Saya pun membenarkan tentang statement “Cinta itu Buta”, tetapi perlu kalian tahu kalau sebenarnya kita masih bisa membuat batasan-batasan tembok seperti benteng yang kokoh di dalam jiwa kita masing-masing, dengan tujuan supaya Cinta yang Buta bisa berjalan tanpa keluar dari Tembok yg sudah kita tanam di jiwa kita, yaitu jiwa semangat pelestarian Tionghoa. Kalau Anda tidak percaya, salah satu buktinya adalah orang tua yang saya yakin pernah atau sering menasihati si anak supaya "mencari pasangan yang baik", "mencari pasangan yang sudah mapan", "mencari pasangan yang dari keluarga baik-baik". Dengan nasihat orang tua di atas ini secara tidak langsung akan membuat benteng ke anak supaya mereka tidak mencari pasangan yang tidak sesuai dengan nasihat orang tua, dan hal ini harus dilakukan orang tua sejak dini.
Sebaiknya kita tidak mudah menilai kepribadian bahwa orang itu berasal dari keluarga yang baik, sifat yang baik, cerdas, dan lain-lain. Saya sangat prihatin dimana Tionghoa banyak yang kawin campur dengan Fankui hanya dikarenakan si Fankui itu pandani berakting menjadi orang baik, seolah-olah terkesan berasal dari keluarga yang baik. Buktinya sekarang banyak sekali orang-orang yang dianggap baik dan ramah di lingkungan sekitarnya, akan tetapi memiliki tujuan yang busuk, contoh kongkritnya ya sebut saja Terorisme dengan topeng Agama. Maka dari itu hendaklah kita tidak sembarang mengenal Fankui asing secara lebih dekat, dan tanamlah semangat kepedulian pelestarian Tionghoa ras mu sendiri, agar tidak terjerumus ke dalam “Cinta Buta” yang dapat merusak generasi Tionghoa di masa mendatang.
Saya percaya untuk mendapatkan pasangan yang “perfect” dalam hidup dan menurut kriteria masing-masing dari kita, pasti cara mendapatkannya akan lebih sulit juga. Jadi jangan putus asa karena sulitnya dapat jodoh dan megnambil jalan pintas kawin campur dengan ras lain dikarenakan ketakutan berlebihan bakal tidak punya istri atau suami.
