
Definisi “Tionghoa Half Blood” ini seringkali tidak menemukan pemaknaan yg tepat, banyak sekali anak-anak muda Tionghoa yang tak mengetahui batasan-batasan definisi “Tionghoa Half Blood” atau “Tionghoa Campuran”, sehingga terjadi overlap yang mengkategorikan non-Tionghoa tercakup ke dalam definisi “Tionghoa Half Blood”, lalu ini menjadi lubang kecil bagi arus angin jahat propaganda asimilasi memprostitusi amoi-amoi untuk terus masuk dan memusnahkan Tionghoa dari dalam. Sebenarnya mudah saja untuk menentukan apakah dia secara sah bisa disebut Tionghoa atau bukan. Namun, keputusan menganggap dia Tionghoa atau bukan sama sekali bukan didasarkan pada pengamatan bentuk fisik saja, ada point paling penting yaitu memiliki MARGA PATRILINEAR AYAH, atau biasa kita kenal dengan istilah “Xing (姓)” atau “Seh” dalam dialek Hokkien.
Nilai-nilai Tionghoa amat sarat dengan nilai kekeluargaan. Simbol marga itu jelas bersifat komunal. Jika ada mahluk bertampang rancu yang mengaku ”saya Tionghoa” tanpa bisa menjelaskan silsilah marga patrilinear dari ayah dan engkong dari ayah mereka, ini jelas tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenaranya sebagai Tionghoa. Marga Tionghoa ini jelas mutlak 100% mengikuti garis ayah, sehingga definisi ORANG TIONGHOA ADALAH ORANG YANG TERLAHIR DARI AYAH TIONGHOA & MEMILIKI WARISAN MARGA DARI AYAH. Jadi baik ibu dia Tionghoa atau sekalipun ibu dia Fankui, Bule, India, dan bangsa lainnya, selama ayah dia Tionghoa maka dia bisa dikategorikan Tionghoa secara sah berdasarkan hukum kekeluargaan. Kalau sebaliknya, dimana ibu dia Tiongoa dan ayah dia Non-Tionghoa, maka si anak ini bertatus NON-TIONGHOA dan masuk kategori bangsa / ras dari ayahnya.
Beberapa media wikipedia sering dipakai oknum asimilator Fankui dan Qiaosheng untuk menyesatkan pemikiran generasi muda Tionghoa agar para anak haram yang lahir dari pasangan Amoi dan lelaki Fankui bisa dianggap berstatus Tionghoa dengan marga ibunya. Mereka terlalu mem-blow up peradaban Tionghoa jaman purba yang diperkirakan menggunakan sistem matrilinear sebagai sistem penamaan satu-satunya. Padahal pada jaman Tiongkok purba terdapat dua sistem kekerabatan, yaitu Xing (姓) dan Shi (氏). Namun media wikipedia menganggap sistem marga Xing itu “matrilinear” hanya karena Xing terdapat guratan huruf “Nv (女;wanita)”. Memang yang paling bertahan sampai sekarang adalah sistem Xing, namun isu mengenai hubungan matrilinear atau tidaknya pada system Xing itu sendiri ternyata masih diperdebatkan pakar sejarah Tiongkok. Nah, bagaimana bisa oknum awam Fankui penulis literatur wikipedia sok tahu tentang hal ini?
Pertama kali sosok yang mengungkapkan bahwa Xing adalah matrialinear tercatat dalam catatan Sima Qian, dengan studinya terhadap beberapa Jiaguwen (atau Orakel) zaman kuno yang diperkirakan sejak zaman Dinasti Zhou bahkan lebih. Di sisi lain, ada yang meyatakan bahwa sebenarnya Xing dengan karakter yang mengandung unsur perempuan itu tidak berarti matrialinear, karena sistem Xiang sendiri bermaksud untuk menunjukan bahwa “ia yang dilahirkan”, karena yang melahirkan pastinya perempuan, maka digabunglah karakter Nv (女;wanita) dan Sheng (生;lelaki) untuk menunjukan sistem kekerabatan yang hingga kini digunakan itu. Memang sampai sekarang ada anak Tionghoa yang memakai marga ibu, namun biasa ini untuk kasus anak yatim yang lahir dari wanita Tionghoa yang diperkosa atau ditinggal kekasihnya saat hamil, sehingga pemakaian marga Xing dari ibu ini sangat negatif maknanya.
Status ketionghoaan tidak bisa diidentikan dengan kemampuan lingual berbahasa Mandarin atau Fang Yan (bahasa daerah Tionghoa). Anak-anak haram yang lahir dari proses asimilasi ayah Fankui (atau Non-Tionghoa lainnya) dan ibu Tionghoa asli, sekalipun fasih Mandarin atau Fang Yan, atau bahkan jadi scholar sastra China, tetap tidak bisa dikategorikan Tionghoa. Banyak juga Bule, Negro, atau bangsa lain yang lama menetap di Tiongkok untuk belajar bahasa, kini mereka fasih Mandarin. Nah, apakah lantas orang-orang asing ini secara tiba-tiba bisa disebut orang Tionghoa? Lalu, kita semua para Hua Qiao hanya karena bercakap bahasa Indonesia, apa lantas langsung mengalami degaradasi menjadi disebut Fankui? Tentu tidak.
Salah satu komunitas yang bisa kita amati adalah China Benteng yang fisiknya hampir seperti Fankui, juga buta Mandarin, namun memiliki nama Tionghoa dan menjalankan tradisi ritual Tionghoa. China Benteng ini sebenarnya sah sekali untuk dikategorikan Tionghoa. Pernahkah terpikir mengapa komunitas mahluk ras baru di Tangerang ini disebut China-Benteng bukan Betawi-Benteng? Baiklah kita telusuri silsilah mereka. Sebenarnya leluhur China Benteng ini adalah lelaki-lelaki Tionghoa Hokkien yang datang ke Indonesia pada abad ke-18 dengan janji bahwa mereka akan tetap loyal terhadap Tiongkok dan Kaisar Dinasti Qing. Mereka datang bersama-sama dengan kapal dagang Belanda, mereka datang dengan motivasi mendapat penghasilan yang lebih layak dengan menjadi tentara kolonial Belanda. China Benteng golongan adalah proyek “Tionghoa Baru” dari pemerintah kolonial Belanda yaitu "One harmony between 3 races, under one loyalty to the Dutch colonial Empire", dimana programnya lelaki Tionghoa Hokkien kawin dengan wanita Fankui ataupun wanita Bule Belanda selama beberapa generasi. Sehingga secara status patrilinear mereka ini termasuk Tionghoa, bukan Fankui. Sehingga bukan istilah Betawi-Benteng yang dipakai untuk merujuk pada ras baru ini. Tetapi ironisnya, anak-anak Tionghoa full blood kadang menganggap China Benteng ini sebagai Fankui, di sisi lain mereka menganggap Tionghoa pada anak haram teman gereja mereka yang terlahir dari ayah Fankui Batak dan ibu Tionghoa, namun mujur sekali dia masih memiliki kulit kuning Tionghoa.
Terlepas dari permasalahan definisi “Tionghoa Half Blood”, sebenarnya lebih baik kita harus tegas memberi definisi Tionghoa. Bagi anak-anak Tionghoa yang terlahir dari rahim ibu Non-Tionghoa, tak perlu kalian menyebut diri kalian “saya peranakan” atau “saya Tionghoa campuran”, sebutlah dengan yakin kalau dirimu ini TIONGHOA. Istilah “Tionghoa Half Blood”, “Tionghoa Campuran”, atau “Tionghoa Peranakan” hanyalah akal-akalan elit Fankui yang bajingan untuk menyita perhatian kita akan negeri leluhur Tiongkok, supaya originalitas Tionghoa-nya lepas, dan kita dipaksa berdedikasi pada negeri biadab yang telah berusaha memusnahkan Tionghoa. Orang-orang yang secara status sah sebagai Tionghoa tidak seharusnya terpecah hanya karena kandungan darah murni. Pada dasarnya lebih mulia anak-anak “Tionghoa Half Blood” yang tetap mengabdi pada negeri leluhur, daripada anak-anak “Tionghoa Full Blood” yang menjadi penghianat kaum sendiri karena terjebak pada ideologi ultra-nasionalisme Fankui.