Ideologi Pembauran Sebagai Upaya Pemerintahan Indonesia Memusnahkan Etnik Tionghoa

  
Beberapa anak Tionghoa kelas Qiaosheng menyuruh setiap komunitas etnis Tionghoa untuk berbaur dengan segala ras yang ada di Indonesia terutama ras mayoritas Fankui, mungkin agar kejahatan terhadap kemanusiaan dan pelanggaran berat HAM seperti aksi Anti-Tionghoa Mei 1998 tidak terjadi. Katanya supaya anak Tionghoa tidak dimaki “DASAR CINA ANJING” atau istilah rasis lainnya. Bahkan yang lebih gila lagi, ada usulan dari anak Tionghoa untuk pindah agama fiktif buatan Arab atau Yahudi dan kawin dengan Fankui dari agama tersebut. Katanya, kalau sudah demikian maka rasisme Anti-Tionghoa niscaya bisa hilang.

Kata ‘PEMBAURAN’ itu bagi saya bermasalah. Saya ingat komentar dari Sinologi Universitas Indonesia bernama Romo Ignatius Wibowo tentang “Pembauran” ini. Menurut Ignatius Wibowo, dalam kamus Orde Baru, kata “pembauran” itu berarti PEMBERANGUSAN IDENTITAS & BUDAYA TIONGHOA. Maybe you should find another term better than “berbaur”. Saya lebih memilih term: “peaceful co-existence”. Ingat tidak dengan kecaman suku Aborigin baru-baru ini berkaitan dengan program asimilasi White Anglo-Saxon? Program Asimilasi (baca: pembauran) itu ternyata adalah proyek memusnahkan bangsa Aborigin. Sayangnya, program itu juga diadobsi oleh Suharto dan antek-anteknya. Bedanya adalah pemerintah Australia kemudian menyadari hal ini dan meminta maaf secara terbuka untuk bangsa Aborigin. Tetapi pemerintah fasis Republik Indonesia tidak pernah sadar akan aksi rasis terselubung ini. Malah ekstrimnya, kita Tionghoa tetap dipaksa menghargai nama besar bangsa Fankui Pribumi dan pemerintah Republik Indonesia ini yang 99% menyerupai fasisme anti mintoritas versi NAZI Jerman.

Kalau saya berprinsip walau bagaimanapun tak mau kawin dengan lelaki Fankui sekalipun sudah tak ada lelaki Akhew di tempat kita. Bahkan secara ekstrim saya katakan lebih baik saya menjadi lesbi kawin dengan Amoi lagi daripada dipaksa kawin dengan lelaki Fankui. Coba renungkan, selama ini kita sudah baik dan banyak berkorban di Republik fasis ini. Temen saya dari banyak ras, ada turunan Bule, India, Arab dan macam-macam. Tapi kan saya tak perlu merid sama Bule, India, atau Arab. Saya bangga kok dengan ke-Tionghoa’an saya. Perabadaban kita sudah berusia 5000 tahun lebih. Leluhur kita sudah sangat beradab sebelum Inggris memasuki revolusi industri. Empat penemuan besar ditemukan oleh leluhur bangsa kita dan dunia merasakan dampak positifnya. Keempat penemuan itu adalah kertas, kompas, mesin cetak, mesiu.

Kembali ke topik paksaan pernikahan campur, dulu di awal tahun 50-an ada anjuran agar etnik Tionghoa kawin dengan Fankui, agar Tionghoa menjadi WNI yang baik. Lalu yang jadi korban anjuran kawin campur ini adalah gadis-gadis Tionghoa yang jalan ke pasar dicolek-colek buaya Fankui. Anjuran kawin ini diterjemahkan menjadi sedemikian porno, lantas jika tertatam bibit libido di benak lelaki Fankui itu maka tinggal tunggu momentumnya saja, perempuan Amoi Tionghoa diperkosa rame-rame.

Kisah si Agnes Monica pacaran dengan Fankui Manado saja sudah membuat jijik, karena itu menginspirasi buaya-buaya Fankui lainnya untuk meniduri perempuan Amoi Tionghoa yang katanya putih-putih mulus bikin nafsu itu. Jangan lupakan juga fakta, siapakah yang perkosa perempuan Amoi, jarah toko milik babah Tionghoa, rampok dan bakar rumah warga Tionghoa? Yang gawat itu ada semacam “keharusan” di otak lelaki Fankui bahwa wanita Amoi Tionghoa mesti tak boleh keberatan pacaran dengan Fankui. Contoh kasus Agnes Monica itu memberi citra bahwa wanita Amoi umumnya gampangan di mata mereka.

Mengenai ‘pembauran’ agama juga, coba kamu pergi ke mesjid Karim Oey di Jalan Lautze, Jakarta. Nah disitu terdapat sekelompok “cina-muslim”. Cari yang namanya Haji Junus Jahja alias Lo Chuan To. Dia itu mendirikan Partai Pembauran Indonesia bersama Ali Karim Oey, Verawati Fajrin dan sederet tokoh Qiaosheng lainnya. Dia masih menganjurkan agar Tionghoa ganti nama, masuk agama Arab dan kawin campur. Perlu diperhatikan, kalau pejabat bilang “menganjurkan” artinya “pemaksaaan”. Apalagi yang ngomong itu tentara jenderal. Anjuran kawin campur itu sering tidak secara langsung dan bersifat halus. lewat tayangan-tayangan film dan infotainment. Kasus si Agnes Monica pacaran sama Fankui Manado diblow-up besar-besaran, seakan hendak dijadikan trend buat wanita Tionghoa harus pacaran dengan Fankui. Anjuran semacam ini jelas membunuh satu garis keturunan Tionghoa. Apabila wanita Tionghoa kawin dengan lelaki non-Tionghoa maka keturunan dari si wanita itu jelas bukan Tionghoa lagi, karena tidak punya marga patrilinear yang sah dari garis ayah. Ini mengapa saya katakan “MEMBUNUH SATU GARIS KETURUNAN TIONGHOA”. Sedangkan untuk istilah merusak keturunan secara genetic lebih tepat untuk anak dari ayah Tionghoa dan ibu Fanpoh (non-Tionghoa), dimana anak mereka masih bermarga Tionghoa, namun tak lagi berfisik 100% Tionghoa.

Untuk melawan kawin-campur ini, kita perlu mengisolasi mereka-mereka yang pacaran dengan non-Tionghoa dari pergaulan sosial. Harusnya, orang-orang yang pacaran dengan non-tionghoa mesti diperlakukan bagai penderita kusta. Ini juga berlaku bagi Tionghoa yang terobsesi kawin dengan bule. Semakin banyak Tionghoa menikah dengan ras non-Tionghoa maka pada akhirnya bisa-bisa Tionghoa musnah dari muka bumi ini. Perempuan Tionghoa yang kawin dengan Fankui dan bangsa asing lainnya itu sama saja memusnahkan ras Tionghoa. Karena yang disebut dengan orang Tionghoa itu adalah mereka yang masih memiliki marga. Julius Chan, Perdana Menteri Papua Nugini, masih bisa dianggap orang Tionghoa. Sekalipun mukanya sangat hitam Papua dengan rambut keriting dangdut. Akan tetapi bapaknya asli Hokien. Sebenarnya, dari ciri-ciri fisik si Chan itu sudah bukan Tionghoa lagi. Inilah yang saya sebut “pengrusakan genetik Tionghoa”. Nah, sedangkan anak-anak dari perempuan Tionghoa yang kawin dengan Fankui (non-Tionghoa lainnya) tidak dapat lagi disebut sebagai Tionghoa walau fisiknya mungkin mirip ras kuning. Karena mereka tetap saja tak punya marga. Terlepas dari selera Amoi autis gila yang doyan kulit gelap itu sendiri, saya sering bertanya mengapa mereka masih mau juga pacaran-pacaran dengan golongan yang memperkosa sedemikian banyak perempuan Tionghoa dan membunuh orang Tionghoa saat insiden rasis Anti Tionghoa Mei 1998? Apa “selera” dan “egoisme pribadi” lebih layak ditempatkan di atas “martabat kehormatan komunitas Tionghoa” ?