Sudah layak sekali bila hasrat para lelaki Fankui untuk bersetubuh dengan wanita Tionghoa ini dikatakan sebagai suatu kelainan fantasi seksual yang tidak wajar. Ini bisa dibuktikan dengan keinginan dan ambisi para Fankui bersenggama dengan Amoi sekalipun Amoi tersebut tidak berpakaian mini yang seksi. Adapun faktor ingin mengambil harta si Amoi pun akan memperkuat motivasi busuk lelaki Fankui dalam menyetubuhi wanita Amoi. Karena sulit untuk merealisasikan senggama dengan wanita Amoi lewat pendekatan halus, maka sering pula para Fankui melakukan tindak pemerkosaan untuk bisa menikmati keperawanan wanita Amoi.
Berikut ini ada sebuah kisah nyata pemerkosaan terhadap seorang mahasiswi Amoi dilakukan segerombolan Fankui supir angkot. Sepertinya ancaman asimilasi bagi para wanita Amoi bisa datang kapan saja, termasuk di tempat-tempat umum. Para sister Amoi seluruh Indonesia wajib membaca kisah nyata berikut ini. Kisah nyata seperti ini jarang dipublish di media, sehingga diharapkan cerita pemerkosaan ini sedikitnya bisa meningkatkan kewaspadaan para cie-cie mei-mei kita akan kecabulan lelaki Fankui, disarankan para Amoi tidak terlalu sering bepergian malam dan sendirian. Bahaya selalu mengancam nyawa kalian para Amoi bila tak waspada pada binatang-binatang biadab ras barbar ini, apalagi bila sampai terlibat hubungan percintaan dengan mereka. Jangan sesekali berspekulasi "tak semua Fankui jahat" dan lengah pada situasi yang membahayakan. Adapun inilah kronologis berita yang saya temukan di internet.
TANGERANG - Livia Pavita Soelistio, mahasiswa Universitas Bina Nusantara (Binus) yang hilang beberapa waktu lalu, diduga mengalami kekerasan seksual sebelum akhirnya dibunuh dengan cara dicekik.
Menurut Kasat Reskim Polres Kota Tangerang, Kompol Shinto Silitonga, di tubuh Livia Pavita Soelistio (21), ditemukan bercak diduga sperma.
"Untuk dugaan pemerkosaan, di tubuhnya memang ditemukan bercak. Saat ini kita masih terus melakukan pengecekan. Nanti kita tunggu hasilnya," kata Shinto kepada okezone, Senin (22/8/2011).
Hasil autopsi juga menyatakan, Livia tewas dicekik. Hal itu diketahui berdasarkan bekas tekanan di bagian leher korban. "Untuk sementara, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya. Tetapi ada tanda-tanda bekas tekanan di bagian leher," jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, Livia hilang dari rumah pada Selasa, 16 Agustus 2011. Pihak keluarga terakhir melakukan hubungan komunikasi, pukul 16.00 WIB, waktu itu. Hubungan komunikasi dengan Livia terputus mulai Rabu, 17 Agustus 2011.
Baru pada Minggu, 21 Agustus 2011, kabar hilangnya Livia menemukan titik terang. Livia ditemukan tewas oleh warga Cisauk dengan kondisi mengenaskan. Seluruh tubuhnya sudah mulai membiru dan membusuk.
Saat ini, Livia masih menjalani proses aotopsi di ruang Instalasi Pemulasaraan Jenazah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Tangerang.
Berikut ini ada sebuah kisah nyata pemerkosaan terhadap seorang mahasiswi Amoi dilakukan segerombolan Fankui supir angkot. Sepertinya ancaman asimilasi bagi para wanita Amoi bisa datang kapan saja, termasuk di tempat-tempat umum. Para sister Amoi seluruh Indonesia wajib membaca kisah nyata berikut ini. Kisah nyata seperti ini jarang dipublish di media, sehingga diharapkan cerita pemerkosaan ini sedikitnya bisa meningkatkan kewaspadaan para cie-cie mei-mei kita akan kecabulan lelaki Fankui, disarankan para Amoi tidak terlalu sering bepergian malam dan sendirian. Bahaya selalu mengancam nyawa kalian para Amoi bila tak waspada pada binatang-binatang biadab ras barbar ini, apalagi bila sampai terlibat hubungan percintaan dengan mereka. Jangan sesekali berspekulasi "tak semua Fankui jahat" dan lengah pada situasi yang membahayakan. Adapun inilah kronologis berita yang saya temukan di internet.
TANGERANG - Livia Pavita Soelistio, mahasiswa Universitas Bina Nusantara (Binus) yang hilang beberapa waktu lalu, diduga mengalami kekerasan seksual sebelum akhirnya dibunuh dengan cara dicekik.
Menurut Kasat Reskim Polres Kota Tangerang, Kompol Shinto Silitonga, di tubuh Livia Pavita Soelistio (21), ditemukan bercak diduga sperma.
"Untuk dugaan pemerkosaan, di tubuhnya memang ditemukan bercak. Saat ini kita masih terus melakukan pengecekan. Nanti kita tunggu hasilnya," kata Shinto kepada okezone, Senin (22/8/2011).
Hasil autopsi juga menyatakan, Livia tewas dicekik. Hal itu diketahui berdasarkan bekas tekanan di bagian leher korban. "Untuk sementara, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya. Tetapi ada tanda-tanda bekas tekanan di bagian leher," jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, Livia hilang dari rumah pada Selasa, 16 Agustus 2011. Pihak keluarga terakhir melakukan hubungan komunikasi, pukul 16.00 WIB, waktu itu. Hubungan komunikasi dengan Livia terputus mulai Rabu, 17 Agustus 2011.
Baru pada Minggu, 21 Agustus 2011, kabar hilangnya Livia menemukan titik terang. Livia ditemukan tewas oleh warga Cisauk dengan kondisi mengenaskan. Seluruh tubuhnya sudah mulai membiru dan membusuk.
Saat ini, Livia masih menjalani proses aotopsi di ruang Instalasi Pemulasaraan Jenazah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Tangerang.
JAKARTA, KOMPAS.com — Motif pembunuhan terhadap mahasiswi Universitas Bina Nusantara, Livia Pavita Soeslitio (21), akhirnya terkuak. Pelaku diduga merampok, lalu memerkosa Livia. Setelah itu, pelaku tega menghabisi nyawa putri dari Yusni Chandra dan Hermanto itu. Hal ini disampaikan Kapolres Jakarta Barat Komisaris Besar Setija Junianta, Jumat (26/8/2011), saat dihubungi wartawan.
"Sejauh ini motifnya perampokan dan diduga korban diperkosa lalu dibunuh," ujar Setija.
Namun, Setija masih belum mau memberikan keterangan lengkap terkait barang-barang Livia yang berhasil digondol polisi. "Nanti saja pas rilis," katanya singkat.
Adapun dua pelaku sudah diringkus Polres Metro Jakarta Barat. Sementara satu orang lagi yang diduga memerkosa Livia masih diburu. Seperti diberitakan, Livia Pavita Soelistio diketahui menghilang sejak tanggal 16 Agustus 2011. Pada hari itu, dia berangkat dari rumah dengan menggunakan kemeja putih dan rok hitam menuju kampus Universitas Bina Nusantara untuk mengikuti ujian.
Seusai mengikuti ujian, teman kampus melihat Livia masih berada di lapangan parkir. Keluarga masih bisa mengontak Livia hingga 17 Agustus 2011, tetapi tidak pernah dijawab. Setelah tanggal itu, ponsel Livia langsung tidak aktif. Baru pada Minggu, 21 Agustus 2011, seorang warga menemukan sesosok mayat tak beridentitas mirip Livia di selokan sebuah kebun di wilayah Cisauk, Tangerang.
Keluarga meyakini bahwa mayat itu merupakan Livia karena terdapat liontin kalung, rok, dan baju kemeja putih yang sama. Sementara itu, dugaan Livia merupakan korban pemerkosaan muncul karena saat ditemukan rok Livia sudah melorot hingga selutut. Hasil visum pun menguatkan dugaan itu karena kondisi salah satu organ vital rusak dan ada cairan sperma di tubuh Livia.
Jakarta - Livia Pavita Soelistio (21), mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Binus) dibunuh saat pulang dari kampusnya pada 16 Agustus 2011. Sebelum dibunuh, Livia diperkosa lebih dulu oleh para pelaku.
"Korban naik angkot pelaku, lalu dibawa dan diperkosa di pangkalan delman Kemanggisan, Jakarta Barat," ujar sumber di kepolisian kepada detikcom, Jumat (25/8/2011). Angkot yang dinaiki Livia adalah Mikrolet 24 rute Slipi-Binus-Kebon Jeruk.
Usai diperkosa, korban kemudian dicekik hingga tewas. Pelaku kemudian mengambil tas korban yang berisi dua unit handphone dan dompet. Korban kemudian dibuang di kawasan Cisauk, Tangerang.
Seperti diberitakan sebelumnya, Livia dilaporkan hilang sejak 16 Agustus 2011 oleh keluarganya. Mahasiswi semester akhir yang baru lulus ujian itu, terakhir terlihat di kampusnya.
Saat pergi, ia mengenakan baju kemeja putih, rok hitam, kaos kaki putih dan sepatu hitam. Sebelum dilaporkan hilang, Livia sempat mengabarkan kelulusannya pada orangtuanya.
Di tengah kegelisahan orangtua menunggu kemunculan Livia, tiba-tiba kabar menyedihkan terdengar di telinga keluarga. Polisi menemukan sesosok mayat yang ciri-cirinya mirip dengan Livia.
Mayat tersebut ditemukan di pinggir jalan di Cisauk, Tangerang Kabupaten pada Minggu (21/8) sore oleh seorang penggembala kambing yang tengah mencari kambingnya yang hilang. Saat ditemukan, jenazah tersebut sudah membusuk dan tidak dapat dikenali.
Beberapa ciri seperti kalung dan liontin serta giwang, mirip dengan milik korban. Selain itu, orangtua yang sempat melihat jasad mayat tersebut melihat kemiripannya dengan Livia dari gigi dan kakinya.
Keluarga pun semakin yakin bila mayat yang ditemukan adalah Livia. Meski sebelumnya sempat menolak otopsi, namun kepolisian tetap melakukan otopsi terhadap korban.
Pemerkosa Pembunuh Mahasiswi Binus Dibekuk
Total ada enam pelaku. Pelaku terakhir yang ditangkap adalah yang memperkosa Livia
Total ada enam pelaku. Pelaku terakhir yang ditangkap adalah yang memperkosa Livia
VIVAnews - Kepolisian Resor Metro Jakarta Barat akhirnya menangkap pemerkosa dan pembunuh mahasiswa Bina Nusantara, Livia Pavita Soelistio. Dengan ditangkapnya orang ini, polisi telah menangkap semua pelaku yang berjumlah enam orang.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Barat, Ajun Komisaris Besar Ferdy Sambo, mengatakan pelaku ditangkap di kediamannya di kawasan Jakarta Barat. "Berdasarkan keterangan lima tersangka lain, akhirnya kami menangkap Afri, pelaku pemerkosa Livia, pada malam Takbiran, tepatnya Selasa, 30 Agustus lalu," ujar Ferdy kepada VIVAnews, Jumat, 2 September 2011.
Dikatakan Ferdy, kejahatan Afri dalam kasus keji ini adalah memperkosa korban. Livia yang berupaya melawan, dilumpuhkan dengan cara diikat kedua tangannya dan dibekap oleh para pelaku. Livia pun tewas mengenaskan di tangan para lelaki bejat itu.
"Sekarang sudah lengkap pelakunya, dan akan kami proses," kata Ferdy.
Seperti diberitakan, Livia diketahui menghilang sejak 16 Agustus 2011 lalu. Pada hari itu, ia berangkat dari rumah menggunakan kemeja putih dan rok hitam menuju Kampus Universitas Bina Nusantara untuk mengikuti ujian.
Usai mengikuti ujian, teman kampus melihat Livia masih berada di lapangan parkir. Keluarga masih bisa mengontak Livia hingga 17 Agustus 2011, namun tidak pernah ada jawaban.
Setelah hari itu, ponsel Livia langsung tidak aktif. Baru pada Minggu 21 Agustus 2011, seorang warga menemukan sesosok mayat tak beridentitas di selokan dekat kebun di Cisauk, Tangerang. Keluarga meyakini jenazah itu adalah putri mereka karena melihat liontin kalung, rok, dan baju kemeja putih yang sama yang digunakan Livia.
Awalnya, polisi menangkap empat orang tersangka, yakni RH (24), IN (22), SR (52), dan AB (18) pada tanggal 25-26 Agustus 2011. RH dan IN dijerat dengan pasal pencurian dan kekerasan, sedangkan SR dan AB dijerat pasal penadahan barang curian. RH dan IN diancam hukuman 20 tahun penjara, sementara SR dan AB diancam hukuman 4 tahun penjara.
Setelah itu, polisi membekuk MS, sopir angkutan umum yang membawa kabur Livia di Jakarta Barat.

