Kita sebagai warga Tionghoa seringkali mendengar ucapan anak-anak fanatik nasionalisme Indon yang mengatakan "tidak semua Fankui ini jahat dan cabul pada amoi seperti saat Insiden Mei 1998", lalu dengan segala kepandaian bersilat lidah mereka coba rekayasa sejarah insiden rasial Mei 1998 ini menjadi sebuah insiden berskala kecil dengan korban hanya beberapa orang, dalam cerita baru versi para nasionalis brutal ini terkesan Tionghoa yang bersalah dalam insiden ini, dan layak dibunuh, diperkosa, dan dijarah para pemuda Fankui. Begitu mudahnya kita tertipu ucapan serigala berbulu domba ini, apalagi jika yang mengatakannya adalah seorang Qiaosheng Hanjian, dimana ia berfisik ras Tionghoa seperti kita, namun berhati Fankui dan membenci negeri leluhur dan budaya sendiri.
Berikut ini ada penuturan seorang dari kawan saya, ko Santo. Melalui sebuah forum agama, ia sempat menuturkan pengalamannya mendengar langsung pembicaraan cabul yang terlontar dari mulut lelaki-lelaki Fankui pedagang ketika mereka melihat amoi cantik mampir ke kedai mereka. Siapa sangka dibalik lagak mereka yang over-act sok akrab pada wanita, ternyata memiliki fantasi cabul di benaknya. Saya sarankan para cie-cie mei-mei amoi semua untuk selalu berwaspada terhadap gelagat lelaki Fankui, yang kadang sangat manis di depan kita para amoi. Tetapi mungkin di belakang kita, mereka tengah rencanakan niat cabul pada kita. Jangan pernah beranggapan mereka ini beneran baik ke kita.
Berikut ini penuturan dari ko Santo, saya copy paste di sini:
Gua sering kebaktian di vihara ekayana graha. Kadang pergi sendiri, or berdua dengan kawan. Tidak bergaul dengan umat di sana. Cukup memanjatkan paritta untuk Hyang Buddha.
Biasanya, sesudah kebaktian, gua makan bakmi abang-abang di depan ruko Green Ville. Ada satu penjual bakmi abang-abang yg menurut gua, cukup enak. Biasa disebut bakmi Wardoyo.
Bukan cuma gua aja yang suka dengan bakmi ini, banyak Chinese (termasuk amoi) menjadi pelanggan.
Ada 2 amoi cantik, gua ga kenal mereka. Tapi sering banget liat mereka makan di sana. Nah, karena gua sering 'nongkrong' di bakmi itu yang kebetulan ada penjual rokok bernama Udin, gua jadi kenal dengan abang-abang (satpam, udin tukang rokok, tukang soto etc).
Sering ngobrol juga dengan abang-abang itu. Karenanya kita jadi sohib.
Ke 2 amoi tadi tampaknya adalah staff admin Univ. Binus. Kadang-kadang, mereka lunch pake seragam di bakmi Wardoyo. Minumnya selalu beli dari warung si Udin. Karena si Wardoyo tidak menyediakan minuman. Jadi, kedatangan mereka itu memberi keuntungan juga buat si Udin, penjual rokok pinggir jalan itu.
Nah, biasanya sesudah ke 2 amoi tadi pergi, abang-abang yg nongkrong di sana pasti ngomongin jorok soal ke 2 amoi ini.
Mereka bilang duh pantatnya asok, pasti m*m*knya enak. Duuh kepengen deh ngent*tin cina. Pasti m*m*knya lembek. Denger-denger m*m*knya juga bau. Tapi pengen deh sekali-kali nyobain m*m*k cina.
Bajingan, ga tau diuntung. Dibaikin tapi error tuh otak pribumi.
Tidak heran jika ada kesempatan seperti Mei 98, tiko-tiko ini dengan ganas memperkosa amoi-amoi. Tiko yg sadis akan menggorok leher si amoi setelah diperkosa rame-rame. Di Mei 98, ada amoi yg mati dengan vagina disodok gagang sapu. Ada amoi yg dilempar ke kobaran api sampe gosong setelah diperkosa ramai-ramai.



