Amoy Ditusuk Pacar Fankui 29 Kali

Sudah hal yang umum bila hubungan percintaan antara lelaki Fankui dengan amoi Tionghoa selalu berakhir dengan kerugian di pihak si wanita Amoi. Jelas saja, hubungan asimilasi ini pada dasarnya tidak berlandaskan cinta, hanya berawal dari pikiran cabul lelaki-lelaki fankui yg terangsang akan kemulusan kulit wanita Amoi dan kemolekan wajah oriental, seringkali juga disertai motivasi pemerasan kepada keluarga si Amoi yang dianggap kaya oleh si Fankui kekasihnya.

Saya baru saja mendengar cerita dari teman kuliah saya asal Palembang kisah nyata tragis seorang Amoi bernama Yulia (lihat foto di bawah), yang berujung maut akibat hubungan asmara dengan lelaki Fankui Melayu bernama Heriansyah. Si Amoi akhirnya tewas meregang nyawa akibat ditujah berkali-kali oleh Fankui kekasihnya ketika tahu bahwa si Amoi dijodohkan dengan seorang Akhew oleh keluarganya. Adapun si lelaki Fankui ini masih berhutang sejumlah uang pada si Amoi, lalu ketika ditagih ia marah dan semakin memicu aksi pembunuhan pada si Amoi.

Para sister Amoi seluruh Indonesia wajib membaca kisah nyata berikut ini yang jarang dipublish di media. Sehingga diharapkan kisah tragis ini bisa meningkatkan kewaspadaan para Amoi terhadap invasi para lelaki Fankui. Adapun inilah berita selengkapnya yang saya coba cari di internet.


PALEMBANG — Sungguh sadis. Diduga terlibat cinta segi tiga, Yulia Purnama Sari alias Amoy (21) tewas dibantai Heriansyah (21), pacarnya sendiri. Yuli dibantai dengan 29 tusukan di sekujur tubuhnya, Sabtu (21/6) sekitar pukul 08.30.

Tragedi pembunuhan itu terjadu setelah keduanya bertemu di kawasan Jl Talangjambi Kelurhan Talangjambi, Kecamatan Sukarame tak jauh dari rumah Yuli. Setelah membunuh pacarnya, Heri pulang melapor ke orangtua di kawasan Seberang Ulu dan Ketua RT. Atas saran orangtua dan Ketua RT, dia lalu menyerahkan diri ke Polsek Sukarame.

Heri nekat membantai pacarnya diduga karena Yuli telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria lain, dan berencana menikah bulan depan. Tewasnya pegawai Kafe Transit Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II ini, membuat gempar seluruh warga Talangjambi. Keluarga korban pun sangat terpukul terutama kedua orang tua dan kakak Yuli, Awi (25) yang terlihat meradang dan tak henti-hentinya mengusap air mata.

Awi memang paling dekat dengan Yuli. Masih terbayang di matanya, si adik yang paling disayang sempat membersihkan rumah bahkan memasak untuk kedua orang tuanya, kakak, dan adiknya.

Saking kesalnya Awi nekat memukul Heri saat menjalani pemeriksaan di Mapolsekta Sukarame, sekitar pukul 12.00. Saat itu Heri yang baru saja menjalani pemeriksaan di ruang Kanit Reskrim Polsekta Sukarame, Iptu Aditya digelandang petugas menuju ruang tahanan, tiba-tiba saja Awi merangsek maju menyerang dan memukuli wajah Heri hingga luka memar.

“Aku kesal, dia (yuli) dibunuh seperti itu. Pagi tadi aku masih sempat melihatnya menyapu dan memasak. Tidak ada firasat apapun,” kata Awi.

Menurut informasi, hubungan Yuli dengan Heri sejak lama tak mendapat restu dari keluarga. Sebab, Heri, warga Jl Rasyid Sidik RT 17 Kecamatan Seberang Ulu (SU) I ini, dinilai kurang memiliki tatakrama. Keluarga pun memberi nasihat kepada Yuli.

Yuli telah lama dijodohkan dengan seorang pria pilihan orang tuanya. Meski hingga kini belum diketahui siapa pria yang disebut-sebut orang ketiga dalam hubungan sejoli yang sama-sama bekerja di Bandara SMB II.

Hal ini diungkapkan saudara perempuan korban, Novi (25). Dengan berbagai pertimbangan, Yuli memutuskan hubungan dengan pelaku dengan cara baik-baik. “Heri memang kasar dan kurang sopan,” kata Novi.

Namun, diputuskan begitu saja membuat Heri tak terima dan menghubungi Yuli melalui ponsel. Mereka berjanji bertemu tidak jauh di lokasi kejadian sekitar 500 meter dari rumah Yuli. Disinilah kejadian tragis itu dimulai.

Menurut saksi mata, Eri (17) yang merupakan keponakan korban, Yuli dan Heri kemudian terlibat pertengkaran di lokasi. Dengan pisau di tangan, Heri yang terlihat kalap kemudian menghabisi Yuli dengan 29 luka tusukan di sekujur tubuh. “Saya sempat melihat, bahkan pelaku sempat mengancam saya jangan cerita ke orang lain,” kata Eri yang sengaja diminta keluarga untuk membuntuti Yuli pergi. Eri kemudian menjerit minta tolong. Warga pun mendengar jeritan dan berlari menuju lokasi kejadian dan menemukan Yuli sudah tergeletak bersimbah darah.

Heri melarikan diri dengan sepeda motor. Ayah korban yang juga Ketua RT 39, A Han (50) terlihat. “Saat kami menolong, dia masih hidup dan merintih kesakitan, tapi pelakunya sudah lari,” kata A Han.

Yuli meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit karena kehabisan darah, belum lagi macetnya lalu lintas juga membuat korban terlambat mendapat pertolongan medis yang hingga akhirnya korban dibawa ke Instalasi Forensik RSMH Palembang dan ditempatkan di kamar mayat.

Dokter Forensik RSMH Palembang, dr Binsar Silalahi, SpF, SH usai melakukan pemeriksaan mengatakan, luka korban sebanyak 29 titik, terdiri 19 luka tusuk di tubuh bagian belakang, lima titik diperut kiri depan dan empat titik lainnya di bagian dada dan satu di kepala.

Dari banyak luka itu, terdapat tiga luka yang tergolong dalam. Pertama di bagian belakang tusukan pisau tembus ke bagian dalam, dan di perut dengan luka melebar hingga organ usus nyaris keluar. “Pembunuhan ini tergolong sadis,” kata dr Binsar.

Dengan wajah pucat pasi dan terlihat letih, Heriansyah yang ditemani kedua orang tuanya mendatangi Mapolsekta Sukarami, Sabtu (21/6) siang untuk menyerahkan diri. Di hadapan petugas pemeriksa, Heri mengaku sakit hati lantaran kerap dihina dan dicaci sang pacar. Heri mengaku kesal, cemburu, dendam, dan bercampur baur sehingga membuat dia khilaf dan membunuh sang kekasih yang sebenarnya sangat dicintainya itu.

Namun pemuda ini menolak perbuatan itu dikatakan karena cemburu. Sebab Heri mengaku masih pacaran hingga saat Yuli meninggal. Menurut Heri, kejadian ini gara-gara dia memiliki utang sebesar Rp 700 ribu dengan sang pacar.

“Gara-gara inilah dia selalu saja kasar dan selalu mencaci maki dan menghina saya,” kata Heri.

Bahkan terakhir kali bertemu di lokasi kejadian, tempat Heri dan Yuli kerap bertemu. Lagi-lagi mereka bertengkar dan Yuli menghina dan mencacinya. Saat itu Yuli meminta utang Rp 700 ribu itu dibayar.

“Sempat saya bayar pakai HP dan sisanya saya minta tempo, tetapi dia bersikeras dan menghina saya, saya khilaf,” kata Heri.