“Ga semua Fankui jahat! Ga semua Fankui brengsek! Fankui ini dari keluarga baik-baik dan berada, ga mungkin gitu! Jangan RASIS please, Tuhan menciptakan manusia semua sederajat!”
Huaaaahhh… Klise…
Klise? Yup, itu jawaban yang berdengung sumbang setiap saya menasehati cenes (chinese) yang terlena dalam cinta fankui buta atau cinta huana buta atau sejenisnya. Ini bukan karena saya Rasis, namun pengalaman hidup membuat saya berkata lain. Sebagai konsultan, saya harus bersosialisasi dengan siapapun, tak terkecuali huana, pribumi, dan fankui (sejenis). Saya bergaul dengan mereka, bertukar pikiran, memahami pola pikir mereka. Dan menjadi sadar, perbedaan dalam jiwa dan pemikiran lebih menjadi alasan kenapa kita tidak mungkin cocok ketimbang perbedaan fisik. Tentu, kita masih bisa bergaul dengan fankui, tapi sampai batas tertentu saja, sekedar rekan. Saya tidak bisa menganggap mereka teman, karena mereka mudah menusuk dari belakang.
(RED: Jiwa dan Pemikiran itu lebih dari sekedar pembicaraan asik dan nyambung saat ngobrol santai sehari-hari.)
PROLOG
Ada seribu satu alasan untuk menolak asimilasi. Dan ada satu miliar satu alasan untuk menolak asimilasi dengan fankui. Saya akan menjelaskan dengan alasan yang paling logika, jadi semestinya anak TK pun memiliki kesadaran menolak asimilasi.
HUKUM DASAR
Terdapat kisah nyata tentang anak kembar yang terpisah dari kecil, ternyata memiliki kehidupan, kepribadian, sifat, preferensi, yang benar-benar indentik. Padahal keduanya dibesarkan dil ingkungan yang berbeda. Dan tidak pernah berhubungan, hingga dipertemukan kembali. Coba lihat kasus ini : “Two Ohio Strangers Find They're Twins at 39 and a Dream to Psychologists”, juga artikel ini : “How Twins Work”.
Terdapat kisah nyata tentang anak kembar yang terpisah dari kecil, ternyata memiliki kehidupan, kepribadian, sifat, preferensi, yang benar-benar indentik. Padahal keduanya dibesarkan dil ingkungan yang berbeda. Dan tidak pernah berhubungan, hingga dipertemukan kembali. Coba lihat kasus ini : “Two Ohio Strangers Find They're Twins at 39 and a Dream to Psychologists”, juga artikel ini : “How Twins Work”.
Apa yang bisa kita petik dari pelajaran ini? Simpel, tapi penting. Bahwa genetik berperan sangat besar terhadap prilaku. Anak penjahat lebih berpeluang jadi penjahat kembali, anak pemerkosa sangat berpeluang menjadi pemerkosa kembali. Warisan yang diturunkan oleh fankui ke anak cucu mereka tidak lebih dari warisan sifat buruk.
Dalam dunia konsultan management, saat kita masuk kedalam bidang Management Human Resource, ada satu hukum yang tidak boleh diacuhkan. Hukum ini digaungkan dan harus diingat oleh para Manager lebih dari cara bernafas. Hukum Sifat Dasar.
Hukum itu sebenernya simpel sekali, mungkin beberapa dari kalian pernah mendengarnya, atau mengaplikasikannya, bahkan orang tua kalian mempraktekannya saat memilih pasangan hidup. Betul! Hukum Sifat Dasar tidak lain "Bibit, Bebet, Bobot". Itu mencangkup lingkungan, keluarga, pendidikan, pergaulan. Dalam Management/HRD kita akan menambahkan hobi, pola pikir, tingkat kecerdasan, vision, paradigma dasar, dsb. Satu hal yang menarik, aspek keluarga memiliki lingkup prioritas pertimbangan tertinggi, bahkan melebihi pendidikan. Keluarga disini, bisa mencangkup hingga nenek moyangnya. Sesuatu yang diwariskan dari generasi ke generasi, mengalir dalam setiap denyut nadi, darah, membentuk tulang, rambut, hingga pola pikir anda sekalian.
CONTOH 1 :
Ada satu sifat dasar yang mengalir dalam setiap fankui. Sifat yang sangat menarik, dan bisa anda saksikan dalam berita setiap hari. Membuat anda tak pernah berhenti tercengang. Ambil contoh Darsem, seorang muslim yang menurut keluarganya taat agama, rajin ibadah 5 waktu, melafalkan kitab sucinya tak henti-henti. Dan hidup dalam cita-cita ingin ke tanah suci, menjalankan ibadah sambil menjadi pembantu dewa-dewa arab. Lalu disana dia membunuh nenek arab yang tak berdaya. Lucunya, saat ia akan dihukum pancung, kesetiakawanan fankui yang tak mengenal benar salah, adil tidak adil, dengan sekuat tenaga membantu membebaskan Darsem. Tak ayal, Darsem bebas tanpa syarat, pulang ke tanah air bagai pahlawan, dan dilimpahkan harta bagai pahlawan. Lihat hidupnya sekarang? Sombong dan arogan. Ironis? Lihat juga briptu Norman. Perhatikan kehidupan fankui-fankui disekitar anda, itu hanya akan menambah panjang bukti kebenaran hukum ini.
CONTOH 2 :
Kenyataan lain, beberapa diantara anda pasti ada yang pernah ikut pemilu atau pilkada. Atau setidaknya menjadi penonton ditengah riuhnya pemilu/pilkada. Anda pun tentu tahu kekecewaan yang muncul dari janji-jani palsu. Apa anda pernah melihat orasi pra-pemilu? Saat fankui-fankui yang dicalonkan itu tampak begitu cinta pada masyarakat, seolah mengerti dan akan berjuang demi bangsa dan negara. Seolah berpacaran, partai-partai memberi bermacam-macam tanda cinta, dari nasi bungkus, baju, hingga atribut tanda cinta. Betapa indah dan memikat, ROMANTIS!
Lalu, waktu pun tiba, anda yang sudah jatuh cinta, memilih sang kekasih, untuk menjadi pendamping daerah anda, negeri anda saat ini (tidak seumur hidup namun cukup lama). Kemudian masa-masa romantis itu berubah. Sang fankui penjabat itu menjadi berkuasa, perilakunya pun berubah, tidak ada romantisme manis seperti dulu. Dia membuka form aslinya, fankui picik, jahat, dan buas.. Kecewa? Sudah terlambat.
PESAN MORAL
Kekuasaan membuat fankui berubah, dalam pernikahan kekuasaan yang didapat fankui saat menikahi amoy meliputi tapi tak terbatas: tubuh amoy yang sudah *maaf* disetubuhi, hak waris amoy tersebut (tak jarang keharmonisan keluarga besar amoy ini rusak gara-gara fankui ini), penghargaan masyarakat fankui, dan masih banyak lagi.
Disisi lain apa yang didapat amoy? kenikmatan *maaf* berSEX? Jangan bercanda... Anda tidak lebih jadi budak bahkan paria bila menikah dengan fankui. Hak amoy tersebut hilang sepenuhnya, kesucian tidak bisa kembali, bahkan tak jarang amoy tersebut dipaksa masuk agama arab. Mengajukan cerai pun tak bisa, ditinggal kawin lagi terkadang masih lebih baik daripada jadi korban KDRT.
NB : sejujurnya, dalam pernikahan pihak wanita lebih banyak dirugikan. karena itu amoy hendaknya lebih berhati-hati dalam urusan pernikahan. bagi pria akew pun menikahi wanita fankui cantik bagai membawa duri dalam daging, anda takkan pernah tahu, kapan fankui itu akan "menusuk anda dari belakang". Sekalipun anda mengira fankui itu sudah cinta mati dengan anda, ada pepatah lama yang anda harus camkan. Dalamnya lautan bisa diukur, tapi dalamnya hati wanita tidak bisa anda ukur.
Lumrah wanita memilih pasangan melalui emosi, dapat dimaklumi pria sering memilih pasangan atas nafsu. Tapi perbedaan kita dan binatang adalah karena kita memiliki otak yang bisa berpikir secara logika, melihat positif dan negatif untuk masa depan serta dampak bagi keluarga kita juga.
CERITA :
Saya akan menceritakan cerita favourite para Management dan HRD terbaik di dunia. Cerita ini masih berputar pada Sifat Dasar. Mungkin anda disini pernah mendengarnya. Kisah Kodok dan Kalajengking::
Kisah ini bermula dari seorang kalajengking yang ingin menyebrang sungai. Tapi karena tidak bisa berenang si kalajengking mencoba meminta bantuan mahluk yang lewat disekitarnya. Tiba-tiba saja si kodok lewat dan kalajengking datang menghampirinya dan mencoba untuk bertanya" bisakah kamu menyebrangkan aku ke sebrang" , si kodok kemudian menjawab" Ah tidak, nanti kamu menyengat punggung saya", kemudian si kalajengking menjawab" mana mungkin saya menyengatmu kan saya butuh tunpangan, dan misalnya saya menyengatmu, saya juga akan mati tenggelam" Kemudian si kodok berpikir sejenak dan mengiyakanya. Maka naiklah si kalajengking di punggung si kodok. Namun tidak lama kemudian si kodok merasa ada sesuatu yang menyengatnya dan berkata" katamu tidak akan menyengatku tapi kau tetap menyengatku", kemudian si kalajengking menjawab," maafkan aku, tetapi begitulah SIFATku adalah menyengat". Akhirnya mereka tengelam bersamaan...
VERDICT :
Kalajengking tersebut bisa diibaratkan Fankui. Dan sifat dasar fankui saya kira cukup jelas dari berbagai penjelasan sebelumnya.
Dalam studi management, kisah tersebut ditujukan untuk memberitahu bahwa kita tidak bisa merubah sifat manusia. (Sumber: berbagai buku management terbitan GALLUP)
Dan bila setelah panjang lebar ini anda masih ingin membina hubungan intim dengan fankui kalajeking itu. Saya persilahkan. bagaimana pun saya tidak bisa berbuat apa pun mengenai hidup anda. Hanya kepedulian dari solidaritas sesama chinese.
Dari pengalaman, cinta buta lebih banyak berujung pada tragedi. Nanti beritahu saya, "cinta" itu bertahan berapa lama, saat anda melihat true form dari fankui yang anda cintai itu. Saya selalu ada untuk prihatin kepada anda.
Saya pun memiliki Ii yang menikah dengan fankui atas nama cinta bertasbih, demi cinta sucinya itu dia melawan satu keluarga, masuk agama arab, demi masa depan cinta dia yang indah bersama fankui yang cukup berada, pandai bernyanyi, romantis, dan ganteng. Setelah memiliki 2 anak, kelucuan dan tragedi yang telah diramalkan qogong saya menjadi kenyataan. Lucu sekali, amoy yang berstatus menikah tapi tanpa suami karena fankuinya selingkuh dengan wanita lain, ditambah ia memiliki 2 anak lucu yang satu berkelakuan preman khas fankui, satu lagi seperti pelacur, manis sekali. Keluarga besar kami, sudah tidak mengaku dia, masyarakat fankui pun tidak peduli pada dia. Di dunia yang besar ini, dia sebatang kara.
SUGGESTION
So, misalkan anda mengalami tragedi ironis tersebut, jangan menyalahkan fankui apalagi Tuhan. Salahkan diri anda sendiri. Sifat fankui kita semua sudah tahu, dan anda sendiri yang telah memutuskan nasib anda. Seperti kodok lugu dalam cerita tersebut. Saat itu, anda tidak dikenal sebagai sosok pahlawan pemberani pembela asimilasi, tapi tak lebih dari sekedar sosok kodok lugu yang mati bunuh diri demi "cinta" palsu. Setidaknya, anda akan menambah panjang contoh lelucon tersebut.
CONCLUSION
Saya tidak mendukung RASISme dengan fankui. Bergaul dan bersosialisasi dengan mereka sewajarnya saja, tapi anda harus ingat, mereka itu ibarat kalajengking, memang sifat mereka seperti itu. Bila anda tak waspada, diri anda sendiri yang harus disalahkan. Saat anda bisa memanfaatkan fankui tersebut itu akan menguntungkan anda, tapi tetaplah waspada, "bisa" dari sengatnya amatlah beracun. Terlebih bila anda melakukan kekerasan pada fankui, kita sebagai chinese justru akan mengalami pergolakan diskriminatif yang kejam dari fankui, seperti tragedi 98. Mereka cenderung bergerak berkelompok dan merusak. Saya hanya kasihan bila anda tidak bisa berkaca dari kesalahan saudara-saudari kita yang pernah mengalami tragedi tersebut. Perlu berapa contoh lagi agar anda sadar?
Saya akhiri tulisan saya karena akan terlalu panjang, bila saya membahas semuanya. Masih banyak hal belum saya bahas, seperti histori dari asimilasi, Bitter Truth Fankui, Moral chinese, hingga trend dikalangan fankui untuk mendapatkan amoy dengan cara seperti PUA dan Mistik. Bila anda pengemar dongeng DISNEY, perlu anda ketahui itu cerita fiktif yang bahkan telah direka dari cerita aslinya agar indah menawan. Dalam kehidupan nyata, kebahagiaan/kekayaan tidak datang karena ada pangeran berkuda putih atau karena bertemu someone special. Bila anda ingin bahagia/kaya/terkenal/dll, anda sendiri yang harus berusaha, bukan orang lain.
(RED: pribumi=ingniren=huana=fankui. mereka adalah sebutan berbeda yang mencangkup satu kelas. pegawai ingniren yang awalnya baik-baik pun dalam sekejap mata pun bisa berubah pencuri keji yang berhati lebih keji daripada setan neraka. Tidak ada salahnya waspada. Tapi tidak perlu RASIS, memang itu sifat mereka, terkadang malah lebih parah dari binatang. WASPADA!)
Tidak RASIS dan mendukung asimilasi adalah dua hal yang berbeda. Jangan pernah disamakan, saya menolak rasisme, tapi saya menolak asimilasi. Kedua hal itu seperti jeruk dan kentut sapi, sangat berbeda.
DISCLOSURE
Tulisan ini dibuat sekedar berbagi dengan para chinese/tionghua di group ini. Dan pengetahuan ini untuk kebaikan anda sendiri juga terutama pada qiaosheng/ hollandspeaken/ fankuilover/ huanalover/ asimilasi lover. Penyesalan selalu datang terlambat. Think Forward !!!
LAMPIRAN
Saya lampirkan contoh muka fankui, dan perlu diingat. Tidak semua fankui jelek. Ada juga yang ganteng/cantik, kaya, terkenal, dan ramah serta gaul. Tapi memiliki sifat dasar yang sama.
“Halo Amoy! Mau menikah dengan saya?”
Jangan terkecoh, keduanya hanya akan membawa tragedi.
