Penyesalan akibat “Menikah dengan saudara SEIMAN”



Pergaulan berdasarkan nilai ideal dan ajaran agama tidak selamanya membuahkan kebahagiaan. At least bagiku. Inilah kisah pahitku pernah bersedia dinikahi oleh seorang pemuda batak.

Nama saya Linda, marga Yang. Aku lahir di Jakarta, Januari 1970. Keluarga kami adalah keluarga Katolik sederhana. Papa berasal dari Medan, mama berasal dari Solo. Sejak kecil, saya dibesarkan di lingkungan “open-minded” dan beragam. Ajaran Tuhan Yesus membuat saya percaya bahwa manusia adalah sama, karena ciptaan Tuhan.

Papa sering bercerita tentang persahabatannya dengan orang-orang Batak. Sekalipun beretnis hokian, tetapi papa selalu dibantu oleh orang-orang Batak. Waktu meletus G30S-PKI, keluarga papa juga dilindungi oleh orang-orang Batak. Karena cerita-cerita positif seperti ini, saya memandang positif terhadap kaum Batak. Terlebih di gereja kami, berbagai ras & etnis berkumpul menjadi satu tubuh.

Singkat cerita, datanglah seorang pemuda Batak berkulit hitam. Sebelumnya ia beragama protestan dengan gereja HKBP-nya. Ia bernama Natanael.

Kami bertemu secara tidak sengaja, ketika teman-teman sedang berkumpul di Gajah Mada plasa. Natanael mulai sering menelponku. Bercanda, jalan-jalan ke Ancol, nonton bioskop, berdoa bersama dalam nama Tuhan Yesus. Ia juga akrab dengan teman-teman baik di kelompokku.

Papa-mama tidak keberatan dengan hubungan kami. Natanael bersikap amat santun & ramah terhadap orang tuaku. Kadang-kadang ia membawakan donut kesenangan mama. Ia sungguh pandai mengambil hati orang tuaku.

Ada seorang teman Chinese ku bernama Aliong. Tiba-tiba ia minta waktu untuk bicara denganku. Berdua saja. Kami bertemu di Dunkin Donut Jl. Hayam Wuruk. Ia tampak tegang. Ia membuka kalimat dengan permintaan maaf. Ia menanyakan seberapa serius hubungan saya dengan Natanael. Aku jawab, kami berencana akan menikah tahun depan. Ia tampak murung.

Aliong tampak mengumpulkan keberaniannya untuk menyampaikan sesuatu. Sekali lagi ia minta maaf.

Aliong bilang, ia mendengar obrolan tidak enak antara Natanael dan teman-teman bataknya. Kebetulan Aliong berasal dari Sumatera Utara dan mengerti bahasa Batak. Obrolan Natanael dan teman-teman bataknya itu kurang-lebih membicarakan aku, gadis Chinese. Menurut Aliong, obrolan mereka mesum. Seputar memek, tetek, sex etc. Aliong berkata, semua kegiatan intim antara saya dan Natanael dibicarakan secara terbuka di antara teman-teman bataknya.

Sontak saya marah sekali kepada Aliong. Semerta-merta saya menuding Aliong iri dan tidak tahu diri. Dengan kemarahan, saya meninggalkan Aliong duduk sendiri.

Sejak hari itu, Aliong tidak lagi bersama kelompok kami. Aku sendiri tidak pernah merasa kehilangan teman yang sedemikian jahat, menurut pikiranku saat itu. Toh, teman-teman lain menyetujui hubungan cinta kami. Mereka selalu mendukung mencari solusi jika saya ‘berantem’ dengan Natanael.

Akhirnya saya menikah dengan Natanael. Setelah menikah, papa banyak membantu pekerjaan Natanael. Setelah dua tahun, kehidupan ekonomi kami sudah membaik. Tetapi kami sepakat belum akan memiliki momongan.

Kami konsentrasi untuk memperkuat kehidupan ekonomi kami. Seiring dengan itu, Natanael mulai sering pulang telat. Alasannya karena kesibukan yang kian meningkat. Aku percaya saja.

Natanael juga mulai tidak mau memakai pakaian yang mulai lusuh. Alasannya demi citra bisnis. Rambutnya selalu rapih. Kesibukan itu jelas terlihat di rumah. Jika ia tidak keluar malam, ia sibuk ber-sms ria dengan rekan bisnisnya. At least, begitulah pengakuannya.

Perilakunya mulai aneh. Sebagai wanita, saya mulai curiga. Suatu malam, saya mencium aroma parfum yang tidak biasa. Saya mulai mencecarnya. Tiba-tiba satu tamparan mendarat di wajah saya. “Diam kau perek cina…!!!” bentak Natanael. Bagaikan halilintar. Saya tidak tahu apa yang terjadi saat itu.

Sejak itu, kami mulai sering bersitegang. Pukulan bertubi-tubi mendarat di wajahku.

Jika tidak pukulan, cercaan keras menimpaku. Seringkali, kecinaanku dibawa-bawa. Sungguh pahit jika mengenang day-to-day masa-masa itu. Aku tidak kuat.

Singkat cerita, aku menggugat cerai. Harta papa yang dipakai buat modal tidak pernah kembali. Papa pasrah, karena tahu posisi kami sebagai Chinese lemah. Natanael sering membawa-bawa latar-belakang rasial ini.

Perceraian adalah solusi terbaik bagiku. Aku tidak tahan memiliki suami yang punya banyak selingkuhan dan ‘jajan’ di lokalisasi WTS. Aku berdoa setiap malam agar Tuhan Yesus memberiku ketabahan dan kekuatan menjalani semua cobaan ini. Aku tidak pernah akan dapat memaafkan manusia hina itu. Segalanya telah kuberikan, tetapi seperti itulah balasan yang kuterima. Aku hampir gila.

Papa memutuskan untuk mengirimku ke Singapura. Aku merasa nyaman tinggal di sini. Sekarang aku telah menikah lagi dengan seorang pemuda hokian Singapura. Kami mulai membuka restoran Cantonesse Food.

Andaikata, teman-teman chineseku dulu mengucilkan aku gara-gara berpacaran dengan pria pribumi, mungkin aku tidak akan pernah mengalami kehinaan dan kegetiran seperti itu. Sekarang, setiap kali aku ingat bagaimana ia menyetubuiku, aku mual. Melihat penampakan orang batak sudah cukup membuatku jijik. Mencium aroma badan khas batak membuatku ingin muntah. Aku hanya bisa berharap semoga adik-adikku perempuan Chinese tidak mengambil pilihan bodoh seperti yang pernah aku ambil.

GBU all