Kerusuhan Tahun 1998 Itu Telah Merenggut Kehormatanku Sebagai Wanita

Nama-ku Steffanie, umurku sekarang 29 tahun, aku lulusan sekolah bisnis dari sebuah universitas ternama di Australia, bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan Multi Nasional di Jakarta. Aku ingin menceritakan pengalaman pahitku yang terjadi kira-kira 12 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 14 Mei 1998.

Usia-ku bahkan belum genap 17 tahun. Mama-ku seorang single parents, dan kami tinggal bertiga dengan Cici-ku Carolline, 2 tahun lebih tua dari usia-ku, Kakak-ku sedang melanjutkan studi-nya di sebuah Perguruan Tinggi Swasta, dan lagi sedang berjuang merintis karier-nya di dunia Model, wajahnya sempat menghias beberapa majalah remaja saat itu. Aku pun bukannya merasa diri-ku buruk, aku sadar aku cukup cantik, sejak aku SMP pun banyak lelaki yang mengejar-ngejar-ku, bahkan seorang guru-ku semasa SMP pernah menyatakan cinta-nya pada-ku, tapi jelas itu menakutkan untuk seorang remaja yang baru tumbuh seperti-ku.

Mama-ku membuka sebuah Toko di daerah Pecinan metropolitan ini, toko yang menjual sembilan kebutuhan pokok, bukan toko yang besar memang, namun dulu lebih dari cukup untuk sekedar membiayai kebutuhan hidup kami, namun itu dulu bukan sekarang, harga-harga yang kian mencekik ditambah lagi daya beli masyarakat yang kian menurun.

14 Mei 1998, kami tak tidur semalaman, aku berusaha menutup mata-ku, namun bayangan ketakutan, ditambah suara-suara menakutkan yang seolah kudengar meski aku tahu tak ada yang terjadi, belum terjadi.

Namun semua berubah, aku ingat dengan jelas, Mama menyembunyikan aku dan cici-ku ke toilet di lantai 3, sedangkan Mama diam di luar berusaha memohon kepada para demonstran yang mulai masuk ke komplek, bukan gang tempat tinggal kami, bersama beberapa penghuni lain.

Namun yang terdengar dari tempat persembunyian kami malahan suara dobrakan pintu teralis, kaca-kaca yang pecah, dengan suara gaduh yang terdengar dari seluruh penjuru. Aku menangis, Cici-ku juga menangis, aku merasakan cekaman ketakutan yang belum pernah kurasakan seblumnya rasa takut yang begitu luar biasa, rasa takut yang membuat-ku merasakan begitu indahnya kehidupan-ku sebelumnya, aku terus menangis dan berdoa hingga akhirnya pintu kamar mandi itu didobrak paksa.

Aku tak tahu siapa, namun salah satu dari krumunan orang-orang itu menarik Cici keluar sementara yang lainnya menyerbu kedalam, suara riuh teriakan penuh kekacauan ditambah pula berbagai suara tawa dan penuh intimidasi lainnya.

Namun ditengah riuh suara itu, aku masih dapat menyaring dengan jernih apa yang kudengar saat satu suara lain menelusuk salam pendengaran-ku, aku mencari sumber suara yang sedang meraung, menangis, menjerit ketakutan, aku menemukannya, aku melihat Cici-ku sedang digumuli oleh orang-orang itu.
Aku mulai meneteskan air mata saat kulihat tubuh cici-ku diangkat oleh salah satu dari mereka, mereka menarik kaus yang dikenakannya, merobeknya sementara beberapa yang lain membuka celana yang dikenakannya.

Aku melihat dengan jelas bagaimana air mata cici-ku mengalir deras, aku tahu mereka hendak memperkosanya, namun apa yang bisa kulakukan sementara tangan-tangan kasar lain mulai menarik-narik-ku, aku memalingkan wajah-ku, aku pun bernasib sama dengan cici-ku sekarang, aku tak harus berbuat apa?? Berteriak ?? tidak akan ada gunanya.

Seketika aku terlonjak saat aku merasakan tangan-tangan itu meremas dada-ku, aku mencari tangan siapa yang meremas-ku itu, aku menoleh mencari, namun yang kulihat dari kepungan itu hanyalah wajah-wajah mereka yang penuh kemarahan.

Marah?? Marah kenapa ?? Apa aku bersalah ?? kulihat wajah mereka yang tak terawat, tato-tato yang mengisi sekujur tubuhnya, tubuh-tubuh kekar dengan wajah yag beringas tubuh mereka berbau tak enak, sementara beberapa menggumuli-ku, beberapa mereka mulai mengambil barang-barang dari rumah-ku, aku berfikir cepat aku cemas, kulihat orang-orang yang sedang menyetubuhi cici-ku, tubuh cici-ku menggeletar-geletar di atas sofa ditengah kekacauan itu.

Namun pikiran-ku berkelana, mata-ku terus mencari namun tak kutemukan, aku mencari Mama, dimana Mama namun sebuah mulut melimat bibir-ku,. Bibir kasar dengan kumis tebal yang tak terurus, bau mulutnya membuat-ku tak nyaman, aku berusaha memberontak namun aku tak berdaya, kalah tenaga ditengah kekacauan itu.

Kurasakan tangan yang lain mulai merobek kaus-ku meski aku berusaha menahannya naumn aku tak berdaya untuk mencegahnya, aku meraung, menangis tak karuan berusaha mencegah semua ini, namun aku tak berdaya, sementara beberapa orang memelorotkan celana, untuk pertama kalinya dalam hidup-ku aku melihat alat kelamin milik lawan jenis-ku. Bulunya amat lebat, aku menutup mata-ku aku menjerit dalam hati saat sebuah tangan memaksa mulut-ku membuka lebar, aku tak lagi bisa melawan kurasakan penis itu mulai masuk dalam mulut-ku, kurasakan penis itu masuk perlahan, dengan baunya yang menyengat rasanya aneh pekat.

Sementara beberapa yang lain turut membuka celana yang mereka kenakan, mereka menarik lepas celana yang kukena-kan, aku menjerit ketakutan meski tertahan oleh penis yang ada dalam mulut-ku. Aku menangis dan menjerit, aku ketakutan, saat kurasakan jemari-jemari kasar itu mulai menempel di bagian selangkangan-ku aku tak berdaya sementara tangan-tangan kekar itu menempel di pinggul-ku aku menjerit ketakutan, sementara penis dalam mulut-ku mulai menyodok-nyodok dalam mulut-ku, kadang tertahan begitu dalam membuat aku terbatuk-batuk.

Aku mengelinjang hebat penuh rasa takut saat sebuah jemari menjejal masuk, menyelusup dalam celana dalam-ku sebelum aku sempat menjerit saat tangan ini menari-nari tepat di bibir kemaluan-ku itu, penis dalam mulut-kukembali bergerak, menusuk keluar masuk membuat-ku nyaris tak punya waktu untuk menangis, belum lagi remasan-remasan di dada-ku, aku tahu aku akan segera kehilangan kehormatan-ku.

Aku belajar membenci, namun tak ada guna-nya di sudut lain diri-ku berusaha menalar kemarahan mereka, aku hanya korban, korban kesalahan dari apa yang ada saat ini, sasaran kemarahan meski aku tak tahu apa kesalahan yang aku perbuat aku takut, aku menangis. Sementara tangan-tangan liar itu menari-nari, meremas-remas dadaku, bokong-ku, mereka berlomba mencium tubuh-ku.

Namun belum sempat aku menarik nafas panjang saat penis itu ditarik dari mulut-ku, meski dengan letupan sperma yang sedikit tertelan oleh-ku, aku menangis hebat saat rasa sakit menyerang tubuh-ku, kurasakan sebuah benda asing mencoba menerobos masuk tubuh-ku.
Air mata-ku kembali mengalir, aku menangis hebat meski aku tahu aku tak berdaya apapun, namun aku ingin berjuang melepaskan diri, sementara mata-ku menatap tubuh cici-ku yang sedang disetubuhi seseorang yang bertubuh besar, penisnya mungkin lebih besar dari apa yang sedang berusaha masuk dalam tubuh-ku itu, cici-ku menjerit-jerit kesakitan, sama seperti aku yang menjerit saat itu.

Berulang kali penis itu berusaha menerjang masuk, ditengah suara tawa yang mengelelgar, sementara banyak pula teriakan-teriakan penuh provokasi lain, kurasakan tiap gerakan penis itu masuk, keluar dalam selangkangan-ku. Kututup mata-ku, menghapus pula bayangan cici-ku dalam kerumunan orang-orang itu, aku mencengkram tangan entah siapa, sementara melolong hebat saat kirasakan penis itu merobek kehormatan-ku.

Belum lagi aku sempat berfikir, kurasakan penis itu keluar masuk dalam tubuh-ku, kurasakan darah hangat mengalir melewati bokong-ku, dada-ku tak lepas dari gumulan mereka, remasan-remasan ditambah pula seseorang yang asyik menyusu di payudara-ku, tubuhku mengelinjang hebat, meski dalam sebuah pemerkosaan aku tahu tubuh seorang wanita akan terangsang juga dalam keadaan seperti ini, namun niatan dalam tubuh-ku menolak-nya.

Apalagi aku baru saja kehilangan kehormatan-ku, apalagi nada-nada ejekan yang seolah tak percaya kalau aku adalah seorang perawan. Aku menjerit penuh ketakutan, aku menangis hebat, namun lagi-lagi tertahan saat seseorang kembali menyelipkan penisnya dalam mulut-ku, aku kembali harus menerima bagaimana penis itu keluar masuk dalam mulut-ku, keluar masuk sama dengan penis yang menyelip dalam selangkangan-ku.

Orang yang sedang menyetubuhi-ku itu, kian garang kian dahsyat menyetubuhi-ku pun juga, makin liar mendesakan penisnya keluar masuk dalam tubuh-ku itu, namun tak lama kurasakan bagaimana penis itu mulai mengelar-geletar dalam vagina-ku itu, sebelim akhirnya melelehkan spermanya dalam tubuh-ku.

Entah berapa banyak lagi orang yang mengantri untuk menyetubuhi-ku, aku tak berdaya, pun juga aku tak tahu harus berbuat apa, aku tak tahu, sementara pandangan-ku mulai gelap, segelap kelamnya hari itu dalam sejarah kelam negeri ini.

Aku terbangun beberapa orang berseragam menyelemat kan-ku, entah hari itu tanggal berapa, yang pasti aku tak kunjung henti menangis, aku tak tahu harus menjadi apa sejak saat itu. Mama dan Cici-ku dinyatakan meninggal dalam tragedi itu, aku dirawat oleh kakek-ku di pinggiran kota Jakarta kemudian, mereka berusaha merawat-ku dengan semampu mereka, aku diam sejak saat itu, aku mencari pembenaran dalam hati-ku, aku membenci mereka, aku tak lagi memiliki rasa percaya pada siapa-pun di dunia ini.


Medio : Mei 2010