Asimilasi Paksa Versi Rejim Sadis di Kuba

Berhubung kemarin di sebuah forum saya berdebat dengan seorang amoi muallaf edan yang mengatakan Negro lebih beradab dari Tionghoa, saya jadi ingin coba bahas mengenai Kuba, sebuah negara rejim komunis diktator yang sangat membatasi pergerakan warganya. Pemerintah North Korea masih tergolong memanjakan warganya bila dibandingkan Kuba. Walaupun mayoritas Tionghoa modern banyak yang berkiblat pada komunisme, namun sebaiknya menghindari konseptual persamaan ras ala Kuba yang memaksa berasimilasi kawin campur dengan ras barbar. Kiblat kita adalah Komunis Tiongkok dan prinsip luhur Maoisme yang mengutamakan perbaikan nasib kaum Tionghoa miskin tertindas dan peningkatan moral Tionghoa lewat revolusi budaya.


Nandine Fernandez, seorang doktor antropologi asal Kuba yg menjadi salah satu tokoh madam diktator Kuba, ia mengemukakan teori «Warna-warna Cinta : Perkawinan Kaum Muda Antar-Ras di Kuba», dimana dia mendesak wanita-wanita bule Hispanic (keturunan Spain) supaya kawin sama lelaki budak Negro. Ia sendiri kawin dengan negro brondong 20 tahun. Akibat teori biadab ini, semasa era revolusi Kuba tahun 1991-1993 banyak wanita Hispanic yg dperkosa preman-preman Negro. Tentu saja pastinya semua wanita bule yang ada di Kuba ingin kabur saat revolusi itu. Mengerikan sekali, Kuba ini ladang neraka asimilasi karya presiden tangan besi Fidel Castro. Perlu diketahui 51% penduduk Kuba adalah ras Mulatto (campuran bule Hispanic & negro, biasa yang dimaksud adalah asimilasi wanita bule Hispanic dengan lelaki Negro), 37% bule Hispanic, 11% negro, dan 1% Tionghoa. Foto di bawah ini adalah perkawinan masal wanita-wanita bule Hispanic dengan lelaki negro asal Nigeria yang menjadi budak di Kuba, yang diambil saat era revolusi Kuba. Pemerintah komunis Kuba memakai foto-foto semacam ini sebagai propaganda kawin campur wanita-wanita white chick dengan lelaki negro.


Nah bisa dibilang, Tionghoa ini adalah ras paling menderita di negara Kuba. Tahun 1847 para bule Hispanic mendatangkan pekerja-pekerja dari Guangdong (hampir semuanya lelaki), lalu mereka mempekerjakan sebagai buruh kasar dengan upah murah standar negro, namun para pekerja Tionghoa tak mampu pulang ke Tiongkok. Sehingga terpaksa para lelaki-lelaki Tionghoa ini kawin campur dengan wanita-wanita negro Kuba yang juga sama-sama menjadi budak bule Hispanic. Leluhur China Benteng di Tangerang masih jauh lebih beruntung nasibnya dibanding Huaqiao di Kuba yang rata-rata sudah berasimlasi dengan negro. Setidaknya masih menikah dengan fanpoh Sunda anak juragan tanah yang derajatnya masih setingkat dengan bule Dutch sebagai kaum elit.

Indonesia jelas akan menjadi neraka bagi Tionghoa bila pemerintah mengadopsi teori asimilasi Kuba. Amoi-amoi lah yang akan jadi korban pemerkosaan seperti wanita hispanic di Kuba. Saya lihat anak-anak Fankui pro-komunis masih berfikir secara inferior ala komunis Kuba dan jelas tak bisa berkoalisi dengan generasi pemuda komunis Tionghoa. Pernah beberapa kali saya menemukan aktifis Fankui komunis, mereka memang tidak membenci sinis pada Tionghoa layaknya Fankui fascis fanatik Pancasila. Namun selalu saja mereka mengusung konsep Kubaisme dengan tema "kawin campur lelaki Fankui dengan amoi Tionghoa" dan seolah-olah sok bersahabat dengan Tionghoa. Nah, apakah kaum Fankui komunis ini tulus bersahabat dengan Tionghoa, atau sekedar terobsesi pada kemulusan kulit amoi dan hendak mengambil paksa uang dan harta hasil kerja keras Tionghoa untuk masyarakat Fankui pengangguran miskin yang malas bekerja? Konsep Komunisme versi Fankui memanglah inferior, hanya bertujuan merampas kekayaan ras pendatang Tionghoa, berserta pemerampasan keperawanan Amoi. Komunisme versi Fankui masih sama biadabnya dengan konsep Nazisme. Ini sangat jauh berbeda dengan Komunisme Tionghoa yang berpedoman pada Maoisme, sebuah perjuangan sejati untuk kaum Tionghoa miskin yang tertindas sistem kapitalisme.