Setiap setahun sekali semua orang Tionghoa di dunia akan merayakan hari yang paling bahagia dan meriah, termasuk para Tionghoa di Indon. Tepatnya kita orang Tionghoa akan merayakan tahun baru Imlek (Xinjia). Namun, bukan berarti kita boleh mengurangi kewaspadaan terhadap pengaruh buruk Fankuisasi di kala kita terlena dalam meriahnya Xinjia. Hari raya Xinjia semestinya menjadi moment yang paling tepat dan berharga bagi warga Tionghoa dalam menemukan kembali identitas aslinya yang telah hilang akibat program "Asimilasi Paksa" oleh sang diktator fascis Soeharto. Tindak kejahatan rasial melalui program Asimilasi Paksa kawin campur ini selain merusak budaya etnik Tionghoa, juga berusaha membunuh genetik ciri fisik orang Tionghoa yang hidup di Indon. Yang lebih kejam, ini sebtulnya cara licik Fankui menaklukan bangsa Tionghoa melalui objek wanita. Cara yang paling mudah adalah dengan propaganda asimilasi Amoi dengan lelaki fankui, Ini jelas suatu penghinaan dalam society Tionghoa, ibaratnya para Fankui minta imbalan "kenikamtan tubuh Amoi" karena kita tinggal di Indonesia.
Sangat menyedihkan. Bahkan di saat Xinjia pun, masih saja ada banyak propaganda-propaganda asimilasi jahat yang sebenarnya diam-diam masih merusak originalitas norma-norma Tionghoa yang melarang putri Amoi nya dijadikan pelampiasan nafsu setan oleh para lelaki ras barbar. Semestinya para orang tua Tionghoa bisa lebih selektif memilih siaran-siaran TV dan film yang layak ditonton anak-anaknya. Sedikitnya dalam satu pekan Xinjia, banyak sekali sinetron-sinetron kacangan yang berusaha mencekoki otak-otak Amoi agar menjadi murahan yang meludahi norma luhur nenek moyangnya, berikut juga film-film fiktif yang diproduksi dalam layar lebar dan DVD bajakan. Film-film fiktif ini seakan-akan memberi angin segar bari para lelaki bejat Fankui agar terus berinvasi melecehkan Amoi. Supaya teman-teman di sini bisa lebih waspada, berikut saya bagikan info beberapa referensi film-film berbahaya yang memasukan nilai pelecehan pada wanita Tionghoa.
《 LIAN NIO 》
● Director : Suwandono, Slamet Raharjo Djarot.
● Genre : DVD Bajakan
● Deskripsi : Film fiktif busuk ini jelas sangat menghina martabat Amoi Tionghoa. Setting sekitar era G30 S-PKI di Jawa. Mengkisahkan seorang Amoi cantik bernama Kwee Lian Nio dari keluarga kaya berusia 20 tahun mencintai seorang abang Fankui Jawa bernama Siswoto berusia 37 tahun yang miskin dan berwajah buruk culun. Ini memberi gambaran generalisi seolah-olah wanita Tionghoa adalah wanita murahan, cantik-cantik tetapi sangat gampangan. Si sutradara brain-less ini juga membodohi pemirsa kampung dengan mengatakan film ini adalah cerita real. Tujuannya jelas busuk sekali, dia ingin membuat para lelaki Fankui semakin merasa di atas angin dalam melakukan invasi bejatnya kepada wanita-wanita Tionghoa.
《 MEI HWA 》
● Director : Kardy Syaid
● Genre : DVD Bajakan
● Deskripsi : Film busuk ini juga sama dengan “Lian Nio” merendahkan martabat Tionghoa melalui karakter Amoi murahan bernama Mei Hwa. Ceritanya mengisahkan seorang amoi yang diperkosa seorang Fankui bernama Eddy saat insiden kerusuhan Mei 1998. Mei Hwa hamil dan punya anak haram dari Fankui itu. Beberapa tahun kemudian ia ketemu lagi dengan si Fankui pemerkosa. Namun akhirnya malah menikah dengan si Fankui pemerkosa tanpa pernah menuntut secara hukum kalau dia pernah diperkosa si Fankui Eddy. Lebih busuk lagi, dikisahkan ada dua lelaki Tionghoa yang rela kawin sama Mei Hwa, bernama A Liang dan Lao Ming, namun akhirnya ditolak demi Fankui yang jelas-jelas memperkosa dia. Bodoh sekali bukan cerita ini? Ini jelas memojokkan posisi Tionghoa, dimana seolah-olah kita Tionghoa mesti menyerah kalah pada Fankui tanpa ada keadilan hukum. Film jahanam ini jelas menghina betapa murahannya si Mei Hwa itu sebagai image wanita Tionghoa. Sudah diperkosa lelaki Fankui yang jahat malah menyodorkan diri mengejar-ngejar si pemerkosa untuk dikawin, bukan nuntut keadilan hukum.
《 MAY [梅] 》
● Artis : Jenny Chang, Yamma Carlos
● Genre : Bioskop
● Deskripsi : Film busuk ini juga sama seperti “Mei Hwa” yang mengambil setting insiden kerusuhan Mei 1998. Menceritakan amoi murahan bernama May (Jenny Chang) yang berpacaran dengan seekor fankui bernama Antares (Yamma Carlos). Saat insiden kerusuhan Mei 1998 si Amoi May ini diperkosa gangbang oleh sekumpulan Fankui. Lalu entah gimana prosenya, si Amoi ini tiba-tiba ada di luar negeri dan pisah dengan kekasih Fankui-nya. Lalu sudah pernah diperkosa Fankui malah bukannya sadar akan betapa jahatnya tabiat bangsa Fankui, malah si Amoi murahan ini mencari si fankui kekasihnya. Sungguh tak masuk di akal alur cerita ini. Seolah-olah kesannya “no problem apabila aku Amoi diperkosa Fankui, aku tetep doyan Fankui”.
《 XING XING, WO AI NI 》
● Director : Arie Aziz
● Artis : Ardina Rasti, Harland Danz, Mario Tanzala
● Genre : Sinetron RCTI
● Deskripsi : Film ini asli terlihat fiktif bodoh dan mengada-ngada. Pemeran Amoi-nya saja gadungan, diperankan seorang artis fanpoh Ardina Rasti. Dikisahkan seorang Amoi bernama Xing Xing (Ardina Rasti), ketua genk pintar di kelas. Ia musuh bebuyutan seorang Fankui bernama Rakka (Harland Danz). Karena terdesak ingin show pada mantannya, akhirnya si Amoi meminta Fankui Rakka pura-pura untuk jadi pacarnya. Namun malah akhirnya si amoi murahan ini jadi pacaran betulan dengan si Fankui Rakka. Sungguh konyol, mengapa si Amoi mesti sebodoh itu menjadikan lelaki Fankui yang tak ia suka untuk jadi pacarnya.
《 MOY, I LOVE U 》
● Artis : Raffi Ahmad, Eva Laurent, Tities Saputra
● Genre : Sinetron SCTV
● Deskripsi : Konsep cerita film ini mirip film “Xing Xing, Wo Ai Ni”, mengisahkan Amoi yang bermusuhan dengan lelaki fankui, namun malah jadi pacarnya. Dalam sinetron kampungan ini menceritakan seorang Amoi bernama Delia (Eva Laurent) yang bermusuhan dengan seorang lelaki Fankui bernama Mario (Raffi Ahmad) sejak kecil. Lalu muncul pula lelaki Fankui lain bernama Franky yang konak dan menggoda Delia. Entah bagaimana prosesnya, malah si fankui Mario berbalik kelahi dengan fankui Franky, hingga mencuri hati si amoi bodoh ini. Lalu jiwa murahan si amoi tersebut keluar dan meminta si fankui Mario yang dianggap superhero menjadi pacar dia. Sungguh memalukan karakter amoi ini, terjebak aksi fankui pura-pura sok pahlawan untuk menikmati keperawanan amoi.
《 JANGAN PANGGIL AKU CINA 》
● Artis : Teddy Syach, Leony Vitria
● Genre : Sinetron SCTV
● Deskripsi : Film fiktif kampungan ini mengambil kisah keluarga Tionghoa berjiwa Qiaosheng. Seorang encim-encim edan mengingnkan Amoi cucunya bernama Olivia (Leony Vitria) untuk menikah dengan seorang lelaki Fankui Padang bernama Yusril (Teddy Syach). Si encim dungu ini bangga kalau cucu Amoi dia kawin sama Fankui. Sungguh tidak real cerita busuk ini. Karena dalam kehidupan sesepuh tua Tionghoa kita hampir dipastikan 100% melarang asimilasi Amoi dengam lelaki Fankui. Dalam cerita film busuk ini dikisahkan si Amoi sampai mati-matian "membeli" si Fankui Yusril dengan adat Padang atau Pariaman. Sebenernya dari film bodoh ini jelas terlihat ambisi fankui untuk menggenosida (memusnahkan) Tionghoa bukan dari genetika saja, tapi dari budaya juga.
《 GIOK DARI LEGOK 》
● Artis : Rorencia Natasha, Reza Rahardian, Tenika Stella, Ariyo Wahab
● Genre : DVD Bajakan
● Deskripsi : Pembuat film ini konon menyebut karyanya sebagai film anti diskrimnasi dan apresiasi pada Tionghoa Benteng. Namun dari alur konyol yang disuguhkan menceritakan dua amoi bersaudara murahan, nampaknya film ini lebih cocok disebut sebagai film yang “meludahi martabat Tionghoa”. Film ini menceritakan pasangan encik dan engkoh dari clan Tionghoa Benteng yang ayah ibunya menjadi korban kejahatan para pemuda Fankui semasa mereka muda. Si encim Liem Giok Sian (ibu dari engkoh itu) tengah berulang tahun yang ke-80 mendengar bahwa dua cucu amoi mereka sudah punya pacar. Tetapi Liem Giok Sian menjadi gundah karena ternyata Ribka Tanujaya dan Rachel Tanujaya memiliki kekasih fankui. Ribka berpacaran dengan fankui bernama Richard Manuputty dan Rachel berpacaran dengan fankui bernama Raymond Tangkudung. Keduanya fankui tersebut diceritakan sebagai aktifis pendampingan kasus penggusuran Cina Benteng di Kampung Sewan Lebakwangi. Ini jelas sekali mau menunjukan kalau lelaki Fankui sebagai sosok pahlawan Tionghoa, lalu ada kewajiban membayar jasa lelaki Fankui dengan keperawanan Amoi. Sungguh ironis, dalam cerita ini malah dikisahkan kalau ayah si Amoi malah merestui hubungan putrinya dengan fankui. Lewat banyak orang, si encim berusaha untuk mempertemukan banyak akhew Tionghoa kepada Ribka dan Rachel. Namun, kedua cucunya ini tak bergeming dengan jiwa murahan mereka untuk siap disenggama lelaki Fankui. Jadi aku pun heran, di manakah sisi menghargai Tionghoa pada film ini? Film ini seakan-akan mengisahkan kalau encim tua yang datang dari Tiongkok adalah orang kolot kejam. Adakah apresiasi positif terhadap Tionghoa korban pembantaian lewat kisah konyol ini?
《 PUTRI ONG TIEN 》
● Director : Winny Gunarti
● Genre : Sinetron
● Deskripsi : Cerita film ini jelas bersifat fiksi dan berbentuk magis, namun para fankui pemuja mitos fiktif Arab mengada-ngada kalau kisah ini nyata terjadi, malah dianggap sejarah nasional. Menceritakan seorang ulama fankui Jawa bernama Syarif Hidayatullah (atau Gunung Jati) mendarat di Tiongkok menyebarkan mitos fiktif Arab sambil menjadi Tabib yang sakti. Kaisar Hong Gie pun kemudian tertarik menjajal kesaktian tabib fankui tersebut, dia dipanggil ke istana. Sementara itu, Kaisar menyuruh putrinya yang masih gadis, Lie Ong Tien, mengganjal perutnya dengan baskom, sehingga tampak seperti hamil, kemudian duduk berdampingan dengan saudarinya yang memang sedang hamil tiga bulan. Syarif Hidayatullah disuruh menebak mana yang benar-benar hamil. Syarif Hidayatullah menunjuk Ong Tien. Kaisar dan para abdi dalem ketawa terkekeh. Tetapi kemudian, istana geger. Ong Tien ternyata benar-benar hamil, sedangkan kandungan saudarinya justru lenyap. Kaisar meminta maaf kepada Syarif Hidayatullah, dan memohon agar Ong Tien dinikahi. Ini sangat tak masuk akal dan berbau magis fiktif, malah diceritakan Ong Tien sangat cinta kepada Syarif Hidayatullah sudah sangat mendalam. Dia mendesak terus ayahnya agar diizinkan menyusul kekasihnya ke Cirebon. Setelah mendapat izin, Ong Tien bertolak ke Cirebon dengan menggunakan kapal layar kerajaan. Putri membawa barang-barang berharga dari Istana Kerajaan, terutama berbagai barang keramik. Dari cerita ini, jelas saja bukan sekedar mengandung propaganda asimilasi, tetapi juga hasutan mengajak Tionghoa pindah kepercayaan menjadi pemuja Arab. Secara bukti sejarah tentang silsilah dinasti Ming, keberadaan si fankui Syarif Hidayatullah ataupun Ong Tien tak terbukti pernah ada. Banyak sekali bukti yang mengungkap sisi fiktif, invalid, dan rekayasa dari Kisah Sunan Gunung Jati yang Mengawini Putri Ong Tien.
《 TAK LEKANG OLEH WAKTU 》
● Artis : Jill Gladys, Sammy Kerispatih, Ferry Salim
● Genre : Video Klip
● Deskripsi : Video clip kampungan ini menceritakan seorang Amoi (Jill Gladys) yang pacaran backstreet dengan seorang lelaki Fankui (Sammy Kerispatih yang doyan selingkuh). Hubungan mereka dilarang kedua orangtua si Amoi, sampe ahirnya si amoi jadi gila. Video klip ini sangat extreme memanipulasi fakta, hendak membuat image seolah-olah pelarangan anak gadis amoi pacaran dengan Fankui adalah bentuk kekejaman. Membuat generalisasi "bad image" kalau engkoh-engkoh dan encik-encik adalah sosok kejam, terbukti dimulai dari kata-kata si engkoh ayah amoi tersebut (Ferry Salim) bilang ke si Fankui “kamu beda dengan dia”. Yang lebih menjijikan, masa iya ada ada Amoi sebodoh itu yang sampai-sampai jadi gila demi seorang lelaki Fankui bermuka gelandangan tukang selinguh macam si Sammy ini. Ini jelas-jelas penghinaan terhadap wanita-wanita Tionghoa, juga penghinaan terhadap sesepuh tua Tionghoa yang masih menjaga kehormatan anak gadisnya dari otak cabul lelaki fankui. Selain itu untuk menambah lagi kebencian kaum muda fankui dan para qiaosheng terhadap orang-orang Tionghoa original, mereka membuat versi lain ending sadis video klip "Tak Lekang oleh Waktu" dengan adegan dimana si amoi Jill Gladys tewas mati bunuh diri memotong nadi di kamar mandi sampai darah muncrat kemana-mana. Ya tahu lah efek dari video clip ini kalau didownload para fankui fans Kerispatih. Maka akan mucul persepsi kalau encik-encik dan engkoh-engkoh tua yang melarang anak gadisnya kawin sama Fankui adalah pembunuh yang jahat. Lalu gimana kalau para Amoi-amoi qiaosheng mendownload video clip ini? Jelas mereka akan semakin terinspirasi untuk menjadi pembangkang, bisa semakin gila nekad pacaran dengan Fankui cabul dan tukang selingkuh.
《 XIA AI MEI 》
《 TUTUR TINULAR 》
《 XIA AI MEI 》
● Director : Alyandra
● Artis : Franda, Samuel Rizal, Ferry Salim, Olga Lydia, Shareefa Daanish, Norman Kamaru
● Genre : Bioskop
● Deskripsi : Para oknum Fankui yang rasis anti-Tionghoa (juga anti Tiongkok PRC) kembali berupaya melakukan aksi brainwashing cuci otak pada masyarakat Tionghoa di Indonesia. Kali ini para jahanam asimilator rasis membuat film fiksi berjudul Xia Ai Mei yang menceritakan pelacur Tiongkok bernama Xia Ai Mei (Franda) yang dijual orang Tionghoa di Indon. Lalu pelacur Amoi tersebut diselamatkan oleh seorang lelaki Fankui bernama AJ Park (Samuel Rizal), lalu berpacaran. Ini jelas sekali oknum Fankui ingin merendahkan Tiongkok dan warga Tionghoa dengan menyudutkan kalau negara Tiongkok dan orang Tionghoa adalah otak prostitusi pelacuran di Indonesia, sedangkan sosok lelaki Fankui (yang kita tahu sering memperkosa) dianggap pahlawan yang baik. Ini jelas mau mencuci otak para Amoi agar mau pacaran dengan lelaki Fankui kaum pemerkosa. Ada banyak keganjilan luar biasa dalam film rasis Xia Ai Mei ini, yaitu :
→ Sangat meragukan kalau pada sinopsisnya disebutkan mengambil lokasi shooting di Tiongkok. Anda yakin kalau adegan itu betulan diambil di daerah Tiongkok? Bisa-bisa saja diambil di pedesaan Vietnam (misalnya) yang memiliki tipologi alam mirip Tiongkok. Ingat, Vietnam ini menjadi musuh Tiongkok pasca kekalahan mereka dalam perang Sino-Vietnam memperebutkan daerah Laoshan. Tentu saja orang Vietnam akan senang mendukung pembuatan film yang merendahkan Tiongkok (PRC). Kemungkinan lain bisa-bisa saja adegan itu diambil di pedesaan Taiwan (misal di Hua Lian). Taiwan yang juga kadang masih bersitegang dengan Tiongkok, sedikit banyak akan senang kalau citra Tionghoa komunis jatuh di mata internasional. Adapun beberapa orang Taiwan sudah tidak patriotik lagi karena terpengaruh partai Min Jin Dang yang pro Jepang dan USA.
→ Isi cerita ini sangat aneh, irasional, dan mengada-ngada. Pelacur dari Tiongkok memang ada, namun umumnya mereka berasal dari provinsi Fujian, bukan dari daerah Guangxi seperti disebutkan dalam sinopsis. Fujian sejak jaman dinasti Qing sampai sekarang menjadi provinsi termiskin di Tiongkok. Itu sebabnya kenapa banyak suku-suku Minnan yang merantau ke Indon pada masa lampau. Namun ingat, sekarang Fujian sudah maju. Prostitusi sudah makin sedikit bila dibandingkan daerah Indramayu penghasil pelacur Fanpoh.
→ Rasanya sangat aneh kalau pelacur Xia Ai Mei ini bercakap bahasa Zhongwen. Biasanya yang jadi pelacur asal Tiongkok itu adalah kaum miskin di kampung yang kurang pendidikan, termasuk pendidkan Putong-hua (Zhongwen). Mereka itu jarang menggunakan Zhongwen, apalagi menulis Hanzi. Bahkan seperti di Jakarta ada pelacur asal Fujian atau Taiwan, mereka bercakap lebih banyak Minnan-hua (Hokkien) ketimbang Zhongwen. Kalaupun bercakap Zhongwen, logat medok Minnan-hua mereka jelas sekali.
→ Latar karakter lakon Fankui dalam cerita ini sangat ganjil. Bukankah aneh kalau dalam cerita ini bisa muncul seorang Fankui yang punya darah Korea, yang diperankan Fankui Samuel Rizal yang jadi intel anti pelacuran. Katanya itu utusan CIA. Jelas sekali ini hanya akal-akalan gila Fankui mengada-ngada, memanfaatkan fenomena kegilaan K-Pop. Sungguh bodoh memang. Untuk apa USA mengurusi masalah pelacuran di Indon dengan mengutus seorang Fankui berdarah Korea?
《 YUSUF DAN AMOY 》
● Director : Lili Sudraba
● Artis : Junita Sari, Adie Mohawk, Fidela Gracia, Laura Auretta
● Genre : DVD Bajakan
● Deskripsi : Film fiksi bertema asimilasi antara seorang Amoi (Junita Sari) yang tinggal di Pontianak dengan seorang Fankui Melayu bernama Yusuf Bin Muhammad (Adie Mohawk), seakan-akan mendesak para Amoi untuk lebih memilih kawin dengan lelaki Fankui ketimbang menikahi Akhew dari Taiwan. Dalam film ini juga sengaja dibuat skenario dimana seorang Amoi dijual seorang encik Tionghoa pada bos Taiwan, jelas sekali terlihat niatan busuk Fankui untuk membuat persepsi negatif pada orang Tionghoa yang di-identikan dengan otak prostitusi pelacuran di Indonesia, sekaligus membuat kesan palsu kalau orang Tionghoa sangat biadab sampai menjual saudara satu ras. Disini juga terlihat upaya membuat persepsi negatif pada saudara Tionghoa kita diluar Indonesia (seperti Tionghoa asal Taiwan) agar Tionghoa di Indonesia lebih memilih mengakui identitas sebagai orang Indonesia (Fankui) ketimbang orang Tionghoa global.
《 LOVE ON THE BLUE SKY 》
● Director : Mya Ye
● Genre : DVD Bajakan
● Deskripsi : Diangkat dari sebuah novel, film rasis bertema asimilasi ini menceritakan seorang Amoi Tionghoa bernama Amanda yang mencintai Fankui Flores bernama Alex, sekalipun Fankui itu sudah beristri dan punya anak. Alur cerita dari novel fiksi ini benar-benar sangat menghina kehormatan wanita Amoi Tionghoa. Setidaknya ada banyak bentuk discredit rasis biadab yang disimpulkan lewat film busuk ini, yaitu Amoi Tionghoa digambarkan sebagai sosok wanita murahan yang mudah jatuh cinta pada ras manapun, sosok wanita perusak rumah tangga orang lain, juga digambarkan sebagai sosok wanita bodoh yang terpaku cinta buta, memaksakan cinta secara brutal pada seorang Fankui. Dalam film ini juga terlihat sebuat hasutan agar Amoi lebih memilih cinta pada lelaki Fankui ketimbang lelaki Akhew, dengan skenario dimana Amoi bodoh ini menolak cinta seorang Akhew bernama Dino. Selain itu disini penulis rasis ini ingin meninggikan agama Barat (yang umumnya dianut Fankui Flores) sebagai agama yang anti-perceraian. Hal ini dilakukan untuk mencuci otak masyarakat Tionghoa agar pindah ke agama Barat yang dinilai Fankui lebih beradab dari budaya dan agama asli Tionghoa.
《 SIAN DARI SEWAN 》
● Director : Aryawirawan Simauw
● Artis : Stephanie Ciamaludin
● Genre : DVD Bajakan
● Deskripsi : Dengan membawa slogan “mengangkat harkat Tionghoa Benteng lewat film”, sutradara kacangan Fankui ini membuat film amatiran yang mengkisahkan seorang Amoi Benteng murahan (Stephanie Ciamaludin) mau berpacaran dengan seorang Fankui demi berharap bantuan dari masyarakat Fankui pada peristiwa penggusuran Sewan. Memang bajingan sekali pembuat film ini, jelas ada indikasi merendahkan Tionghoa Benteng, seakan-akan Fankui itu sangat berkuasa sampai Tionghoa harus menjual kegadisan untuk tidak didiskriminasi oknum pemerintah Fankui. Kalau betul mereka hendak membuat film yang mengangkat harkat Tionghoa Benteng, mengapa mereka tidak mencoba buat film tentang leluhur Tionghoa Benteng jaman landlord yang menaklukan budak-budak proletar Fankui dan mengawini Fanpoh-fanpoh puteri bangsawan jadi selir mereka? Film asimilasi ini jelas sebuah bentuk ajang balas dendam Fankui pada Tionghoa Benteng.
《 TUTUR TINULAR 》
● Artis : Ferry Fadli, Elly Ermawatie, Eddy Dhosa, Lukman Tambose
● Genre : Sinetron Indosiar
● Deskripsi : Melalui sebuah film kolosal fiktif berbau chauvimisme Jawa, sutradara tengik Fankui kembali membuat film bertema asimilasi dengan menceritakan sepasang pendekar Tionghoa asal dinasti Yuan yang diutus ke Jawa, yaitu seorang pendekar Amoi bernama Mei Xin (Elly Ermawatie) dan suaminya seorang pendekar Akhew bernama Luo Shi Shan (Eddy Dhosa). Sesampainya di Jawa, dalam sebuah pertarungan Lou Shi San kalah dibantai dan terluka parah akibat serangan pendekar Fankui bernama Mpu Tong Bajil (Lukman Tambose). Lalu seorang pendekar Fankui bernama Arya Kamandanu (Ferry Fadli) yang sedang mengembara datang menolong. Namunn pendekar Lou Shi San sudah tidak tertolong lagi dan meninggal. Setelah meninggal, lalu pendekar Fankui Arya Kamandanu itu malah memanfaatkan kesempatan mengawini Amoi bernama Mei Xin ini yang diceritakan cantik, saat itu tengah galau. Pendekar Fankui itu membacakan syair gombalan cinta kacangan dan memberi obat perangsang pada Mei Xin, sehingga Mei Xin bisa disenggama dengan mudah. Ironisnya, setelah dikawini pendekar Fankui itu, Mei Xin diceritakan langsung pindah agama Muslim dan ganti nama menjadi Nyai Paricara, hidup secara budaya barbar Fankui Jawa. Pada dasarnya cerita film ini jelas menggambarkan penghinaan pada martabat Tionghoa, ibaratnya menggambarkan perjalan asimilasi memalukan dimana wanita Amoi diperkosa Fankui, namun bisa sebegitu murahan mau dikawin dengan pemerkosanya, dan tragisnya malah rela masuk budaya Fankui Jawa. Adapun dalam film asimilasi ini sengaja dikisahkan pendekar Akhew bernama Luo Shi Shan itu sangat lemah, sampai kalah oleh pendekar Fankui. Ini bentuk stereotype negatif yang merendahkan lelaki Tionghoa, dimana terkesan lelaki Tionghoa tak mampu melindungi wanitanya, seakan-akan lelaki Fankui digambarkan lebih cocok mengawini para Amoi. Adapun dari analisa historikal dinasti Yuan, terlihat jelas invaliditas dalam film ini. Mungkinkah ada wanita Tionghoa seperti Mei Xin yang merantau ke Nusantara di abad ke-13? Sementara jaman di dinasti Qing yang lebih modern saja masih ada larangan Tionghoa merantau ke luar membawa kaum wanita Amoi. Memang benar utusan kaisar Kubilai Khan pernah dikirim ke tanah Jawa tahun 1293. Namun itupun hanya berupa sedadu-serdadu lelaki Tionghoa dan jenderal Mongolia, sama sekali tidak ada utusan pendekar Amoi berwajah cantik seperti pada film sinetron kolosal kampungan ini. Yang ada malah serdadu dinasti Yuan ramai-ramai memperkosa wanita Fanpoh pasca kekalahan serdadu Fankui pengawal Raden Wijaya.
● Genre : Sinetron Indosiar
● Deskripsi : Melalui sebuah film kolosal fiktif berbau chauvimisme Jawa, sutradara tengik Fankui kembali membuat film bertema asimilasi dengan menceritakan sepasang pendekar Tionghoa asal dinasti Yuan yang diutus ke Jawa, yaitu seorang pendekar Amoi bernama Mei Xin (Elly Ermawatie) dan suaminya seorang pendekar Akhew bernama Luo Shi Shan (Eddy Dhosa). Sesampainya di Jawa, dalam sebuah pertarungan Lou Shi San kalah dibantai dan terluka parah akibat serangan pendekar Fankui bernama Mpu Tong Bajil (Lukman Tambose). Lalu seorang pendekar Fankui bernama Arya Kamandanu (Ferry Fadli) yang sedang mengembara datang menolong. Namunn pendekar Lou Shi San sudah tidak tertolong lagi dan meninggal. Setelah meninggal, lalu pendekar Fankui Arya Kamandanu itu malah memanfaatkan kesempatan mengawini Amoi bernama Mei Xin ini yang diceritakan cantik, saat itu tengah galau. Pendekar Fankui itu membacakan syair gombalan cinta kacangan dan memberi obat perangsang pada Mei Xin, sehingga Mei Xin bisa disenggama dengan mudah. Ironisnya, setelah dikawini pendekar Fankui itu, Mei Xin diceritakan langsung pindah agama Muslim dan ganti nama menjadi Nyai Paricara, hidup secara budaya barbar Fankui Jawa. Pada dasarnya cerita film ini jelas menggambarkan penghinaan pada martabat Tionghoa, ibaratnya menggambarkan perjalan asimilasi memalukan dimana wanita Amoi diperkosa Fankui, namun bisa sebegitu murahan mau dikawin dengan pemerkosanya, dan tragisnya malah rela masuk budaya Fankui Jawa. Adapun dalam film asimilasi ini sengaja dikisahkan pendekar Akhew bernama Luo Shi Shan itu sangat lemah, sampai kalah oleh pendekar Fankui. Ini bentuk stereotype negatif yang merendahkan lelaki Tionghoa, dimana terkesan lelaki Tionghoa tak mampu melindungi wanitanya, seakan-akan lelaki Fankui digambarkan lebih cocok mengawini para Amoi. Adapun dari analisa historikal dinasti Yuan, terlihat jelas invaliditas dalam film ini. Mungkinkah ada wanita Tionghoa seperti Mei Xin yang merantau ke Nusantara di abad ke-13? Sementara jaman di dinasti Qing yang lebih modern saja masih ada larangan Tionghoa merantau ke luar membawa kaum wanita Amoi. Memang benar utusan kaisar Kubilai Khan pernah dikirim ke tanah Jawa tahun 1293. Namun itupun hanya berupa sedadu-serdadu lelaki Tionghoa dan jenderal Mongolia, sama sekali tidak ada utusan pendekar Amoi berwajah cantik seperti pada film sinetron kolosal kampungan ini. Yang ada malah serdadu dinasti Yuan ramai-ramai memperkosa wanita Fanpoh pasca kekalahan serdadu Fankui pengawal Raden Wijaya.













