Beberapa jie-jie mei-mei saudari kita mungkin cukup baik dalam menghindari hasutan asimilasi dengan lelaki Fankui, namun sayangnya dari mereka masih saja bingung apabila didekati lelaki ras Bule yang dinilai lebih maju peradabannya dari bangsa Fankui. Dikiranya menghindari asimilasi itu hanya ditujukan pada ras berkulit lebih hitam dari Tionghoa, namun tidak untuk ras lain yang berkulit lebih putih dari Tionghoa. Ini cukup konyol dan kekanak-kanakan bukan?
Nah sebenarnya kalau kita balik bertanya apakah tujuan menentang hasutan asimilasi, tentunya tujuan utama kita adalah untuk menjaga (melestarikan) populasi Tionghoa, terutama di negara perantauan. Bukan untuk mengkategorikan mana ras bertampang buruk vs bertampang tampan. Jadi, ibaratnya bila wanita Tionghoa diasimilasi lelaki bangsa ras apapun (di luar rumpun ras kuning) tentunya berarti menandakan bahwa kelak anak si Amoi ini BUKAN TIONGHOA karena tak memiliki marga dari ayah Tionghoa. Jadi walau Amoi kawin dengan lelaki Bule dan memiliki anak lelaki ganteng seperti artis gay Bule sekalipun, tetaplah dia bukan Tionghoa. Bagi saya, kasus asimilasi ini sebuah racun yang harus dibuang, asimilasi bukan seni perbandingan warna kulit. Namun tentunya masih banyak Tionghoa berpendidikan minim yang terbawa euforia pembodohan bangsa barat, ada anggapan ras Bule itu sempurna secara fisik. Sikap Tionghoa tak menghargai fisik ras sendiri inilah yang memicu terjadinya asimilasi, ini mirip seperti bangsa inferior Fankui yang merasa warna kulitnya jelek, sehingga ingin mengasimilasi wanita Amoi untuk memperbaiki keturunan. Ini pun tak lepas dari stereotype pabrikasi bangsa Barat yang mengatakan kalau lelaki Barat lebih "macho jantan" daripada lelaki Asia kuning. Saya rasa Amoi yang terobsesi pacaran dengan Bule adalah mereka yang kampungan kurang pendidikan yang tidak bisa menghargai fisik ras sendiri. Mereka beranggapan kalau fisik kulit putih ras bule ini keren dan rupawan. Sikap tak menghargai fisik ras sendiri inilah yang memicu terjadinya asimilasi.
Mengenai kemajuan teknologi, peradaban, dan ideologi pemikiran, saya rasa teman-teman Tionghoa perlu kita sadarkan juga kalau bangsa Bule ini tidaklah identik dengan sosok sempurna. Mereka ini sebenarnya tak sehebat yang kita bayangkan, mereka hanyalah bangsa barbar licik yang bersaing secara tidak fair. Pertama sekali harus diperkenalkan kepada publik Tionghoa bahwa kebobrokan Tiongkok oleh sebab CANDU yang dibawakan oleh Inggris (bangsa Bule) melalui pelabuhan-pelabuhan di Selatan dan Sungai Yangzi. Itu sebenarnya adalah awal dari kebobrokan Tiongkok yang tidak mampu mengatasi kenakalan aparatus di Selatan melalui penyelundupan candu-candu tersebut. Bisa dibilang Inggris ini benar-benar ingin memperkaya dirinya sendiri tanpa melihat efek-sampingnya. Mereka juga menyadari bahwa candu pada akhirnya menjadikan masyarakat Tionghoa rusak, dan mereka senang melihat fakta bahwa Tiongkok sebagai "Pusat Dunia" mulai mengalami degradasi menjadi negara miskin dan tertindas. Cerita yang memalukan ini membekas di hati para Tionghoa yang berada di luar, sehingga tidak heran jika lahir perasaan inferioritas berupa "Inferiority Complex" terhadap mereka yang katanya lebih maju (padahal sebenarnya beruntung dan licik, di tengah pemerintahan yang agak idiot). Inferioritas diri ini yang saya sangat sesalkan, karena mereka lupa siapa mereka (Tionghoa) dan siapa mereka (Barat atau Jepang) dan siapa mereka (bangsa Barbarian lain). Tetapi kini kalian lihat saja segimana pesatnya negeri Tiongkok mengalami transformasi progresif, kemajuan ekonomi, kekuatan yang luar biasa dan reputasi yang membanggakan di hampir setiap lini pada jaman Republik Rakyat ini, yang tentunya terbentuk oleh berbagai gerakan revolusi modern disertai kebijakan hukum yang tegas pada koruptor dan kaum separatis. Kejayaan Tiongkok di era dinasti kembali terulang, bahkan jauh lebih menakjubkan dari kejayaan dinasti masa lampau.
Jangan hanya sekedar kalian mengkonsumsi norma ajaran agama barat, lantas kalian beranggapan kalau dunia ini diciptakan oleh Tuhan-nya orang Bule (Yahudi) dan leluhur Tionghoa berada di bawah superioritas deity barat. Leluhur kita Tionghoa sungguh jauh lebih logis dalam pemikiran filsafat, kita Tionghoa memiliki guru seperti Kongzi yang mengajarkan norma budi pekerti luhur tanpa "paksaan" pada murid-muridnya untuk memuja secara extrim dirinya dengan gelar juruselamat. Ajaran Kongzi tak memaksa Tionghoa "percaya" membabi-buta dan memberhalakan yang tak percaya (tak mau dengar) ajarannya.Tolong pahami kembali makna ajaran moral Konfusianisme yang sebenarnya berbeda dengan shamanisme deity Tiongkok kuno.
Kita harus bangga dengan ke-Tionghoa’an kita. Perabadaban kita sudah berusia 5000 tahun lebih. Leluhur kita sudah sangat beradab sebelum Inggris memasuki revolusi industri. Empat penemuan besar ditemukan oleh leluhur bangsa kita dan dunia merasakan dampak positifnya. Keempat penemuan itu adalah kertas, kompas, mesin cetak, mesiu. Bangsa ras Tionghoa memang jauh lebih berkualitas dari bangsa dan ras lain. Studi genetik terakhir di Amerika menyimpulkan bahwa secara genetik, ras bangsa Tionghoa paling pintar. Bangsa Yahudi masih kalah pintar secara genetik dari ras Tionghoa. Kalau kita liat empat penemuan yang mengubah dunia itu berasal dari Tiongkok. Ditemukannya kertas oleh Tsai Lun jelas mengubah wajah dunia. Bayangkan kalau tidk ada kertas, kita menulis di kayu, tulang dan batu. Tingkat kercedasan dan dunia IPTEK maju pesat sejak adanya kertas. Catatan penting dan record bisa disimpan di atas kertas. Coba kita perhatikan istana-istana kuno Tiongkok, biara-biara dan kuil-kuil leluhur Tionghoa. Coba bandingkan dengan kastil-kastil kuno Barat yang pengap dan berlumut. Bagi saya, kastil-kastil itu tidak lebih dari tumpukan batu tanpa seni. Dari sini bisa kita simpulkan bahwa ketika leluhur orang Bule masih tidur di atas pohon dan memakai baju kulit binatang, leluhur bangsa Tionghoa sudah minum arak dari cangkir giok sambil bermain Guzheng nan indah. Adapun menurut Ignatius Wibowo (sinolog dari UI), Amerika baru berkuasa kurang dari 200 tahun. Sedangkan Tiongkok pernah berkuasa di atas dunia selama 2000 tahun. Jadi, kebesaran Amerika saat ini tidak bisa dibandingkan dengan kejayaan Tiongkok. Saya yakin, kejayaan Amerika ini pasti ada akhirnya. Persis seperti kebesaran bangsa Aztec dan Inca. Lalu saat itu bangsa Tionghoa akan berkuasa lagi di atas dunia saat itu. Lihat saja sekarang Tiongkok sudah bisa bangun banyak reaktor nuklir. Punya sekitar 400 senjata berhulu ledak nuklir. Misil-misil Tiongkok bisa menjangkau seluruh dunia. Taikonot Tiongkok sudah jalan-jalan di luar angkasa.
Ketika bangsa Bule masih menulis di atas papyrus yang rentan, bangsa Tionghoa sudah menulis ribuan pustaka di atas kertas. Ketika mereka masih hidup di dalam gua, berburu dan meramu, bangsa Tionghoa sudah memikirkan Kosmologi dan arsitektur tata kota yang ditiru oleh Jepang untuk pembangunan ibukotanya di Kyoto melalui prinsip Wakon Kansai (Semangat Yamato, Kepiawaian Han) dan mengenal sistem argikultur yang sempurna, bahkan ditiru oleh Nusantara (Sistem Terasering). Ketika mereka masih terjepit oleh sistem feodalisme gereja yang membodohkan, bangsa Tionghoa sudah memikirkan reformasi Konfusianisme di bawah pemikiran Zhu Xi dan Wang Yangming yang menekankan individualisme dan materialisme, meskipun tidak semaksimal mereka pasca-liberalisme. Ketika mereka masih belum mengerti strategi perang, terlebih dengan peralatan perang yang terbilang modern, bangsa Tionghoa sudah menemukan berbagai peralatan perang yang sangat canggih di masa itu, seperti Catapult, Crossbow, Meriam, Mesiu, dan sebagainya. Pada intinya, bangsa Tionghoa adalah bangsa yang maju. Kita BUKAN bangsa fasal yang hanya manut pada perintah negara yang lebih kuat. Ingat, Republik Rakyat Tiongkok dan Uni Soviet BUKAN sahabat pasca wafatnya Stalin, karena Mao Zedong bangga atas warisan sejarah nenek moyang Tionghoa dan yakin bahwa Tiongkok dan Tionghoa akan menjadi PUSAT DUNIA lagi. Saat ini adalah tahapan transformasi, Tiongkok harus diakui masih memiliki banyak permasalahan yang rapuh dan berbahaya, Namun kita akan menuju ke arah yang cemerlang, yakini itu dan terus dukung kemajuan bangsa kita. Tindakan bodoh yang mengagung-agungkan bangsa Bule hanya akan menghambat proses kemajuan itu, sadarlah semuanya.
Jadi, tak ada yang perlu dibanggakan dari bangsa Bule kulit putih itu. Lihat saja akibat ideologi leberalisme Bule, sekarang dunia mentertawakan bangsa barat yang sebegitu mudahnya memberikan puteri "white chick" mereka pada lelaki Negro yang notabene adalah budak mereka sendiri. Malah lucunya kini wanita white chick ini terobsesi kawin dengan lelaki Tionghoa (atau Asia kuning lain) setelah kagum dengan sosok rupawan dan kecerdasannya. Nah bagaimanakah dengan Amoi Tionghoa? Apakah kelak kita sebagai para Amoi justru akan bernasib sama dengan para White Chick yang malah disantap lelaki ras budak mereka sendiri? Tentu tidak, jangan sampai itu terjadi. Kita Tionghoa harus melindungi puteri dan saudari kita dari ancaman invasi liar yang dilakukan bangsa barbar dalam merendahkan martabat Tionghoa. Dengan demikian peradaban kita akan dipandang tinggi dan mampu melawan hegemoni dari Barat yang semakin merajalela.
