Salah satu faktor yang menyebabkan
penindasan Fankui terhadap Tionghoa tidak pernah berakhir bukan saja disebabkan
dari kebiadaban Fankui itu sendiri. Akan tetapi juga diakibatkan oleh faktor
internal dalam tubuh Tionghoa sendiri. Di Indonesia sudah sangat terkenal
dengan kerusakan mental generasi Tionghoa-nya, yang umumnya selalu merasa
inferior “pasti kalah” bila berseteru dengan Fankui. Sangat menyedihkan, bahkan
dari segelintir kasus perseteruan antara Tionghoa dengan Fankui, selalu saja
diakhiri dengan pihak Tionghoa yang mengalah dan mengabulkan
keinginan-keinginan gila yang diajukan pihak jahanam Fankui, sekalipun pihak
Tionghoa lah yang tidak bersalah.
Memang tak bisa dipungkiri, generasi
Tionghoa di Indonesia ini sebenarnya jadi “banci” karena dibiasakan untuk mengalah kepada Fankui sejak era Orde Baru. Lama
kelamaan jadilah inferior dan
sangat takut kepada Fankui. Bahkan sampai banyak orang Tionghoa yang beranggapan tenaga Fankui
(yang notaben badannya kurus dan kecil) lebih besar ketimbang tenaga Tionghoa. Aku sungguh kecewa terhadap
pemikiran ini, padahal kalau dilihat rata-rata badan orang Tionghoa itu besar dan berisi, lebih
banyak pemuda-pemuda Tionghoa yang hobi fitness (body building) ketimbang
Fankui. Lucunya, mengapa takut kepada
Fankui yang secara fisik kalah, apalagi secara kualitas otak.
Saya bahkan kecewa dulu di depan mata melihat teman sekolah lelaki
Tionghoa dipalak Fankui kurus dengan
ancaman “gak
dikasih gua tikam lu”
langsung sebegitu takut dan
menangis layaknya pecundang. Ini
ironis sekali jika kita bandingkan dengan mentalitas leluhur Tionghoa di masa
perang melawan imperialisme Jepang, dimana semboyan “一不怕苦,二不怕死 (yī
bù pà kǔ, èr bù pà sǐ)” selalu menjadi semangat keberanian pejuang Tionghoa.
Ironisnya,
malah saya menemukan
satu kisah seorang wanita
Amoi lah yang lebih pemberani melawan pemalak Fankui, mempertahankan
barang miliknya. Meskipun dia mati, namun dia mati
terhormat. Itu seorang wanita. Kalian para pemuda Tionghoa keturunan Naga ini tidak malu meliat keberanian Amoi (yang adalah wanita) jauh lebih
besar dari anda? Setidaknya Amoi ini sudah membuktikan kalau
Tionghoa bukan bangsa pengecut. Silakan baca kisah Amoi pemberani ini. Semoga sifat penakut Tionghoa ini bisa diubah,
secara perlahan namun pasti.
Natalia Amanda Setiawan (16), siswi kelas 2 SMA IPEKA International Christian School, Jalan Batu Mulia Kembangan, Jakarta Barat, tewas ditusuk pencopet. Ia menderita luka tusukan di bagian perut. Amanda ditusuk di dekat Lotte Mart, tak jauh dari sekolahnya, Selasa (29/3) sore.
Amanda sempat dilarikan ke UGD Rumah
Sakit Siloam, Kebonjeruk, Jakarta Barat, oleh sopir jemputan sekolah tersebut
dan dua orang staf sekolah sekitar pukul 17.15, namun sudah dalam keadaan sudah
tidak bernafas lagi.
Menurut dokter UGD Rumah Sakit
Siloam Leonardo Paskah, Amanda ditemukan oleh sopir jemputan dalam keadaan
terkapar bersimbah darah pada pukul 16.30.
“Menurut kesaksian sopir, ia
langsung membawa Amanda ke sekolah untuk dilaporkan ke pihak staf, lalu
dilarikan ke rumah sakit,” ujar Leonardo saat ditemui Warta Kota, Selasa malam,
di UGD Rumah Sakit Siloam.
Leonardo menambahkan, Amanda tewas sehari sebelum gadis itu merayakan ulang tahunnya yang jatuh pada Rabu (30/3) ini.
Leonardo menambahkan, Amanda tewas sehari sebelum gadis itu merayakan ulang tahunnya yang jatuh pada Rabu (30/3) ini.
Jenazah Amanda kemudian dibawa ke
Rumah Duka Dharmais, Slipi, Jakarta Barat pada pukul 19.00. Hingga berita ini
diturunkan, belum ada info lebih lanjut mengenai orangtua Amanda, dan latar
belakang Amanda.
Menurut informasi yang dihimpun dari
berbagai sumber, kemarin sore Amanda pulang sekolah sekitar pukul 16.00 karena
mendapat hukuman. Hal tersebut mengakibatkan Amanda tertinggal mobil jemputan
sekolah.
Amanda pun akhirnya berjalan kaki.
Di tengah perjalanan, tak jauh dari sekolah, Amanda dihampiri pencopet yang
bermaksud mengambil ponsel Amanda. Secara spontan Amanda yang kaget melakukan
perlawanan. Namun pencopet itu ternyata membawa senjata tajam. Perlawanan
Amanda terhenti setelah senjata tajam menghujam dan merobek perutnya.
Natalia Amanda Setiawan yang tewas diduga ditusuk perampok, dikenal sebagai gadis pintar yang tomboy. Di sekolahnya, SMA IPEKA Kristen Internasional, remaja itu ikut eskul bela diri Aikido.
“Dia anaknya tomboy dan ikut
Aikido,” kata Wakil Kepala Sekolah SMA IPEKA Kristen Internasional,
Kristhianto Nathanael di Rumah Duka Darmais, Jalan S Parman, Slipi, Jakarta
Barat, Rabu (30/3/2011).
Selain pintar dan tomboy, Amanda
juga seorang siswi yang rajin. Namun entah mengapa, Selasa 29 Maret kemarin
Amanda datang terlambat ke sekolah. Karena itu saat pulang sekolah, Amanda
sempat dipanggil dulu.
“Biasanya pulang pukul 15.10
WIB, tapi kemarin dipanggil dulu jadi pulang pukul 15.30 WIB,” kata
Kristhianto.
Kristhianto mengatakan, Amanda
ditemukan tidak jauh dari sekolah. Saat itu, Amanda berjalan gontai dan
langsung tidak sadarkan diri. Saat dibawa ke RS Siloam, nyawa Amanda tidak
tertolong.
“Ditemukan salah satu driver
kita, anak ini berjalan gontai, langsung dibawa ke sekolah baru dibawa ke RS
Siloam, ternyata nyawanya tidak tertolong,” kata Kristhianto.

