Bahaya Jejaring Sosial KASKUS Sebagai Propaganda Asimilasi dan Pelecehan Amoi Tionghoa


"Pertamaxx... Ini amoi, gan ?"...
"Minta nochan amoi donk !!"...
"Meki amoi mulus, gan !!"...
"Amoi cina bispak ya ?"...

Pernahkan anda mendengar kata-kata cabul kampungan tersebut di kaskus? Ya, selama saya menjelajah kaskus atau forum lainnya, seringkali para lelaki Fankui membuat topik kurang ajar, sengaja memposting foto amoi yang berwajah rupawan, lalu memfitnahnya sebagai wanita "bisa dipakai (bispak)". Dengan bodohnya seorang lelaki Fankui kadangkala tidak tahu definisi amoi, lalu ia mempost satu foto pelacur Fanpoh berkulit putih atau keturunan Bule-Arab yang juga putih, dan mengatakan kalau wanita itu Amoi. Saya rasa para Fankui menganggap kita Tionghoa satu ras dengan mereka, tidak ada perbedaan asal muasal leluhur, yang ada hanya status "orang Indonesia". Sehingga seakan-akan definisi Amoi di kalangan Fankui ini melebar ngawur menjadi wanita cantik berkulit putih yang selama ini mereka impikan untuk disetubuhi, baik berwajah oriental atau tidak.

Semua postingan rasis merendahkan wanita Tionghoa ini adalah progress umum dari thread-thread generik menjijikan yang biasa diposting oleh lelaki Fankui berotak cabul dan penuh fantasi akan kecantikan dan kemolekan tubuh mulus para Amoi. Sepengalaman saya menganalisa thread model begini, biasa sesekali aja ada yang bertanya mengapa Amoi tak suka Fankui, maka akan ditanggapi oleh berbagai kaskuser Fankui cabul yang memberi simulasi pengalaman cerita (entah itu benar atau tidak) kalau dirinya pernah pacaran dengan Amoi yang berawajah cantik dari keluarga kaya.

Menurut saya, kaskus ini bukan wadah jejaring sosial tanya jawab yang baik untuk kalangan Tionghoa, website ini lebih cocok untuk dipakai transakasi jual beli saja. Karena website ini tidak ada anjuran seperti Facebook yang mengharuskan orang memakai acount asli, jadi hampir semua user disini kemungkinan besar adalah fake. Bahayanya bila ada sister Amoi kita yang browsing di sini, mereka membaca thread busuk macam ini maka akhirnya mengira kalau dalam pergaulan masyarakat Indonesia itu ada sebuah keharusan kalau wanita Amoi menikah dengan lelaki Fankui. Saya sering mendapati kalau para faker Fankui di Kaskus ini umumnya beraliran fanatik extreme fasis Indon, mereka sedikit-sedikit memposting "emotion" berbendera Indon dan bilang untuk Indonesia. Seperti dalam thread cabul umumnya, saya melihat kalau ide fasis "persatuan (baca : pembauran paksa) Indon" dipakai para Fankui untuk invasi cabul mereka mencari Amoi.

Setelah saya analisa kembali beberapa opini bodoh dari asimilator Fankui dan Qiaosheng di kaskus, rata-rata mereka mengkambing-hitamkan agama Tao dan ajaran Konghucu sebagai penghambat asimilasi. Pada masa Orde Baru selama 32 tahun praktek sadis pemaksaan asimilasi kepada wanita Tionghoa agar berkawin dengan Fankui sama sekali tidak membuahkan hasil, malah semakin mempertinggi tingkat rasisme Fankui pada Tionghoa, ini dikarenakan pada dasarnya konseptual asimilasi adalah teori yang bodoh dan tidak logis. Karena kegagalan ini, lantas mereka mengkambing-hitamkan agama Tao dan ajaran Konghucu sebagai penghambat asimilasi. Mereka sok tau dan berasumsi kalau dalam agama tradisional Tionghoa terdapat tahayul yang mengatakan kalau wanita Amoi kawin dengan Fankui tidak akan mendapat “hoki”, mereka seakan-akan menggambarkan kalau kata "hoki" ini sangat rasis dan tak nasionalis Indonesia. Lalu para asimilator menyarankan agar para Amoi pindah agama mayoritas mereka yang katanya lebih “manusiawi” dan “modern” agar bisa berkawin dengan lelaki Fankui. Padahal sebenarnya gerakan anti-asimilasi ini menyangkut pelestarian populasi Tionghoa sekaligus menjaga kehormatan Tionghoa, tak ada takhayul apapun. Bahkan Tionghoa yang beragama Samawi pun berkewajiban mencegah asimilasi kawin campur wanita Amoi dengan lelaki Fankui, karena dalam setiap norma “agama yang baik” pasti membenarkan umatnya  untuk membela kehormatan bangsanya. Jadi ibaratnya tindak kejahatan pembunuhan (pemusnahan genetik) ini satu paket dengan pembunuhan budaya juga.

Dari kasus kebrutalan para kaskuser Fankui, menurut tanggapan saya sebenarnya hubungan Tionghoa dengan Fankui boleh saja, selama itu hanya sebatas teman atau relasi, namun jangan sampai overlap menjadi hubungan percintaan, apalagi persenggamaan. Perlu kita ketahui bahwa menjalin hubungan baik antar dua ras bukan berarti harus saling menyenggama wanita dari etnik lain. Dari sini kita bisa lihat begitu inferiornya pola pikir ras-ras terbelakang seperti Fankui yang terobsesi menyenggama para Amoi lewat isu "pembauran", jadi seakan-akan si Amoi kalau tak mau mempersembahkan keperawanannya untuk lelaki Fankui akan dicap rasis dan tak cinta negara. Sebaiknya Tionghoa segera buang status "Bangsa Indonesia" ini, karena hanya akan menjadi alat penindasan rejim NKRI pada Tionghoa. Ingat, identitas asli kita ini "Zhonghua Minzu 中華民族", kita hanya "warga negara Indonesia". Hal ini bisa kita lihat dalam mindset kaskuser Fankui yang memakai issue "Bangsa Indonesia" untuk meng-genosida dan bertindak cabul pada wanita ras minoritas.