Fantasi Cabul Bapak Bangsa Fankui Pada Fisik Amoi


Dari banyaknya kasus-kasus inferioritas bangsa ras Fankui yang ingin berkawin campur dengan ras lain, kita dapat melihat bahwa di era modern pun bangsa Fankui ini tetap masih berjiwa Inferior Complex, dimana mereka sama sekali tidak memiliki kebanggan atas fisik asli ras-nya, selalu berusaha menaklukan ras lain lewat wanita. Salah satunya mereka berpikir dengan bisa menyetubuhi wanita Amoi Tionghoa, maka mereka sudah berhasil melecehkan martabat etnik Tionghoa, dan mereka menjadi kaum mayoritas penguasa. Namun sayang sekali, di mata dunia internasional, bangsa Fankui tetaplah dipandang rendah. Tidak ada prestasi signifikan tingkat dunia yang bisa diraih ras Fankui atas nama Indonesia. Apakah ini karena bangsa Fankui tidak memiliki pemimpin yang cerdas, handal, dan bijaksana? Ataukah memang karena watak bangsa Fankui yang memang barbar dan sulit diatur?

Sebenarnya sepanjang sejarah perjalanan bangsa Fankui, mereka pernah sekali memiliki pemimpin yang cerdas, yaitu Sukarno. Saya bilang orang ini lumayan juga kalau dibandingkan pemimpin Fankui lain seperti Diponegoro, Imam Bojol, Patimura, dan lainnya. Minimal orang ini saya bilang kualitas otaknya masih tiga perempat dari otak Mao Zedong yang cerdas, minimal dia masih waras tak mudah ditipu Belanda, lalu bisa baca kondisi negara yang saat itu berpenduduk banyak dan minim edukasi (warga negara Indonesia yang ras Fankui), tentunya ideologi komunisme sangat cocok untuk Indonesia saat baru merdeka. Tak heran dia begitu terobsesi mendekati Tiongkok untuk jadi sahabat Indonesia. 

Namun sekali lagi, sepintar apapun pemimpinnya, kalau rakyat-rakyatnya sendiri memang terbelakang inferior seperti Fankui, malah mereka lebih memilih hasutan mitos fiktif bangsa Arab untuk menolak komunisme dan membuang Suakrno sebagai bapak bangsa mereka, lalu malah percaya pada Suharto si penipu rakyat. Adapun sepintar-pintarnya otak Sukarno, saya lihat beliau ini masih mewarisi genetik cabul Fankui. Ini terbukti dari keinginan beliau punya banyak istri di saat yang bersamaan. Malah pernah saya baca sebuah catatan harian Sukarno, dia memang punya fantasi seksual pada wanita bermata sipit kulit kuning langsat. Namun saat itu Sukarno yang berideologi komunis itu dekat hubungan nya dengan ketua Mao, bisa dibilang sebagai kawan baik. Ketua Mao pernah menyuruh Sukarno melindungi rakyat Tionghoa di Indonesia dari bahaya asimilasi kawin campur dan genosida budaya. Sehingga Sukarno ini ada rasa sungkan pada Tiongkok dan ras Tionghoa, dia tak berani meng-asimilasi (mengawini) Amoi Tionghoa

Sebagai pelampiasan, maka dipilihlah wanita Jepang (yang fisiknya serupa Tionghoa) untuk dia asimilasi dijadikan isteri barunya. Kebetulan pada tahun 60-an saat itu banyak Amoi Jepang geisha (seniman yang merangkap sebagai pelacur) yang menjual diri ke lelaki asing ras lain. Seorang geisha Jepang bernama Naoko Nemoto (根本 七保子 / ねもと なおこ) dicaplok lah oleh Sukarno saat geisha itu cari pelanggan di Hotel Imperial, Tokyo. Para Fankui jadi merasa menang atas Jepang, seakan bilang “Ini bapak bangsa-ku berhasil meniduri wanita milik bangsa asing imperialis.”

Adapun bagi bangsa Fankui sendiri, memiliki “Ibu Bangsa” yang berprofesi  tak lazim sebagai pelacur dan seniman telanjang, malah menjadi suatu kebanggan. Bagi bangsa Fankui yang masih primitif, faktor cantik dan seksi (apalagi sampai murahan telanjang) dari public figure wanita itu jauh lebih membanggakan ketimbang intelegensi dan kepintaran (inner beauty). Ini memang tak jauh dari peradaban terbelakang bangsa Fankui yang teribasa dengan prostitusi

Dari fenomena ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa sepintar-pintarnya seorang lelaki Fankui  sampai sekelas Sukarno pun pada dasarnya memiliki genetik sifat dasar Fankui yang sama. Mereka akan tetap memandang wanita (terutama ras kuning) menjadi suatu fantasi cabul gila tak lazim. Oleh karena itu kita sebagai wanita Amoi Tionghoa harap memperhatikan hal ini. Jangan mudah tertipu oleh bujukan kawin campur dengan lelaki Fankui, sekalipun secara kasat mata lelaki Fankui itu nampak sangat pintar. Intinya, kita sebagai wanita Tionghoa jangan sampai membunuh satu generasi Tionghoa dengan memilih pasangan lelaki Fankui atau non-Tionghoa lain. Karena kita bangsa Tionghoa menganut sistem patrilinear, maka anak dari pasangan haram ayah non-Tionghoa dan ibu Tionghoa jelas tak memiliki marga parilinear Tionghoa, sehingga secara status dia bukan orang Tionghoa.