Ambisi para lelaki Fankui untuk pacaran, berkawin, sampai bersenggama dengan wanita Tionghoa sangat tepat dikatakan sebagai suatu kelainan fantasi seksual yang tidak wajar. Ketertarikan seorang lelaki Fankui pada amoi pada dasarnya tidak berlandaskan cinta, hanya berawal dari pikiran fantasi cabul mereka yang terangsang akan kemulusan kulit wanita Amoi dan kemolekan wajah oriental. Maka sudah sering kita dengar kalau hubungan percintaan antara lelaki Fankui dengan Amoi Tionghoa selalu berakhir dengan kerugian di pihak si wanita Amoi. Satu yg perlu diketahui, hubungan seksual sudah menjadi kebiasaan legal dalam peradaban Fankui. Jadi siapapun yg menjalin asmara dengan lelaki Fankui, bersiaplah melepas keperawanannya.
Saya menemukan sebuah kisah nyata tindak pencabulan seorang pegawai Fankui pada gadis Amoi belia keponakan majikannya. Sepertinya kita sebagai wanita Tionghoa yang terlahir sebagai majikan haruslah memiliki wibawa, setidaknya kita harus tegas dan keras pada para Fankui bawahan kita atau rekan kerja lainnya, hindari sebisa mungkin kebiasaan bercanda dengan Fankui dalam dunia kerja, kita tahu umumnya ras terbelakang ini sangat tak bisa menghargai etika kerja dan kedudukan organisasi. Bilamana atasan atau rekan kerja mereka seorang Amoi yang tak berwibawa, ia sudah tak segan-segan lagi untuk bertindak genit dan cabul. Bahaya selalu mengancam nyawa kalian para Amoi bila tak waspada pada binatang-binatang biadab ras barbar ini, apalagi bila sampai terlibat hubungan percintaan dengan mereka. Jangan sesekali berspekulasi "tak semua Fankui jahat" dan lengah pada situasi yang membahayakan.
Amoy Itu Digerayangi Di WC, “Saya Isap Susunya Pak!”
Berharap bisa mengubah keadaan ekonomi, WS (40), memutuskan merantau ke Batam. Pertengahan Mei lalu, diajak temannya yang seorang pekerja rumah makan, ayah tiga anak ini akhirnya menginjakkan kakinya di pulau Kalajengking ini.
Berharap bisa mengubah keadaan ekonomi, WS (40), memutuskan merantau ke Batam. Pertengahan Mei lalu, diajak temannya yang seorang pekerja rumah makan, ayah tiga anak ini akhirnya menginjakkan kakinya di pulau Kalajengking ini.
Begitulah awal kisah perjalanan Ws. Kisah ini, ia utarakan di Markas Kepolisian Sektor Kota Lubukbaja, Minggu (20/6) siang. Terjerat kasus tuduhan pencabulan terhadap Sn (23), seorang gadis keterbelakangan mental, pria berbadan kurus ini terpaksa mendekam di sel penjara, sejak Sabtu (19/6).
Diakui Ws, ia memang pernah menggerayangi tubuh Amoy molek itu, pertengahan Mei silam. “Kalau tak salah, setelah lima hari saya bekerja disana (rumah makan),” akunya. Ya, setelah tiba di Batam, Ws dipercaya sebagai pramusaji di sebuah rumah makan di kawasan Komplek Swarta Karta, Jodoh. rumah makan itu sendiri, kata Ws, merupakan milik paman sang gadis yang dicabulinya itu.
Sejak itulah, ia mengenal Sn. Diawal perkenalan itu, Ws mengaku sudah merasakan hal yang aneh pada kebiasaan Sn. “Dia suka nyenggol-nyenggol saya. Sama yang lain, dia juga suka begitu,” kata Ws membeberkan kebiasaan buruk Sn.
Bahkan, masih pengakuan Ws, Sn dengan sengaja kerap menyenggolkan payudaranya sendiri. “Makanya saya juga suka terangsang,” aku Ws. Sebagai pria normal yang jauh dari istri, tak ditampik Ws, ada terlintas pemikiran nakal di benaknya itu. “Tapi saya masih kuat iman,” katanya.
Tapi suatu sore di bulan Mei lalu, di hari yang tak diingatnya lagi, Ws akhirnya tergoda juga dengan bujuk rayu setan. Di lantai III ruko rumah makan itu, Wahyudi bermaksud hendak ke kamar mandi.
Namun ketika ia melihat pintu kamar mandi tertutup dan mendengar guyuran orang yang sedang mandi, Ws nekat mengintip di sela-sela atas pintu kamar mandi yang renggang itu. “Ternyata yang mandi itu dia (Sn),” aku Ws.
Disaat itulah otak mesum Ws bekerja. Dengan alasan pintu kamar mandi tak dikunci, Ws dengan mudah mendobrak pintu kamar mandi itu. “Saya masuk, dia (Sn) diam saja. Saya cium pipinya,” kata Ws. Saat itu, korban yang telanjang bulat itu, kata Ws hanya diam saja. “Saya isap susunya, Pak!” polos Ws mengakui perbuatannya.
Lagi-lagi, korban yang sedang basah kuyup itu hanya diam dengan perbuatannnya itu. Tak lebih dari tiga menit, kata Ws, ia berhasil menggerayangi alat vital korban. “Setelah itu, saya langsung keluar,” katanya. Nah, saat keluar kamar mandi itulah, Ws sempat berpapasan dengan Buyung. Namun saat itu, aksi Ws aman karena tak ada yang curiga dengan ulahnya itu. Setelah kejadian itu, gadis berkulit putih yang juga tinggal di ruko tersebut, tak pernah memperlihatkan perubahan sikap. “Biasa-biasa aja,” katanya. Bahkan, kata Ws, Amoy itu masih terlihat suka digodain. “Tapi saya tak berani lagi mengulanginya,” kata Ws.
Diluar praduga Ws, Sabtu (19/6) lalu, Al (paman korban) curiga dengan perubahan sikap korban. “Setelah ditanyai keluarganya, korban akhirnya mengaku,” kata seorang penyidik. Tak pelak, saat mendengar pengakuan itu, Ws sempat jadi bulan-bulanan keluarga korban. “Saya dipukuli empat orang laki-laki,” ujar Ws. Selanjutnya, Ws yang dalam keadaan nyonyor ini pun disetor ke kantor polisi.
Kepala Kepolisian Sektor Kota Lubukbaja Ajun Komisaris Didik Erfianto, mengatakan saat ini jajarannya sudah memeriksa korban. Ws yang dilaporkan, juga sudah mengakui perbuatannnya. Dijelaskan Didik, korban memang diketahui memiliki keterbelakangan mental. Hal ini juga ditegaskan penyidik yang memeriksa keterangan korban.
“Korban agak-agak kurang gitu,” kata penyidik. Saat ini tersangka terancam pasal 289 KUH Pidana tentang pencabulan degan ancaman maksimal sembilan tahun penjara.
Amoy Mendadak Jadi Pemurung
Seorang lelaki bernama Wahyudi Dana Saputra terlihat menjalani pemeriksaan di Unit Reserse Kriminal Polsekta Lubuk, Sabtu (19/6) lalu. Pria berperawakan sedang itu tersandung perkara dugaan pencabulan terhadap seorang wanita muda berinisial Sn alias Amoy.
Sebagaimana diterangkan pelapor, Al (47), pria asal Bengkalis, peristiwa yang menimpa Amoy baru terkuak setelah korban belakangan menunjukkan perilaku aneh. Yah, menurut Al, awalnya ia dan Ge (22) mencurigai tingkah laku Amoy yang cenderung murung.
Karena berulangkali memergoki sikap Amoy yang berubah menjadi pendiam, Al dan Ge lantas pelan-pelan mencoba menanyainya. Hasilnya, bak petir menggelegar di siang bolong, Amoy mengaku telah digagahi oleh Wahyudi.
Penasaran, Al kemudian memanggil Wahyudi dan mengkonfrontir pengakuan Amoy. Ternyata benar, Wahyudi mengakui telah menodai Amoy sekitar bulan Mei lalu di dalam kamar mandi lantai tiga sebuah komplek di Nagoya. Setelah mendengar penuturan Wahyudi, terang saja Al tak terima dan memilih membawa masalah asusila itu ke pihak berwajib.
Mandi Tidak Kunci Pintu Kamar Mandi, Amoy Dicabuli
Wahyudi Dana Saputra (40), nekat berbuat cabul terhadap keponakan majikannya berinisial Sn (24), untuk melampiaskan nafsunya, setelah melihat amoy usia 25 tahun itu mandi tanpa mengunci pintu kamar mandi.
Perbuatan tak senonoh itu dilakukan saat Sn sedang mandi sekitar pukul 17.00 WIB awal Juni lalu. Kasus ini baru dilaporkan ke polisi pada Sabtu (19/6) lalu oleh paman korban berinisial Al setelah curiga dengan sifat korban yang terkesan murung di rumah.
Wahyudi berkilah tak berniat mencabuli korban yang tinggal serumah dengannya bersama pekerja lain di salah satu rumah makan di kawasan Nagoya itu. “Kebetulan saja pas saya naik ke lantai tiga dan memergokinya lagi mandi,” ujar ayah tiga putri ini di Mapolsek Lubukbaja Minggu (20/6).
Tergiur akan kemolekan tubuh korban yang mandi tanpa mengunci pintu kamar mandi itu, Wahyudi tanpa pikir panjang langsung masuk dan mendekap gadis belia tersebut. Ia mengaku tak menyia-nyiakan waktu. Pipi sang amoy langsung diciuminya sementara tanganya terus 'gentayangan' di tubuh korban.
“Korban tak berteriak atau melawan. Hanya 3 menit saya langsung keluar dari kamar mandi,” tuturnya.
Ia tak menyangka kalau perbuatannya itu dipergoki salah satu temannya berinisial By. Menurut Kapolsek Lubukbaja AKP Didik Erfianto, By melihat pelaku keluar dari kamar mandi tersebut di saat korban masih mandi.
By lalu menceritakan peristiwa itu ke Al, paman korban. Al lantas memanggil dan menanyakan hal itu kepada korban. “Korban mengaku kalau saat mandi ia dicabuli,” tutur Didik di Mapolsek Minggu (20/6).
Sebelum dipolisikan, pelaku langsung dipanggil dan diinterogasi teman-temannya serta keluarga korban. Ia tak bisa membela diri. Mereka langsung marah dan memukulnya serta menyerahkannya ke polisi.
Mandi Tidak Kunci Pintu Kamar Mandi, Amoy Dicabuli
Wahyudi Dana Saputra (40), nekat berbuat cabul terhadap keponakan majikannya berinisial Sn (24), untuk melampiaskan nafsunya, setelah melihat amoy usia 25 tahun itu mandi tanpa mengunci pintu kamar mandi.
Perbuatan tak senonoh itu dilakukan saat Sn sedang mandi sekitar pukul 17.00 WIB awal Juni lalu. Kasus ini baru dilaporkan ke polisi pada Sabtu (19/6) lalu oleh paman korban berinisial Al setelah curiga dengan sifat korban yang terkesan murung di rumah.
Wahyudi berkilah tak berniat mencabuli korban yang tinggal serumah dengannya bersama pekerja lain di salah satu rumah makan di kawasan Nagoya itu. “Kebetulan saja pas saya naik ke lantai tiga dan memergokinya lagi mandi,” ujar ayah tiga putri ini di Mapolsek Lubukbaja Minggu (20/6).
Tergiur akan kemolekan tubuh korban yang mandi tanpa mengunci pintu kamar mandi itu, Wahyudi tanpa pikir panjang langsung masuk dan mendekap gadis belia tersebut. Ia mengaku tak menyia-nyiakan waktu. Pipi sang amoy langsung diciuminya sementara tanganya terus 'gentayangan' di tubuh korban.
“Korban tak berteriak atau melawan. Hanya 3 menit saya langsung keluar dari kamar mandi,” tuturnya.
Ia tak menyangka kalau perbuatannya itu dipergoki salah satu temannya berinisial By. Menurut Kapolsek Lubukbaja AKP Didik Erfianto, By melihat pelaku keluar dari kamar mandi tersebut di saat korban masih mandi.
By lalu menceritakan peristiwa itu ke Al, paman korban. Al lantas memanggil dan menanyakan hal itu kepada korban. “Korban mengaku kalau saat mandi ia dicabuli,” tutur Didik di Mapolsek Minggu (20/6).
Sebelum dipolisikan, pelaku langsung dipanggil dan diinterogasi teman-temannya serta keluarga korban. Ia tak bisa membela diri. Mereka langsung marah dan memukulnya serta menyerahkannya ke polisi.
