Sudah layak sekali bila hasrat para lelaki Fankui untuk bersetubuh dengan wanita Tionghoa ini dikatakan sebagai suatu kelainan fantasi seksual yang tidak wajar. Ini bisa dibuktikan dengan keinginan dan ambisi umum para lelaki Fankui bersenggama dengan Amoi sekalipun pada awalnya tidak berniat bersetubuh dengan Amoi. Jika ada kesempatan menyetubuhi wanita Amoi, maka kesempatan ini tak akan disia-sikan lelaki Fankui. Adapun faktor ingin mengambil harta si Amoi pun akan memperkuat motivasi busuk lelaki Fankui dalam menyetubuhi wanita Amoi. Karena sulit untuk merealisasikan senggama dengan wanita Amoi lewat pendekatan halus, maka sering pula para Fankui melakukan tindak pemerkosaan untuk bisa menikmati keperawanan wanita Amoi.
Berikut ini ada sebuah kisah nyata aksi perampokan dan pembunuhan yang dilakukan seorang lelaki Fankui pada sekeluarga Tionghoa, yang juga kebetulan keluarga Tionghoa malang itu memiliki seorang puteri gadis remaja Amoi. Puteri korban seorang Amoi berusia 22 tahun berniat diperkosa lelaki Fankui tersebut sebelum akhirnya dibunuh secara kejam. Kejadian ini memperkuat bukti kalau hampir semua lelaki ras terbelakang Fankui ini memiliki fantasi tak wajar pada wanita Amoi Tionghoa. Para sister Amoi seluruh Indonesia wajib membaca kisah nyata berikut ini. Kisah nyata seperti ini jarang dipublish di media, sehingga diharapkan cerita pemerkosaan ini sedikitnya bisa meningkatkan kewaspadaan para cie-cie mei-mei kita akan kecabulan lelaki Fankui, disarankan para Amoi tidak terlalu sering bepergian malam dan sendirian. Bahaya selalu mengancam nyawa kalian para Amoi bila tak waspada pada binatang-binatang biadab ras barbar ini, apalagi bila sampai terlibat hubungan percintaan dengan mereka. Jangan sesekali berspekulasi "tak semua Fankui jahat" dan lengah pada situasi yang membahayakan. Adapun inilah kronologis berita yang saya temukan di internet.
Berikut ini ada sebuah kisah nyata aksi perampokan dan pembunuhan yang dilakukan seorang lelaki Fankui pada sekeluarga Tionghoa, yang juga kebetulan keluarga Tionghoa malang itu memiliki seorang puteri gadis remaja Amoi. Puteri korban seorang Amoi berusia 22 tahun berniat diperkosa lelaki Fankui tersebut sebelum akhirnya dibunuh secara kejam. Kejadian ini memperkuat bukti kalau hampir semua lelaki ras terbelakang Fankui ini memiliki fantasi tak wajar pada wanita Amoi Tionghoa. Para sister Amoi seluruh Indonesia wajib membaca kisah nyata berikut ini. Kisah nyata seperti ini jarang dipublish di media, sehingga diharapkan cerita pemerkosaan ini sedikitnya bisa meningkatkan kewaspadaan para cie-cie mei-mei kita akan kecabulan lelaki Fankui, disarankan para Amoi tidak terlalu sering bepergian malam dan sendirian. Bahaya selalu mengancam nyawa kalian para Amoi bila tak waspada pada binatang-binatang biadab ras barbar ini, apalagi bila sampai terlibat hubungan percintaan dengan mereka. Jangan sesekali berspekulasi "tak semua Fankui jahat" dan lengah pada situasi yang membahayakan. Adapun inilah kronologis berita yang saya temukan di internet.
KENDARINEWS - Pemilik toko Planet Elektronik John (suami) dan Inge Kwesty (istri) beserta anaknya Nathalia (22) semalam terbunuh di dalam rumah tokonya. Jhon masih sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat namun nyawanya melayang dalam perjalanan, sementara anak dan istrinya sudah tewas dalam ruko yang terletak di Jalan Ahmad Yani, deratan Bank Panin, Mandonga Kendari.
Pelaku diduga dilakukan oleh mantan karyawannya sendiri Gde Suastika. Dalam menjalankan aksinya pelau menyusup ke dalam toko. Sekitar pukul 23.30 WITA, pedagang kaki lima di depan toko tersebut mendengar teriakan Natalia, dan langsung melaporkan kepada aparat kepolisian di Pos Ketupat Lebaran Polri yang jaraknya hanya belasan meter dari TKP. Saat itupun polisi dan warga setempat mengepung TKP dan pelaku tak bisa berkutik.
KENDARINEWS - Inilah pengakuan pelaku pembantaian sekeluarga pemilik Toko Planet Elektronik. "Sempat terpikir akan memperkosanya, tapi dia merontak hingga saya habisi,” ujar I Gede Swastika (26) kepada wartawan yang menemuinya di Ruang ICU RSUP Sultra. DI sela-sela melakukan aksi pembantaian sekeluarga itu, Swastika sempat berniat memperkosa Nathalia (22) anak kandung John (suami) dan Inge Kwesty (istri) yang ikut dibunuh saat itu.
Seperti diberitakan, I Gede Swastika membantai keluarga pemilik Toko Planet Elektronik pada Rabu (24/8/2011) sekitar pukul 23.30 WITA. Aksi pembantaian itu berlangsung di Lantai 2 Rumah Toko yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Mandonga, Kendari.
Swastika mengaku dendam karena sakit hati. “Saya pernah dikata-katai oleh bos (pemilik Planet Elektronik, red). Saya tidak terima diperlakukan seperti itu," ungkapnya.
Sebelumnya, Swastika adalah karyawan Toko Planet Elektronik, namun dipecat gara-gara mematahkan tangga ketika disuruh memperbaiki AC (Air Conditioner). Setelah dipecat, Swastika kemudian kembali ke kampungnya, di Desa Puwehuko, Kecamatan Landono, Kabupaten Konawe Selatan (Sultra).
Niat balas dendam Swastika muncul sejak 21 Agustus lalu. Saat itu, dirinya menemui pemilik Planet Elektronik untuk meminta THR dan gajinya yang belum diterima saat masih menjadi karyawan. "Masih ada gaji saya Rp 550 ribu. Saya datang temui bos (Pemilik Planet Elektronik). Bukan menerima gaji, malah dimaki-maki. Saat itulah saya dendam dan merencanakan pembunuhan ini."
Ia mengaku menjalankan aksinya hanya seorang diri. Masuk ke ruko melalui loteng dan bersembunyi di plafon. Saat aksi pembantaian terjadi, Nathalia berada dalam kamarnya. Ketika Jhon keluar dengan membawa parang, pelaku sempat dilihat dan ditegur apa yang dilakukannya di rumah korban. "Karena terdesak, saya serang bapaknya (Jhon). Dia sempat melawan. Tiba-tiba istrinya keluar dari kamar dan berteriak. Akhirnya, anak gadisnya juga keluar dari kamarnya. Saya masih berkelahi dengan bapaknya, ada yang memukul belakangku. Saya balik memukul mereka lalu saya tebas bapaknya berkali-kali," ujarnya.
Setelah Jhon dilumpuhkan, pelaku langsung menikam Nathalia satu kali. Lalu berbalik menghabisi Inge' Questi. Saat Nathalia bisa lepas, dia berlari ke pintu dan berteriak minta tolong. Pelaku langsung mengejarnya dan menarik rambutnya.
"Sempat terpikir akan memperkosanya, tapi dia merontak hingga saya habisi. Setelah itu, saya bersembunyi di loteng. Di situlah saya ditemukan oleh polisi. Luka di dada saya bukan mereka (korban, red) yang menikam saya," akunya.
Sayangnya, pelaku tak bisa bercerita lebih mendalam lagi. Pasalnya, pelaku masih dalam perawatan intensif karena juga sempat terluka dalam insiden pembunuhan. Selain itu, pelaku dijaga ketat oleh pihak kepolisian dan tak seorang pun diizinkan untuk berdialog dengan pelaku.
