Dalam kehidupan masyarakat Tionghoa kadang terjadi kekeliruan persepsi akan status seorang Fankui yang pada akhirnya malah dianggap Tionghoa dan diperbolehkan pacaran dan senggama dengan Amoi Tionghoa. Sebaliknya ada juga kasus Amoi yang seharusnya berstatus Tionghoa malah dikategorikan Fanpoh dan membuat dia "feel free" untuk pacaran dan senggama dengan lelaki Fankui. Adapun contoh kasus-kasus ini yang sering rancu adalah sebagai berikut.
★ KASUS 1 : Seorang lelaki Fankui berkawin dengan Amoi, namun si lelaki Fankui bersedia memberi marga Tionghoa (dari marga si Amoi) untuk anak mereka agar tetap dianggap Tionghoa.
→ Pertama anda mesti pertanggungjawabkan, apakah marga Tionghoa dari ibu bersifat legal dan sah? Sejak dimulainya masa Dinasti Zhou awal, leluhur orang Tionghoa (etnik Han) sudah sudah secara resmi memakai marga mengikuti patrilinear ayah, bahkan tradisi ini pun tetap dijalankan pada era dinasti Yuan Mongol dan Qing Manchu yang bukan dipimpin orang Han. Bahkan sampai sekarang semua 56 suku di Tiongkok (dalam definisi Zhonghua Minzu) memakai sistem patrilnear. Memang ada Tionghoa yang memakai marga ibu, namun biasa ini untuk kasus anak yatim yang lahir dari wanita Tionghoa yang diperkosa atau ditinggal kekasihnya saat hamil, sehingga pemakaian marga ibu ini sangat negatif maknanya. Jadi apabila anak haram asimilasi dari pasangan ini bersikeras menganggap dirinya Tionghoa, maka tak lebih anak nekad ini hanya sejajar dengan Tionghoa hina yang lahir dari pernikahan tak resmi (atau married by accident).
Yang perlu diperhatikan adalah masalah pembodohan. Beberapa media wikipedia sering dipakai oknum asimilator Fankui dan Qiaosheng untuk menyesatkan pemikiran generasi muda Tionghoa agar para anak haram yang lahir dari pasangan Amoi dan lelaki Fankui bisa dianggap berstatus Tionghoa dengan marga ibunya. Mereka terlalu mem-blow up peradaban Tionghoa jaman purba yang diperkirakan menggunakan sistem marga Xing (姓) yang bersifat matrilinear. Memang yang paling bertahan sampai sekarang adalah sistem Xing, namun isu mengenai hubungan matrilinear atau tidaknya pada system Xing itu sendiri ternyata masih diperdebatkan pakar sejarah Tiongkok. Nah, bagaimana bisa oknum awam Fankui penulis literatur wikipedia sok tahu tentang hal ini? Pertama kali sosok yang mengungkapkan bahwa Xing adalah matrialinear tercatat dalam catatan Sima Qian, dengan studinya terhadap beberapa Jiaguwen (atau Orakel) zaman kuno yang diperkirakan sejak zaman Dinasti Zhou bahkan lebih. Di sisi lain, ada yang meyatakan bahwa sebenarnya Xing dengan karakter yang mengandung unsur perempuan itu tidak berarti matrialinear, karena sistem Xiang sendiri bermaksud untuk menunjukan bahwa “ia yang dilahirkan”, karena yang melahirkan pastinya perempuan, maka digabunglah karakter Nv (女;wanita) dan Sheng (生;lelaki) untuk menunjukan sistem kekerabatan yang hingga kini digunakan itu.
Yang perlu diperhatikan adalah masalah pembodohan. Beberapa media wikipedia sering dipakai oknum asimilator Fankui dan Qiaosheng untuk menyesatkan pemikiran generasi muda Tionghoa agar para anak haram yang lahir dari pasangan Amoi dan lelaki Fankui bisa dianggap berstatus Tionghoa dengan marga ibunya. Mereka terlalu mem-blow up peradaban Tionghoa jaman purba yang diperkirakan menggunakan sistem marga Xing (姓) yang bersifat matrilinear. Memang yang paling bertahan sampai sekarang adalah sistem Xing, namun isu mengenai hubungan matrilinear atau tidaknya pada system Xing itu sendiri ternyata masih diperdebatkan pakar sejarah Tiongkok. Nah, bagaimana bisa oknum awam Fankui penulis literatur wikipedia sok tahu tentang hal ini? Pertama kali sosok yang mengungkapkan bahwa Xing adalah matrialinear tercatat dalam catatan Sima Qian, dengan studinya terhadap beberapa Jiaguwen (atau Orakel) zaman kuno yang diperkirakan sejak zaman Dinasti Zhou bahkan lebih. Di sisi lain, ada yang meyatakan bahwa sebenarnya Xing dengan karakter yang mengandung unsur perempuan itu tidak berarti matrialinear, karena sistem Xiang sendiri bermaksud untuk menunjukan bahwa “ia yang dilahirkan”, karena yang melahirkan pastinya perempuan, maka digabunglah karakter Nv (女;wanita) dan Sheng (生;lelaki) untuk menunjukan sistem kekerabatan yang hingga kini digunakan itu.
★ KASUS 2 : Seorang bocah Fankui yang diadopsi dan dibesarkan di keluarga Tionghoa, lalu diberi marga dan nama Tionghoa.
→ Kasus mengadopsi anak Fankui seperti ini memang menjadi bom waktu yang sangat menakutkan, banyak sekali pasangan Tionghoa yang salah satunya mandul, namun sangat bernafsu mempunyai anak (terutama anak lelaki) dan sembarangan mengadopsi anak dari ras Fankui. Pertama-tama, sebagai orang tua Tionghoa yang bijak, tentunya tidak akan pernah mengadopsi anak Fankui dalam lingkungan Tionghoa. Dalam ilmu biologi kita tahu kalau manusia memiliki genetik "sifat" selain genetik "fisik" (warna kulit, mata, rambut, dan lainnya). Sehingga tentu saja sebagaimanapun anak Fankui di didik Tionghoa, maka kelak dewasa "sifat" asli Fankui nya akan muncul, walaupun secara intensitas mungkin tak akan sebarbar Fankui yang hidup dalam budaya aslinya. Bila mengadopsi anak Fankui (apalagi berkelamin lelaki), ini sama saja orang tua Tionghoa itu tidak punya nurani, sengaja memberi seorang Fankui tameng label "nama Tionghoa" untuk membuatnya berkesempatan senggama dengan wanita Amoi kaum kita. Menurut saya, marga Tionghoa milik bocah Fankui ini pun TIDAK LEGAL, karena ayah asli si Fankui tetaplah Fankui. Aturan pemberian marga dalam patrilinear Tionghoa yang "sah" hanya untuk anak asli.
→ Kasus mengadopsi anak Fankui seperti ini memang menjadi bom waktu yang sangat menakutkan, banyak sekali pasangan Tionghoa yang salah satunya mandul, namun sangat bernafsu mempunyai anak (terutama anak lelaki) dan sembarangan mengadopsi anak dari ras Fankui. Pertama-tama, sebagai orang tua Tionghoa yang bijak, tentunya tidak akan pernah mengadopsi anak Fankui dalam lingkungan Tionghoa. Dalam ilmu biologi kita tahu kalau manusia memiliki genetik "sifat" selain genetik "fisik" (warna kulit, mata, rambut, dan lainnya). Sehingga tentu saja sebagaimanapun anak Fankui di didik Tionghoa, maka kelak dewasa "sifat" asli Fankui nya akan muncul, walaupun secara intensitas mungkin tak akan sebarbar Fankui yang hidup dalam budaya aslinya. Bila mengadopsi anak Fankui (apalagi berkelamin lelaki), ini sama saja orang tua Tionghoa itu tidak punya nurani, sengaja memberi seorang Fankui tameng label "nama Tionghoa" untuk membuatnya berkesempatan senggama dengan wanita Amoi kaum kita. Menurut saya, marga Tionghoa milik bocah Fankui ini pun TIDAK LEGAL, karena ayah asli si Fankui tetaplah Fankui. Aturan pemberian marga dalam patrilinear Tionghoa yang "sah" hanya untuk anak asli.
Adapun efek terburuknya dari mengadopsi anak lelaki Fankui adalah kelak saat anak ini beranjak dewasa dan puber, maka dirinya yang terbiasa mengenal Amoi, akan merasa layak untuk mendapatkan pasangan Amoi. Kalaupun tercapai cita-citanya pacaran dan kawin dengan amoi, sudah pasti disaat dia jalan-jalan main bersama istri Amoi nya ke mall atau public space yang banyak Fankui, maka para Fankui lain akan menanggapi kalau dewasa ini Tionghoa sudah memperbolehkan anak wanitanya kawin dan senggama dengan lelaki Fankui. Para Fankui awan mana peduli anak Fankui adopsian ini berjiwa Tionghoa atau bukan, yang pasti kalau fisik dia Fankui pasti diterjemahkan Fankui oleh sesama ras nya. Bukankah ini suatu bahaya juga buat Amoi-amoi lainnya?! jadi kalau adayang bertanya sebaiknya dikawinkan dengan ras apa, saya jawab dengan tegas : KAWINKAN DENGAN FANPOH dari ras dia, lalu beri kesempatan anak adopsi ini balik kembali pada habitat asli dia di masyarakat Fankui, jangan jadi benalu di keluarga Tionghoa.
★ KASUS 3 : Amoi half-blood dari ayah Akhew dan ibu Fanpoh, namun berpacaran dengan lelaki Fankui karena merasa dirinya termasuk Fanpoh, terlebih memiliki agama yang sama.
→ Pertama saya mau jelaskan dulu kalau status seorang anak Tionghoa yang lahir dari ayah Tionghoa dan ibu Non-Tionghoa masih kita kategorikan sebagai TIONGHOA. Ini karena anak tersebut masih bisa memiliki marga patrilinear dari ayah (asli) yang sah. Jadi walaupun amoi ini sudah tak begitu berfisik Tionghoa, ia tetaplah Amoi Tionghoa, dan wajib kita lindungi dari invasi lelaki Fankui cabul. Mengenai kasus sampai ia pacaran dengan Fankui di tempat ibadahnya, saya rasa contoh kasus yang sering terjadi adalah pembodohan Fankui Kristen suku Batak atau Manado yang memakai doktrin "saudara seiman" untuk membodohi Amoi jemaat gereja dan mencari kesempatan senggama dengannya. Bukan Kristen saja, kasus inipun bisa terjadi di kalangan Amoi muallaf yang beribadah di pesantren mayoritas Fankui ataupun juga di kalangan Vihara Theravada yang banyak dikelola pengurus Fankui, yang kadang pro separatis Tibetan dan anti pemerintah Tiongkok. Buat saya, tidak ada penilaian khusus agama mana yang ajarannya lebih baik dan cocok untuk Tionghoa. Yang terpenting adalah bagaimana caranya ajaran agama tidak membuat Tionghoa lebih mengedepankan status agama daripada status bangsa Tionghoa, jangan sampai Tionghoa tersebut jadi merasa masih kerabat dari bangsa Yahudi, Arab, atau India, karena bangsa tersebut membuat mitos agama ini. Ingat, sekalipun kamu merasa dilindungi oleh dewa rekayasa mitos fiktif Yahudi, Arab, India, atau bangsa lainnya, namun ada fakta yang tak bisa dibantah, yakni darah yang mengalir dalam tubuhmu tetaplah darah yang berasal dari daratan Tiongkok. Untuk antisipasinya, saya sarankan pada Amoi half blood tersebut untuk coba aktif pada kegiatan lain di luar vihara, cobalah untuk bergaul di lingkungan Huiguan 会馆 (Organisasi Tionghoa). Lalu yang terpenting juga, jangan ada Tionghoa full blood sombong yang menghina Amoi ini karena ibunya Fanpoh. Ini akan membuat mental dia jatuh, lalu ia akan berkiblat pada nasionalisme Fankui, merasa dirinya Fankui.


