Egoisme Seorang Amoi Yang Bersikeras Pacaran Dengan Lelaki Fankui





Kadang saya sedih terhadap pilihan keliru seorang Amoi yang didekati dua lelaki, seorang Fankui yang ramah dan seorang Akhew yang agak kasar, tetapi ia malah memilih si Fankui untuk jadi suami. Ini karena anggapan dangkal : "walau fankui asal dia baik, ramah, dan bertanggung jawab, nanti ke depanya bahagia". Pemikiran singkat ini sangat membahayakan, artinya si Amoi ini tidaklah mementingkan bagaimana kelak anaknya terlahir. Ia tidaklah mempedulikan anaknya kelak akan menjadi fankui secara status dan 80% dari fisiknya, sehingga terdegradasi dari kehidupan masyarakat Tionghoa. Saya rasa nantinya si anak haram ini pun bakal tidak bahagia terlahir sebagai Fankui dari rahim Amoi, dia malah akan jadi bahan hinaan dari keluarga ibunya. Nah dimanakah hati nurani Amoi bodoh yang lebih memilih kawin dengan lelaki Fankui asalakan si Fankui ramah? Lupakanlah pembodohan "cinta bahagia" yang kekanak-kanakan dan sejumlah peribahasa kacangan lainnya. Ingat, anak-cucu ini titipan dari leluhur, tugas kita untuk membentuk manusia baru sesuai fisik leluhur kita. Tidak kah kita (para Amoi) berterima kasih pada ibu kita karena melahirkan kita sebagai wanita Tionghoa? Coba kalian pikirkan rasanya bila kalian ini seorang Fanpoh yang beribukan Tionghoa asli, namun tak dianggap di lingkungan ibu kalian !!!

Ada beberapa hal yang saya ingin luruskan, mungkin ini yang menjadi salah paham kebanyakan orang, harus diwaspadai oleh para jie jie mei mei kita. Banyak orang salah anggapan bahwa fankui itu banyak dari mereka yang keliatannya lebih "ramah" daripada para Akhew. Kenapa? Karena Fankui ini lebih cenderung menjadi "smooth talker" (pandai gombal). Memang bisa bikin wanita berbunga-bunga dan senang, tapi bukan itu yang penting bukan? Para Akhew kebanyakan memang kelihatan lebih "cuek", lebih terlihat menjaga gengsi dan harga dirinya daripada jatuh menjadi Akhew murahan yang "smooth talker". Tapi apakah gunanya kalau menjadi smooth talker kalau Fankui cuma mau menipu jie jie mei mei kita atau cuma hanya ingin sex dengan Amoi? Kita hidup di alam nyata, bukan alam sinetron atau opera sabun yang cenderung lebay dan smoothtalker. Tolong sadarilah.

Banyak sekali di antara kita yang kesulitan (merasa berat hati) untuk menegur sahabat Amoi kita yang tengah menjalin asmara dengan lelaki Fankui, karena si Fankui pandai berakting menjadi lelaki romantis dan pengertian. Ini bukan masalah baik (pengertian) atau tidaknya si lelaki Fankui. Ini masalah kehormatan Tionghoa, lebih jauh lagi ini adalah masalah pelestarian populasi Tionghoa. Amoi yang menikahi Fankui jelas akan membunuh satu generasi Tionghoa. Apa jadinya bila kita terus memaklumi Amoi yang kawin dan senggama dengan Fankui? Namun sebaiknya kita juga jangan terlalu frontal (terang-terangan) untuk memutus hubugan haram tersebut. Kalian bisa pelan-pelan memberi kisah-kisah keagungan bangsa Tionghoa, lalu pelan-pelan kamu jelaskan tentang aturan tradisi kita. Jelaskan juga tentang teori genosida (pemusnahan etnik) lewat kawin campur 【baca ini : Sistem Genosida (Cleansing Ethnic) terhadap Tionghoa Melalui Desakan Kawin Campur Amoi dengan Lelaki Pribumi Fankui】, sembari kalian beri beberapa contoh nyata kasus asimilasi yang akhirnya si pihak Amoi dirugikan. Terakhir, kamu coba kenalkan dia pada lelaki Akhew yang lebih berperilaku baik, untuk membuka matanya. Saya rasa remaja-remaja Amoi berusia di bawah 20 tahun masih ada kesempatan lepas dari jurang neraka asimilasi, yang bahaya bila Amoi umur diatas 25 tahun berpacaran dengan Fankui, kemungkinan besar pasti kawin dan senggama dengan si pacar Fankui nya yang cabul. Semoga saran saya berguna.