Artis Mandarin Hasil Asimilasi Dari Ayah Non-Tionghoa Tentunya Bukan Berstatus Seorang Tionghoa

Saya mesti ingatkan teman-teman Tionghoa tentang hal ini, ada beberapa anak asimilasi ayah non-Tionghoa dan ibu Tionghoa yang menjadi artis Mandarin terkenal di Tiongkok. Meskipun mereka ini berstatus artis Mandarin, namun kalian perlu ingat bahwa mereka ini BUKAN TIONGHOA. Mereka ini dianggap ras lain berdasarkan ras ayahnya, namun mereka tetap dihargai karena dedikasinya untuk dunia entertainment Mandarin. Saya pikir ras apapun bisa jadi artis di negara manapun, sekalipun bukan negara dengan mayoritas ras dia, namun bukan berarti ia berpindah status ras.

Ini beberapa artis Mandarin hasil asimilasi :
Anthony Wong (ayah Bule Inggris)

Maggie Q (ayah Bule Amerika)

Michelle Saram atau Xue Er (ayah India)

Luo Jing (ayah Negro)

Takeshi Kaneshiro (ayah Jepang)

Mereka ini seringkali dipakai oleh para asimilator licik sebagai pembenaran asimilasi amoi Tionghoa dengan lelaki Fankui (atau non-Tionghoa lainnya). Saya prnah bertemu anak India hasil asimilasi ayah India Tamil dengan ibu Tionghoa Hokkien yang ngotot ngaku-ngaku Tionghoa dengan marga Yo (楊) dari ibunya dan ia juga sedang pacaran dengan amoi. Dia bersikeras bilang kalau anak asimilasi macam dia bisa dianggap Tionghoa, dia pun berdalih contohnya Anthony Wong. Saya hanya mentertawakan kebodohan bocah India ini, dia tak tahu kalau di Tiongkok ini marga dari ibu hanya digunakan untuk anak haram yang lahir tanpa ayah, seperti Anthony Wong yang ibunya pelacur di club dugem Hongkong bersenggama dengan turis bule.

Seiring dengan kemajuan dan kehebatan negara Tiongkok sekarang, banyak negara-negara lain dan ras-raa lain mendapat euforia dengan orang-orang Tionghoa dan culture Tionghoa. Saat saya studi di luar negeri, banyak teman-teman saya orang-orang Burma non-Tionghoa, tapi mereka mengaku satu nenek moyang dengan Tionghoa dan menyama-nyamakan dengan mereka dengan Tionghoa. Banyak orang-orang negro hitam dan bule di USA yang mempelajari bahasa Tionghoa dan belajar culture Tionghoa, dan bahkan tergila-gila dengan culture Tionghoa. Tidak hanya culture Tionghoa, tetapi juga culture dan bahasa kulit kuning lainnya, seperti Jepang dan Korea.

Di samping semua itu, saya lihat ada usaha asimilasi dari mereka,entah karena ingin bisa berbahasa mandarin lalu memacari student international dari Tiongkok, atau pergi mencari kerja di Tiongkok dengan menjadi guru bahasa Inggris, dan akhirnya date dengan wanita-wainta Tionghoa setempat (juga terjadi dengan wanita-wanita Jepang dan Korea). Menurut saya, euforia ini sebenernya gejala inferioritas mereka di mata bangsa Tionghoa. Mereka ingin menyatukan diri mereka ikut menjadi bangsa yang kuat. Arti pragmatisnya adalah, mereka ingin "menaklukan Tionghoa" melalui penaklukan wanita-wanitanya, atau penaklukan pria-pria tionghoa melalui bujukan kawin campur, dating, sex bebas, dan lain-lain. Mengenai artis-artis Mandarin yang bukan orang-orang Tionghoa karena ayah mereka orang dari ras lain, negara Tiongkok menganggap mereka adalah artis, tidak lebih dan tidak kurang. Tetapi propaganda licik dari bangsa-bangsa ras inferior lain membuat hasil percampuran artis-artis komersial non-Tionghoa ini menjadi pembenaran bagi mereka untuk asimilasi. Tolong diwaspadai.