekayaan budaya atau tahayul pelampiasan stess.

Mengenai pengaruh negatif shamanisme purba Tiongkok terhadap konteks kehidupan Tionghoa modern, pada dasarnya saya sangat tidak setuju bila lelaki Akhew Tionghoa menjadi Bhante atau wanita Amoi di-brainwash agar menjadi Chai Ma yang harus men-jomblo seumur hidup. Ini kejahatan membunuh naluri hidup manusia. Bagi saya ini sama dengan racun pemusnahan Tionghoa, sama bahayanya dengan proses asimilasi paksa. Memang balik lagi, perlu sebuah Revolusi Budaya untuk melenyapkan kepercayaan-kepercayaan tradisional bodoh macam ini. Paksaan manusia meninggalkan keduniawian menadi Bhante itu ajaran India, bukan budaya Tionghoa. Pernahkah anda pikirkan mengapa India pembuat agama nibhana ini tidak bisa maju seperti Tiongkok PRC? Bahkan timbul pertanyaan mengapa India sebagai negara pembuat agama ini malah di negara dia sendiri agama ini tidak populer dan malah produknya berkembang di Tiongkok? Sebetulnya mudah saja diketahui alasannya. Orang India hanya bisa berteori “kosong adalah berisi, berisi adalah kosong”, namun kita Tionghoa selalu berpikir “bagaimana membuat kosong jadi berisi”. Itulah kenapa Tionghoa bisa lebih unggul dari ras-ras lain. Apakah anda mau terseret pembodohan ajaran anti-duniawi dari India ini?

Bagi saya, Akhew yang jadi Bhante sama bodohnya dengan yang jadi Homosexual, mereka sekumpulan orang yang hanya mementingkan fantasi sendiri, egois, tak peduli akan nasib bangsa Tionghoa. Kalau kaum Homo punya fantasi bermesraan dengan lelaki tampan, maka Bhante pun sama gilanya punya fantasi ingin terlahir di Nibhana dan jadi dewa. Jelas fantasi gila ini membuat mereka tak mau lagi memperbanyak turunan bangsanya. Persentase jumlah Akhew Tionghoa di Indonesia lebih sedikit berbanding jumlah Amoi. Jadi andaikata saja kalau 20% dari populasi Akhew menjadi Bhante, jelas makin banyak Amoi terasimilasi kawin dengan lelaki ras lain, terutama Fankui. Semakin banyak lelaki Akhew yang menjadi Bhante, maka akan semakin memudahkan lelaki Fankui dan non-Tionghoa lainnya untuk melakukan flirting pada wanita Amoi yang bisa dipastikan mau meladeni gombalan lelaki non-Tionghoa akibat kurang stock lelaki Akhew dalam tubuh masyarakat Tionghoa.