Bahaya Feodalisme Kuno (Diskriminasi Gender) sebagai Pemicu Amoi Terjebak Propaganda Kawin Campur


Pernahkan kalian dalam suatu debat masalah asimilasi bersama Fankui atau Qiaosheng, mereka membuat pernyataan gila yang menyebutkan kalau : “Kawin campur wanita Tionghoa dengan lelaki Asing ini sudah menjadi tradisi kerajan Tiongkok sejak lampau.”? Sepengalaman saya pun dalam blog-blog fanatik nasionalis Indonesia, umumnya para asimilator Fankui dan Qiaosheng membodohi saudari Amoi  kita agar mau berkawin dengan lelaki Fankui (atau non-Tionghoa lainnya) dengan dalih kawin campur sudah jadi budaya Tionghoa sejak jaman dinasti kerajaan. Lalu mereka sok tahu memberi simulasi tentang kaisar Tiongkok yang memberi Amoi pada bangsa lain. Ini sebenarnya masalah pembodohan yang cukup serius, terutama pada Tionghoa yang tidak tanggap pada perubahan politik di Tiongkok.

Sebenarnya fenomena menjual wanita Amoi pada bangsa asing oleh pemerintah dinasti adalah budaya feodalisme kuno Tiongkok, terutama yang paling parah terjadi saat Dinasti Tang. Sistem feodalisme sangat merendahkan keberadaan wanita, sehingga pemerintah malah menjual wanita Amoi sebagai imbalan pada bangsa lain, hadiah diplomasi, atau tawanan perang. Itulah kelemahan dari feodalisme yang sudah seharusnya dibuang jauh-jauh dari bangsa Tionghoa. Seiring dengan tumbangnya Dinasti Qing yang dipimpin oleh bangsa Manchu yang korup dan barbar pergerakan oleh Revolusi Xinhai yang terjadi pada tahun 1911, ini menandakan dimulainya peradaban modern Tiongkok di bawah pemerintahan Republik Tiongkok. Ide-ide revolusioner Sun Yat-Sen telah menghapuskan peradaban feodalisme biadab di era dinasti kerajaan, seperti tradisi menjual wanita pada bangsa asing, tradisi ‘ikat kaki’ pada wanita, takhayul tentang dewa, okultisme, anti-demokrasi, dan sebagainya. Disinilah dimulainya kesadaran nasionalisme bangsa Tionghoa akan bahaya asimilasi kawin campur yang ternyata harus mengorbankan wanita Tionghoa dan merendahkan martabat bangsa Tionghoa. Apalagi setelah Tiongkok mengalami pergerakan Revolusi Kebudayaan oleh Mao Zedong di tahun 1966 sampai 1976, semua sisa-sisa tradisi feodal kuno di Tiongkok bisa dikatakan sudah benar-benar punah dari kehidupan Tionghoa modern.

Perempuan bukan perhiasan, bukan sekedar pembantu, bukan sekedar budak hawa nafsu, bukan sekedar pengurus anak. Para laki-laki Tionghoa selalu diuntungkan dengan sistem yang sudah mengakar kuat melalui sistem Xing (). Dengan alasan ini, perempuan dianggap subordinat yang tidak sebanding dengan “sang pewaris Xing”. Fenomena semacam itu sudah seharusnya dimusnahkan, karena manusia Tionghoa semakin perlu untuk menyadari pentingnya kesetaraan gender, dengan karakteristik yang telah melekat dalam hakikat masing-masing jenis kelamin. Semakin modern manusia, semakin harus menyadari betapa tingginya harkat hidup umat manusia, tidak hanya sebatas jenis kelamin, namun mencakup faktor-faktor sosial lainnya. Mengingat hanya bangsa BARBAR-lah yang akan melakukan tindakan bodoh dan memalukan bagi bangsanya sendiri.

Jika para assimilator Fankui dan Qiaosheng  mengatakan fenomena ini adalah tradisi, saya tidak terlalu yakin. Pada masa Dinasti Han akhir, Zhuge Liang (諸葛亮) menaklukan Yunnan. Pada saat itu, bangsa Tionghoa mungkin jauh lebih murni daripada sekarang, dan paham Sinosentrisme sudah diterapkan di sana, termasuk urusan pernikahan. Pada masa awal penaklukan, terjadi pemisahan antara bangsa Han dengan bangsa Dian yang dihuni oleh orang-orang Yunnan. Para pasukan dilarang mendekati perempuan Dian, dan begitu pula sebaliknya. Ini adalah bentuk 'puritas' yang sangat baik, dan sayangnya tidak dapat bertahan lama. Dinasti-dinasti selanjutnya, di tengah kompleksitas sosio-historis yang ada, mau-tidak mau harus menerima bahwa konsep pernikahan campuran itu akan terjadi. Tak ayal, pada masa Dinasti Tang hingga kini sudah sering terdengar isu pernikahan campur. Bahkan, selir Kaisar Yongle Dinasti Ming yang sangat membanggakan itu salah satunya berasal dari Joseon Korea (Putri Cui).

Saya tidak tahu pasti akan sosok figur anti-asimilasi Tionghoa yang pertama kali, mengingat dalam catatan sejarah seperti yang ditulis oleh Sima Qian masih sangat primitif dan tidak menyinggung soal perkawinan campur. Namun sejauh yang saya baca, sosok Zhuge Liang-lah yang pertama tercatat, itu pun dalam romansa Sanguo Yanyi (三國演義) yang ditulis zaman Dinasti Ming abad ke-15, dalam upaya pembatasan kontak sosial dengan bangsa-bangsa barbarian Nanyue, Xirong, Dongyi dan Beidi yang berhasil ditaklukan. Pemikiran ini ternyata tidak hanya diberlakukan di Yunnan, namun di wilayah Semenanjung Korea yang ditaklukan oleh Cao Cao. Hal inilah yang kemudian dijadikan dasar oleh pasukan Mongol dibawah pimpinan Kublai Khan pada masa Dinasti Yuan untuk melakukan hal serupa terhadap “eks-Dinasti Song” yang dianggapnya sebagai kelompok tertakluk melalui hierarki tetrakotomi konyolnya itu. Begitu pula Manchu melalui sistem “Liutiao Bian” yang menghalangi bangsa Han untuk masuk ke wilayah Manchuria. Dengan kata lain, prinsip ciptaan bangsa Han sendiri menjadi bumerang bagi bangsa Han ketika ditaklukan oleh bangsa non-Han.

Fankui memang terlihat sangat tertarik dengan perempuan Tionghoa, terlepas dari pikiran iblis maupun memang dengan hati yang tulusnya. Mengingat saya berkuliah di tengah Fankui, saya menyadari hal ini. Bahkan perlu Anda ketahui, seorang perempuan Tionghoa yang mungkin dalam perspektif Tionghoa kebanyakan sebagai perempuan sederhana, kurang cantik, dan sebagainya, akan dilihat secara berbeda oleh fankui. Efek dari pemisahan rasial zaman kolonial melalui Wijkenstensel dan Passenstensel itu masih sangat kental di antara mereka yang notabene sudah terhitung lumayan makmur secara ekonomi. Mereka merasakan inferioritas di bidang ekonomi, akademis, bahkan hingga fisik sekali pun. Dengan mendapatkan pasangan hidup dari etnis Tionghoa, mereka seperti merasakan “naik kelas”. Saya memang merasakan suatu keanehan di sini, di tengah pemerintahan yang sudah merdeka dan keadaan ekonomi mereka yang juga sudah mulai membaik, dan saya agak kasihan jadinya karena saya memag membenci segala bentuk INFERIORTY COMPLEX yang ada pada diri, termasuk sebagian Tionghoa yang belum tercerahkan ketika dihadapkan pada bangsa-bangsa yang “digosipkan” secara ekonomi lebih maju, seperti Bule dan Jepun.

Meskipun begitu, saya tetap pada pendirian saya bagaimana pun juga. Saya setuju dengan prinsip Zhuge Liang, menjaga puritas jauh lebih berharga daripada segalanya. Memang terdengar fasis dan chauvinis, namun ini adalah solusi terbaik, setidaknya untuk skop yang lebih kecil, yaitu Tionghoa Indonesia yang sudah mengalami banyak ujian di negara ini. Jangan sampai bangsa Tionghoa yang ada di Indonesia menjadi seperti bangsa Negro di Amerika yang segalanya sudah hilang dari diri mereka, kecuali fisik.

Namun, bukan berarti ini ide yang mulus. Saya membaca di China Daily edisi Amerika, seorang perempuan Tionghoa yang “dipaksa” menikah dengan laki-laki Tionghoa namun tidak mendapatkan kebahagiaan dan akhirnya memilih bercerai dan menikah dengan bule Belanda, dan terkesan mencela-cela pernikahan yang mono-etnik di sana. Saya tidak 100% membenci perempuan ini, karena ia memiliki alasan yang sangat kuat untuk itu:
1) Laki-laki Tionghoa yang pernah menjadi suaminya itu, beserta keluarganya masih mempertahankan tradisi feodalisme Tionghoa yang merendahkan entitas perempuan dan menantu; 
2) Perempuan ini memiliki tingkat modernisasi yang sangat tinggi, jika dihadapkan pada unsur feodalisme kuno Tionghoa, tentu akan bertabrakan, di tengah pergaulannya yang luas dengan bule-bule; dan
3) Selama perempuan Tionghoa masih diberlakukan sedemikian tidak baiknya oleh mayoritas etnis Tionghoa, jangan pernah berharap bahwa pernikahan campuran akan musnah dari muka bumi. Mereka akan memilih yang menurut mereka jauh lebih menjamin, meskipun agak memalukan, seperti pernikahan campuran ini. Di samping itu semua, edukasi dan sosialisasi kultur adalah yang terpenting, ketika masih “buta” akan semuanya, tentu banyak dari mereka yang tidak “sadar” akan keindahan dari Tionghoa itu sendiri.